6 Fakta Masjid Nabawi yang Jadi Saksi Sejarah Islam di Madinah

Madinah adalah kota suci di bagian barat Arab Saudi, letaknya tidak jauh dari Laut Merah dan berjarak sekitar 445 kilometer dari Mekah. Kota ini sangat istimewa karena di sinilah Nabi Muhammad saw. membangun komunitas Muslim pertama setelah hijrah dari Mekah pada tahun 622 M. Selain itu, Madinah juga menjadi tempat peristirahatan terakhir Rasulullah saw.
Sebagai kota suci kedua bagi umat Islam, Madinah dikenal memiliki banyak bangunan bersejarah yang ikonik, mulai dari Masjid Quba yang bersahaja hingga Masjid Nabawi yang sangat megah dengan Kubah Hijaunya. Menariknya, meskipun musim haji telah usai, langkah kaki jemaah dari seluruh penjuru dunia tidak pernah berhenti memadati pelataran Masjid Nabawi. Ribuan orang dari berbagai bangsa datang silih berganti setiap harinya untuk sekadar bersujud atau melepas rindu pada sang Baginda Nabi Muhammad saw.
Lantas, apa sebenarnya yang membuat masjid ini begitu magnetis dan selalu dirindukan oleh jutaan orang sepanjang tahun? Mari kita telusuri lebih dalam berbagai fakta menakjubkan dan sisi lain dari Masjid Nabawi dalam artikel berikut ini!
1. Pertama kali dibangun oleh Nabi Muhammad saw.

Masjid Nabawi pertama kali dibangun oleh Nabi Muhammad saw. pada tahun 622 M setelah beliau tiba di Madinah. Masjid ini didirikan di atas lahan tempat pengeringan kurma milik dua anak yatim yang kemudian dibeli oleh Nabi. Pada awal pembangunannya, struktur masjid sangat sederhana dengan dinding tanah liat, tiang dari batang kurma, dan atap dari daun kurma. Seiring berjalannya waktu, para Khalifah setelah Nabi, mulai dari Abu Bakar, Umar, hingga Utsman bin Affan, terus memperluas bangunan ini dengan material yang lebih kokoh seperti batu dan kayu jati untuk menampung jumlah jemaah yang terus bertambah.
Memasuki zaman pertengahan hingga era modern Kerajaan Arab Saudi, Masjid Nabawi mengalami transformasi besar-besaran menjadi salah satu bangunan termegah di dunia. Salah satu ciri khasnya yang paling ikonik, yaitu Kubah Hijau di atas makam Nabi, yang mulai dicat dengan warna tersebut pada tahun 1837. Sejak tahun 1950-an hingga proyek besar terakhir di tahun 2012, pemerintah Saudi terus memperluas area masjid hingga mencapai jutaan kaki persegi. Kini, masjid yang dulunya sederhana tersebut telah dilengkapi dengan teknologi canggih dan halaman luas yang mampu menampung lebih dari 1,6 juta jemaah dari seluruh penjuru dunia.
2. Perpaduan arsitektur Ottoman dan inovasi modern

Arsitektur Masjid Nabawi saat ini merupakan perpaduan luar biasa antara desain tradisional Ottoman dan teknologi modern yang sangat fungsional. Bangunannya berbentuk persegi panjang dua tingkat dengan luas yang mencapai 100 kali lipat dari ukuran aslinya. Bagian luar masjid dihiasi dengan jendela melengkung yang cantik serta sepuluh menara yang menjulang setinggi 104 meter. Untuk kenyamanan pengunjung, akses menuju area atap yang luas telah dilengkapi dengan tangga dan eskalator modern, sementara area pelataran di sekeliling masjid dipenuhi payung raksasa yang berfungsi sebagai peneduh otomatis saat cuaca panas.
Di bagian dalam, interior masjid tampak sangat mewah dengan penggunaan marmer putih dan batu berwarna-warni yang dihiasi kaligrafi indah. Pilar-pilar masjid yang kokoh tidak hanya berfungsi sebagai penopang, tetapi juga dilengkapi dengan sistem ventilasi canggih di bagian dasarnya untuk mengatur suhu udara agar tetap sejuk. Semua teknologi ini dirancang khusus untuk memastikan jutaan jemaah dapat beribadah dengan tenang dan nyaman.
3. Raudhah: struktur ikonik Masjid Nabawi

Di sudut tenggara Masjid Nabawi, terdapat Makam Rasulullah saw. yang dulunya merupakan kamar istri beliau, Aisyah. Di tempat yang sama, dimakamkan pula dua sahabat terdekatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Area paling istimewa di dekat makam ini adalah Raudhah (Taman Surga), yakni wilayah kecil antara makam dan mimbar Nabi yang ditandai dengan karpet berwarna hijau. Karena diyakini sebagai tempat yang sangat mustajab untuk berdoa, area ini selalu dipadati jemaah meskipun kapasitasnya terbatas. Selain itu, masjid ini memiliki beberapa mihrab bersejarah, termasuk Mihrab Nabawi dan Mihrab Utsmani yang digunakan sebagai tempat imam memimpin shalat.
Seiring perluasan masjid yang masif, area pemakaman umum Baqi—tempat keluarga dan ribuan sahabat Nabi dimakamkan—kini letaknya menjadi bersebelahan langsung dengan halaman masjid. Fasilitas pendukung seperti mimbar pun telah berkembang pesat dari yang semula hanya berupa balok kayu kurma menjadi struktur yang lebih kokoh dan indah, mencerminkan perjalanan panjang sejarah Islam dari masa Nabi hingga era modern.
4. Ada makna dan sejarah di balik tiang-tiang Raudhah

Di dalam area Raudhah Masjid Nabawi, terdapat pilar-pilar atau tiang (usthuwaanah) yang memiliki sejarah khusus sejak zaman Rasulullah saw. Salah satunya adalah Tiang Aisyah yang merupakan tempat favorit para kaum Muhajirin berkumpul dan lokasi Nabi sering mengimami shalat. Ada juga Tiang Taubah (Abu Lubabah), yang menjadi saksi bisu saat seorang sahabat bernama Abu Lubabah mengikatkan dirinya pada tiang tersebut sebagai bentuk penyesalan hingga taubatnya diterima oleh Allah. Selain itu, terdapat Tiang Al-Mukhallaqah yang dikenal sebagai tempat yang selalu diberi wewangian dan merupakan lokasi Nabi Muhammad saw. melaksanakan shalat wajib setelah kiblat berpindah ke Ka'bah.
Selain tiang untuk ibadah, terdapat pula pilar yang memiliki fungsi sosial dan perlindungan. Tiang As-Sarir adalah tempat Nabi Muhammad saw. biasa meletakkan tempat tidur dari pelepah kurma saat beriktikaf, sementara Tiang Al-Hars (Penjagaan) menjadi tempat para sahabat, terutama Ali bin Abi Thalib, berjaga untuk melindungi Nabi sebelum turun ayat yang menjamin keamanan beliau langsung dari Allah. Terakhir, terdapat Tiang Al-Wufud yang digunakan Nabi Muhammad saw. sebagai tempat resmi untuk menyambut tamu dan utusan dari berbagai kabilah. Hingga kini, pilar-pilar ini tetap dirawat dan menjadi pengingat akan jejak kehidupan sehari-hari Sang Nabi di dalam masjid.
5. Memiliki kubah geser yang canggih

Masjid Nabawi dilengkapi dengan 27 kubah geser canggih yang memadukan keindahan seni tradisional Maroko dengan teknologi modern. Kubah-kubah rancangan arsitek Jerman Mahmoud Bodo Rasch beserta firmanya Rasch GmbH dan Buro Happold ini berfungsi sebagai sistem sirkulasi udara alami yang terbuka di malam hari agar udara dingin masuk dan panas keluar, lalu tertutup di siang hari untuk menjaga kesejukan udara dari AC di dalam masjid. Hebatnya, setiap kubah digerakkan oleh mesin listrik khusus di atas rel yang memungkinkan kubah raksasa tersebut terbuka atau tertutup secara otomatis hanya dalam waktu satu menit.
Material yang digunakan pada kubah ini sangat istimewa karena menggunakan teknologi serat karbon yang biasa dipakai pada pesawat terbang, tetapi tetap dihiasi ornamen mewah. Bagian dalamnya dilapisi kayu cedar ukiran tangan khas Maroko, lapisan emas, hingga batu mulia bernama amazonite. Berkat kecanggihan desain yang dikembangkan, proyek kubah geser Masjid Nabawi berhasil meraih penghargaan internasional sebagai salah satu inovasi arsitektur masjid terbaik di dunia.
6. Ada tradisi buka puasa bersama

Setiap bulan Ramadhan, Masjid Nabawi menyelenggarakan perjamuan buka puasa terpanjang di dunia yang melayani ratusan ribu orang secara gratis. Tradisi ini sangat luar biasa karena ribuan meter taplak plastik dapat digelar dalam hitungan menit, menyajikan kurma, roti, dan yogurt yang disiapkan oleh penduduk Madinah sebagai bentuk pengabdian. Untuk menikmati momen ini, jemaah disarankan datang 30–45 menit lebih awal, membawa perlengkapan pribadi seperti sajadah kecil, serta dianjurkan berbagi makanan ringan dengan jemaah di sekitarnya guna mempererat kebersamaan.
Agar kenyamanan dan kesucian masjid tetap terjaga, ada beberapa aturan penting yang harus dipatuhi. Jemaah dilarang membawa makanan berbau tajam, mengambil makanan secara berlebihan, serta dilarang keras membuang sampah sembarangan atau berebut tempat. Setelah berbuka, setiap jemaah bertanggung jawab menjaga kebersihan area shalat dan tetap menjaga ketenangan tanpa berbicara terlalu keras. Dengan mengikuti etika ini, suasana ibadah di Masjid Nabawi akan tetap khusyuk dan tertib bagi semua orang dari seluruh penjuru dunia.
Bukan sekadar bangunan megah dengan teknologi canggih, Masjid Nabawi merupakan saksi bisu perjuangan dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Keindahan arsitekturnya yang dipadukan dengan jejak sejarah para sahabat dan suasana spiritual yang menyejukkan, menjadikan masjid ini sebagai rumah kedua yang selalu dirindukan oleh jutaan umat Muslim dari seluruh dunia. Semoga dengan mengenal lebih dalam sisi unik dan sejarahnya, kunjungan kita ke Madinah kelak menjadi lebih bermakna dan berkesan, ya.


















