Sumatra merupakan pulau besar paling barat di Indonesia. Tak hanya punya posisi yang unik, Pulau Sumatra juga masih asri dan menjadi habitat bagi berbagai satwa endemik. Pulau Sumatra diselimuti oleh hutan lebat, menghadirkan pegunungan yang menjulang tinggi, dan punya banyak sumber air seperti sungai serta danau.
5 Hewan Terancam Punah di Sumatra, Habitat Rusak Akibat Sawit

- Lima spesies di Sumatra seperti harimau, gajah, orang utan, badak, dan beruang madu kini terancam punah akibat kerusakan habitat yang didorong oleh ekspansi kebun sawit.
- Populasi hewan-hewan tersebut menurun drastis: harimau sekitar 568 individu, gajah 1.100 ekor, orang utan 14.000 individu, dan badak hanya tersisa sekitar 30 ekor di alam liar.
- Upaya konservasi seperti Sumatran Elephant Project dan SRAK Orangutan Indonesia terus dilakukan untuk mencegah kepunahan serta menjaga keseimbangan ekosistem hutan Sumatra.
Sayangnya, semua hal tersebut tak selamanya menjamin kehidupan hewan liar. Sebaliknya, ada banyak hewan terancam punah di Sumatra seperti harimau sumatra, gajah sumatra, hingga beruang madu. Populasi mereka kian menurun, habitatnya rusak, dan pasokan makanannya mulai hilang. Yuk, kenalan dengan mereka agar kamu makin peduli.
Table of Content
1. Harimau sumatra (568 individu)

Harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu-satunya subspesies harimau yang masih hidup di Indonesia. Namun, status tersebut tak membuat hidupnya sejahtera. Menurut data Forum Harimau Kita (FHK), pada 2025 diperkirakan hanya tersisa 568 individu harimau sumatra di alam liar. Mereka tersebar di 23 lanskap habitat yang luasnya 9 juta hektar dari 47 juta hektar luas Pulau Sumatra.
Hal tersebut mambuat harimau sumatra masuk ke kategori critically endangered (sangat terancam) berdasarkan data IUCN Red List. Salah satu hal yang mengancam populasi harimau sumatra adalah kerusakan habitat yang disebabkan oleh pembangunan kebun sawit secara masif. Ketika habitatnya rusak, kucing besar tersebut akhirnya berkonflik dengan manusia dan berakhir dibunuh.
2. Gajah sumatra (1.100 individu)

Saat ini, populasi gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) diperkirakan sekitar 1.100 ekor dan tersebar 22 lanskap habitat (sebelumnya 44 lanskap). Statusnya sama dengan harimau sumatra, yaitu masuk ke kategori critically endangered atau sangat terancam. Ancaman terbesar gajah sumatra adalah kerusakan habitat, konflik dengan manusia, dan perluasan kebun sawit.
Dilansir Mongabay, konflik gajah sumatra dengan manusia sering terjadi, salah satunya di Provinsi Aceh. BKSDA Aceh mencatat sudah terjadi lebih dari 200 kasus selama 2017 hingga 2019. Kasus tersebut melibatkan gajah yang masuk ke area pemukiman, gajah merusak ladang, hingga manusia menjerat gajah. Untungnya, berbagai upaya konservasi seperti Sumatran Elephant Project terus bermunculan.
3. Orang utan (sekitar 14.000 individu)

Terdapat dua spesies orang utan di Pulau Sumatra, yaitu orang utan sumatra (Pongo abelii) dan orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis). Dilasir WWF, populasi orang utan sumatra di alam liar sekitar 13,846 individu. Sementara itu, hanya tersisa 800 orang utan tapanuli di alam lair. Jika disatukan, populasi keduanya hanya tersisa sekitar 14,000 individu di alam liar.
Laman BKSDA Jawa Timur menjelaskan bahwa desakan kebun sawit menjadi salah satu ancaman terbesar bagi orang utan. Perlahan tapi pasti, hal tersebut bisa membunuh orang utan dalam skala yang besar. Untuk itu, upaya konservasi seperti Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Orangutan Indonesia 2019-2029 diharapkan bisa menyelamatkan orang utan dari jurang kepunahan.
4. Badak sumatra (30 individu)

Dicerorhinus sumatrensis atau badak sumatra merupakan spesies paling terancam di Pulau Sumatra. Menurut data IUCN Red List, hanya tersisa sekitar 30 individu di alam liar. Karena itu, spesies badak terkecil di dunia tersebut masuk ke kategori critically endangered (sangat terancam) dan tanpa adanya upaya konservasi ketat ia bisa punah dalam waktu dekat.
Penyebaran badak sumatra sebenarnya mencakup tiga daerah, yaitu Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Malaysia. Namun, badak sumatra terakhir di Malaysia sudah meregang nyawa pada 2019. Di sisi lain, populasi badak sumatra di Kalimantan sangat sulit di data, bahkan sempat dinyatakan punah. Di Sumatra, hewan tersebut menghuni Bukit Barisan Selatan, Gunung Leuser, hingga Taman Nasional Way Kambas.
5. Beruang madu (populasi tidak diketahui)

Hingga kini tak ada yang tahu berapa jumlah individu beruang madu yang masih hidup di alam liar. Meski begitu, hewan dengan nama ilmiah Helarctos malayanus tersebut tetap dikategorikan sebagai spesies terancam punah yang masuk ke kategori vulnerable. Penyebaran beruang madu juga cukup luas karena mencakup Pulau Sumatra, Bangladesh, China, hingga Kalimantan.
Dilansir iNaturalist, beruang madu merupakan spesies berukuran kecil dengan panjang 1-1.4 meter dan bobot maksimal sekitar 65 kilogram. Tubuhnya berwarna hitam dan ia punya corak berwarna putih di leher hingga dada. Ancaman terbesar beruang madu adalah perburuan liar, kerusakan habitat, dan predasi. Sejak dekade 1990an, populasi beruang madu juga sudah menurun hingga 35 persen.
Semua hewan terancam punah di Sumatra harus dijaga tanpa pandang bulu. Mau itu predator, primata berukuran besar, hingga beruang semuanya harus dijaga. Jika mereka punah, keseimbangan ekosistem akan terganggu dan alam akan menjadi kacau. Kepunahan hewan juga menjadi bukti kegagalan berbagai pihak dalam melakukan upaya konservasi.
FAQ Seputar Hewan Terancam Punah di Sumatra
| Apa saja contoh nyata dari program penangkaran semi-alami yang sukses menyelamatkan badak sumatra dari kepunahan? | Salah satu contoh paling sukses adalah Suaka Rhino Sumatera (SRS) yang berada di Taman Nasional Way Kambas. Di fasilitas penangkaran semi-alami ini, para ilmuwan dan konservasionis berhasil membiarkan badak hidup di habitat aslinya yang dipagar secara aman, sehingga berhasil melahirkan beberapa anak badak sumatra (seperti Andatu, Delilah, dan Sedah Mirah) untuk menambah populasi mereka secara genetik. |
| Mengapa perluasan kebun kelapa sawit secara spesifik sangat merusak jalur migrasi gajah sumatra dibandingkan komoditas lainnya? | Kelapa sawit ditanam dalam skala monokultur yang sangat masif dan kerap memotong wilayah jelajah (home range) gajah. Selain menghancurkan tanaman pangan alami mereka, perkebunan sawit biasanya dilengkapi dengan parit isolasi atau pagar listrik yang memblokir jalur migrasi tradisional gajah. Akibatnya, gajah terjebak di area sempit dan terpaksa masuk ke pemukiman warga demi mencari makan. |
| Apa perbedaan fisik atau perilaku yang paling mencolok antara orang utan sumatra (Pongo abelii) dan orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis)? | Secara fisik, orang utan tapanuli memiliki bulu yang lebih keriting, tengkorak dan tulang rahang yang lebih pipih/sempit, serta jantan memiliki panggilan jarak jauh (long call) dengan nada yang lebih tinggi dan durasi berbeda dibandingkan orang utan sumatra. Selain itu, perilaku makan orang utan tapanuli juga unik karena mereka diketahui memakan jenis ulat dan biji cemara yang jarang disentuh spesies lain. |
| Mengapa beruang madu sangat penting bagi kelestarian hutan Sumatra, dan apa peran ekologis utamanya? | Beruang madu berperan penting sebagai agen penyebar biji-bijian buah berukuran besar ke seluruh hutan. Selain itu, karena gemar mencakar pohon untuk mencari madu atau membongkar rayap/semut, mereka menciptakan rongga pohon yang nantinya menjadi tempat bersarang bagi burung enggang atau tupai, sekaligus membantu mempercepat proses dekomposisi kayu mati di lantai hutan. |




![[QUIZ] Kami Tahu Sifat Asli Kamu Sebenarnya dari Permata yang Dipilih](https://image.idntimes.com/post/20220927/edz-norton-lvd5b63876g-unsplash-c471a1d3da7de9cfa23c5368d33f03b1.jpg)















