6 Fakta Masjid Al-Aqsa, Situs Suci yang Menjadi Kebanggaan Palestina

- Masjid Al-Aqsa di Yerusalem merupakan kompleks suci seluas 14 hektar yang mencakup berbagai bangunan bersejarah, termasuk Masjid Al-Qibli dan Kubah Shakhrah, menjadi pusat spiritual tiga agama besar.
- Sejak masa Nabi Sulaiman hingga era modern, Al-Aqsa mengalami banyak perubahan kekuasaan dan pemugaran, namun tetap menjadi simbol perjuangan serta identitas rakyat Palestina.
- Saat ini, pengelolaan Al-Aqsa berada di bawah Wakaf Islam dengan pengawasan Yordania, sementara status politiknya masih menjadi isu sensitif dalam konflik Israel-Palestina yang terus berlangsung.
Palestina bukan sekadar negara di Timur Tengah yang memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan kedaulatannya, melainkan tanah yang menyimpan kekayaan spiritual dan budaya yang luar biasa. Negara ini begitu populer di mata dunia karena ketangguhan rakyatnya, kelezatan kulinernya, hingga keindahan situs-situs bersejarahnya yang tak lekang oleh waktu. Di antara sekian banyak daya tariknya, ada satu ikon yang selalu menjadi pusat perhatian dan kerinduan jutaan orang, yaitu Masjid Al-Aqsa yang berdiri megah di kota suci Yerusalem.
Lantas, mengapa Masjid Al-Aqsa dianggap sebagai jantung dari Palestina dan apa saja fakta unik di balik tembok-tembok bersejarahnya? Mari kita telusuri!
1. Definisi "Al-Aqsa" yang sebenarnya

Secara harfiah, Masjid Al-Aqsa berarti "masjid terjauh", sebuah nama yang diambil dari Al-Qur'an untuk menggambarkan tempat sujud yang diberkahi Allah di Yerusalem. Istilah "masjid" di sini tidak hanya merujuk pada satu bangunan saja, melainkan mencakup seluruh area lapangan terbuka seluas 14 hektar yang juga dikenal dengan nama Baitul Maqdis atau Haram ash-Sharif. Meskipun sering terjadi kebingungan antara kompleks luas ini dengan Masjid Al-Qibli (Jami' Al-Aqsha) yang memiliki kubah abu-abu gelap di sisi selatan sebagai tempat utama salat berjamaah, dan Kubah Shakhrah (Dome of the Rock) dengan kubah emasnya yang ikonik di bagian tengah, tetapi sejarah mencatat bahwa sejak masa awal, nama Al-Aqsa mencakup seluruh kawasan suci tersebut sebagai pusat ibadah yang mulia.
Selain bangunan utama, kompleks Al-Aqsa juga dilengkapi dengan berbagai situs bersejarah seperti Musala Al-Marwani yang merupakan ruang bawah tanah luas, Museum Islam yang menyimpan koleksi Al-Qur'an kuno, kubah-kubah kecil, menara, air mancur, serta gerbang-gerbang kuno yang mengelilingi temboknya. Di sisi barat kompleks, terdapat Tembok Ratapan (Tembok Burak) yang memiliki nilai sakral tinggi bagi umat Yahudi sebagai sisa tembok kuno Bait Suci, sekaligus diyakini umat Islam sebagai tempat ditambatnya tunggangan Nabi Muhammad SAW saat peristiwa Isra Mi'raj. Seluruh elemen ini menjadikan Al-Aqsa sebagai situs spiritual yang sangat kompleks dan menjadi jantung peradaban bagi banyak umat di dunia.
2. Berawal dari zaman para Nabi

Sejarah kompleks Masjid Al-Aqsa bermula dari masa para Nabi, di mana Nabi Sulaiman membangun Bait Suci pertama yang kemudian dihancurkan dan dibangun kembali oleh generasi berikutnya. Selama berabad-abad, wilayah ini menjadi saksi pergantian kekuasaan yang dramatis, mulai dari kekaisaran Romawi yang sempat mengusir umat Yahudi dan mengubah kota menjadi pusat penyebaran Kristen, hingga masa Persia yang singkat. Di bawah kendali Romawi dan Kristen, situs ini sempat mengalami masa-masa pengabaian bahkan pernah dijadikan tempat pembuangan sampah sebelum akhirnya memasuki babak baru di bawah naungan Islam.
Titik balik penting terjadi pada tahun 637 M saat Khalifah Umar bin Khattab mengambil alih Yerusalem dan membersihkan area suci ini untuk membangun tempat ibadah umat Muslim. Meskipun sempat dikuasai tentara Salib dan diubah menjadi istana serta gereja, tetapi pahlawan Islam Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil merebutnya kembali dan mengembalikan fungsinya sebagai masjid. Hingga era modern, kompleks ini tetap menjadi pusat perhatian dunia dan simbol perjuangan rakyat Palestina, terutama setelah wilayah tersebut berada di bawah kendali Israel pasca-Perang Enam Hari yang sering kali memicu ketegangan politik dan agama hingga saat ini.
3. Perpaduan arsitektur Bizantium dan Romawi

Masjid Al-Aqsa merupakan mahakarya arsitektur Islam awal yang menggabungkan keindahan gaya Bizantium dan Romawi. Bangunan utama yang terletak di sisi selatan kompleks ini berbentuk persegi panjang megah dengan ciri khas kubah kayu berlapis timah berwarna abu-abu perak. Pada bagian depan atau fasadnya, terdapat 14 lengkungan batu yang kokoh, sementara struktur dalamnya ditopang oleh perpaduan kolom marmer putih dan pilar-pilar tebal yang menciptakan tujuh lorong panjang untuk area salat jemaah.
Keindahan interior masjid ini mencerminkan sentuhan berbagai dinasti besar, mulai dari Umayyah, Fatimiyah, hingga Mamluk, yang melakukan pemugaran setelah peristiwa gempa bumi dan kebakaran di masa lalu. Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan mosaik yang detail, ukiran kayu yang rumit, serta lukisan dinding dari abad ke-14 yang masih terjaga. Salah satu elemen paling bersejarah adalah keberadaan mihrab dari zaman Shalahuddin Al-Ayyubi yang menjadi simbol kemenangan dan kembalinya fungsi masjid tersebut bagi umat Islam.
4. Masjid suci ketiga yang dicintai umat Islam

Dalam pandangan Islam, Masjid Al-Aqsa memiliki kedudukan yang sangat mulia sebagai masjid suci ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Keistimewaan ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW melalui anjuran untuk mengunjunginya secara khusus guna beribadah, di mana setiap salat di dalamnya dijanjikan pahala yang berlipat ganda. Selain itu, Al-Qur'an secara eksplisit menyebut Al-Aqsa sebagai tanah yang diberkahi sekelilingnya, menjadikannya simbol keberkahan yang tidak hanya terbatas pada bangunannya, tetapi juga mencakup seluruh wilayah di sekitarnya.
Secara historis dan spiritual, Masjid Al-Aqsa memegang peran krusial sebagai kiblat pertama umat Islam selama belasan bulan sebelum akhirnya diperintahkan berpindah ke arah Ka'bah. Tempat ini juga menjadi saksi sejarah peristiwa Isra Mi'raj, yakni titik akhir perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Makkah dan tempat beliau mengimami para nabi sebelum naik ke langit ketujuh. Sebagai masjid kedua yang dibangun di muka bumi setelah Masjidil Haram, Al-Aqsa tetap menjadi jantung spiritual dan identitas yang mendalam bagi umat Muslim di seluruh dunia.
5. Nilai spiritual bagi Yahudi dan Kristen

Bagi umat Yahudi, kompleks Masjid Al-Aqsa yang disebut sebagai Bukit Bait Suci adalah tempat paling sakral karena diyakini sebagai pusat kehadiran Tuhan di dunia. Situs ini memiliki makna mendalam karena adanya Batu Fondasi, yang dianggap sebagai titik awal penciptaan dunia serta lokasi peristiwa penting para nabi, seperti kisah Nabi Ibrahim dan mimpi Nabi Yakub. Karena kesuciannya yang sangat tinggi, banyak umat Yahudi yang sangat berhati-hati saat berkunjung agar tidak menginjak area yang dianggap sebagai ruang mahakudus, sembari meyakini bahwa di masa depan akan berdiri Bait Suci ketiga di lokasi tersebut.
Di sisi lain, umat Kristen mengenal nilai penting tempat ini melalui catatan dalam Alkitab sebagai lokasi berbagai peristiwa dalam kehidupan Yesus (Nabi Isa). Namun, setelah hancurnya Bait Suci kedua pada tahun 70 M, pandangan umat Kristen mulai bergeser dan menganggap kejadian tersebut sebagai pemenuhan nubuat Alkitab. Seiring berjalannya waktu, pusat peribadatan umat Kristen di Yerusalem lebih terfokus pada Gereja Makam Kudus, sehingga kompleks Bukit Bait Suci sempat terabaikan dalam sejarah Kekristenan sebelum akhirnya masuk ke masa kepemimpinan Islam.
6. Al-Aqsa saat Ini: simbol keteguhan yang terus diuji

Saat ini, administrasi Masjid Al-Aqsa berada di bawah pengawasan Lembaga Wakaf Islam yang didukung oleh Yordania, meskipun Israel memegang kendali keamanan di wilayah tersebut. Status kepemilikan kompleks ini tetap menjadi isu paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina, di mana Palestina menginginkan kedaulatan penuh atas Yerusalem Timur. Untuk menjaga ketertiban, Israel sering menerapkan pembatasan akses masuk berdasarkan usia dan domisili bagi warga Palestina, sementara umat Yahudi umumnya dilarang berdoa secara terang-terangan di dalam kompleks demi menjaga status quo dan menghindari ketegangan yang lebih luas.
Kondisi di lapangan sering kali memanas akibat berbagai insiden, seperti kunjungan tokoh politik yang provokatif dan proyek penggalian arkeologi di sekitar fondasi masjid. Peristiwa besar seperti Intifadah Al-Aqsa pada tahun 2000 menunjukkan betapa cepatnya ketegangan di area ini bisa berubah menjadi perlawanan rakyat berskala besar. Bagi umat Islam, proyek penggalian yang dilakukan Israel di bawah tanah kompleks dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas bangunan masjid, sehingga Al-Aqsa terus menjadi simbol perjuangan yang krusial bagi rakyat Palestina dan dunia Islam hingga hari ini.
Masjid Al-Aqsa adalah simbol keteguhan iman dan identitas bangsa Palestina yang sangat dalam. Dari sejarahnya yang panjang hingga arsitekturnya yang megah, seluruh area suci ini menyimpan pesan tentang keberkahan yang diakui oleh berbagai peradaban dunia. Menjaga kelestarian dan memahami nilai penting Al-Aqsa adalah bentuk penghormatan kita terhadap warisan suci yang tak ternilai harganya ini.

![[QUIZ] Tebak Hewan yang Memiliki Gigitan Terkuat, Pernah Bertemu?](https://image.idntimes.com/post/20250417/788-06da9cb21925c208b6c5f4982411b31d-e48b6c2007ee46de724fcbed6735d9c1.jpeg)













![[QUIZ] Apakah Kucing Kamu Menyukai dan Menyayangimu? Cek dari Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20240719/kuis-apakah-kucingmu-mencintaimu-8-e5e9e5fc3f4e2e45aa2adf6d01fe5a7d.jpg)


