Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Gerhana Matahari Paling Aneh dalam Sejarah, Bukan Sekadar Gelap!
ilustrasi gerhana matahari paling aneh di dunia (unsplash.com/Abed Ismail)
  • Gerhana hibrida 20 April 2023 dapat berganti antara total dan cincin api karena geometri Matahari, Bulan, dan Bumi; gerhana total 22 Juli 2009 berlangsung hingga 6 menit 39 detik.
  • Gerhana 1919 mendukung prediksi relativitas umum Einstein lewat pengamatan pembelokan cahaya bintang, sementara gerhana total 2008 saat aktivitas Matahari minimum membantu studi korona.
  • Catatan kuno mengaitkan gerhana 585 SM dengan berhentinya perang Media-Lydia, serta gerhana 2136 SM dengan Ho dan Hi; NASA menegaskan hubungan dan detail kisahnya tidak pasti.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gerhana matahari mungkin terlihat seperti fenomena langit yang sederhana. Bulan bergerak di antara Matahari dan Bumi, lalu cahaya Matahari perlahan menghilang. Namun, selama ribuan tahun, manusia tidak pernah menganggapnya sesederhana itu. Ketika siang tiba-tiba berubah menjadi gelap, langit mendadak berubah warna, dan Matahari seakan kehilangan cahayanya—gerhana dapat terasa seperti pesan dari dunia lain.

Menariknya, beberapa gerhana dalam sejarah memang memiliki keanehan yang melampaui pemandangan langitnya. Ada yang secara astronomis bisa berubah dari gerhana total menjadi cincin api, ada yang berlangsung lebih dari enam menit, ada yang membantu menguji teori relativitas Einstein, hingga ada yang menurut catatan kuno membuat dua kerajaan menghentikan peperangan. Berikut enam gerhana matahari yang kisahnya paling aneh dan menarik untuk diketahui. Mari kita telusuri!

1. Gerhana hibrida, bisa berubah menjadi cincin api dan gerhana total

ilustrasi gerhana matahari hibrida (commons.wikimedia.org/P. Horálek, J. Sládeček, & M. Druckmüller)

Bayangkan sedang berada di bawah bayangan Bulan. Matahari mulai tertutup, cahaya semakin redup, lalu pada suatu titik Bulan tampak menutupi seluruh piringan Matahari. Tetapi di tempat lain sepanjang jalur gerhana yang sama, orang justru melihat sesuatu yang berbeda—sebuah lingkaran cahaya Matahari mengelilingi Bulan. Bagaimana mungkin satu gerhana memiliki dua wajah?

Fenomena tersebut dikenal sebagai gerhana matahari hibrida. Ia terjadi ketika ukuran tampak Bulan dan Matahari dari Bumi berada dalam kondisi yang sangat nyaris seimbang. Karena Bumi berbentuk bulat dan jarak Bulan terhadap permukaan Bumi berubah sepanjang lintasan bayangan, geometri gerhana dapat membuat satu bagian jalur mengalami fase total, sementara bagian lainnya mengalami fase cincin. Gerhana hibrida karena itu seperti berada tepat di batas antara dua jenis gerhana. NASA Eclipse Web Site mencatat gerhana 20 April 2023 sebagai gerhana hibrida dengan durasi fase sentral maksimum sekitar 1 menit 16 detik.

Keanehannya semakin terasa karena perubahannya terjadi bukan karena Bulan tiba-tiba berganti bentuk, melainkan karena geometri ruang tiga dimensi antara Matahari, Bulan, dan Bumi. Dari lokasi tertentu, Bulan tampak cukup besar untuk menutup Matahari sepenuhnya. Dari lokasi lain, ukurannya tampak sedikit lebih kecil sehingga menyisakan cincin cahaya. Jadi, jika gerhana total adalah pertunjukan “Matahari menghilang”, gerhana hibrida adalah pertunjukan ketika alam semesta seolah-olah belum memutuskan; apakah ingin menampilkan gerhana total atau ring of fire.

2. Gerhana 2009, mencatat rekor gelap terpanjang di siang hari

ilustrasi gerhana matahari terlama (commons.wikimedia.org/Alexandra)

Gerhana total biasanya berlangsung sangat singkat. Totalitas—ketika seluruh piringan Matahari tertutup Bulan—umumnya hanya berlangsung beberapa menit. Karena itu, gerhana 22 Juli 2009 menjadi salah satu gerhana paling spektakuler pada abad ke-21. Di titik dengan durasi maksimum, totalitas berlangsung sekitar 6 menit 39 detik, sebuah waktu yang terasa sangat panjang untuk sebuah fenomena yang biasanya berlalu begitu cepat.

Bayangan inti Bulan bergerak melintasi wilayah yang sangat luas, dimulai dari India kemudian melewati Nepal, Bangladesh, Bhutan, Myanmar, dan Tiongkok sebelum bergerak menuju Jepang serta Samudra Pasifik. NASA mencatat bahwa jalur totalitasnya membentang sekitar 15.200 kilometer dan mencapai lebar sekitar 258 kilometer pada kondisi gerhana maksimum. Wilayah yang berada di luar jalur totalitas tetapi masih terkena penumbra dapat menyaksikan gerhana sebagian, termasuk sebagian besar kawasan Asia Timur, Indonesia, dan Pasifik.

Salah satu alasan gerhana ini bisa berlangsung begitu lama adalah posisi Bulan yang sangat menguntungkan. Bulan berada dekat perige, yaitu titik orbitnya yang paling dekat dengan Bumi, hanya sekitar 4,5 jam sebelum gerhana. Akibatnya, diameter tampak Bulan relatif besar sehingga mampu menghasilkan bayangan total yang lebih lebar dan bertahan lebih lama. Menariknya, meskipun 6 menit 39 detik terasa luar biasa lama, gerhana ini bukan yang terpanjang sepanjang sejarah. Bahkan NASA mencatat sejumlah gerhana lain yang lebih panjang, termasuk gerhana 1973 dan 1919. Jadi, keanehan gerhana 2009 bukan karena ia memecahkan rekor sepanjang masa, melainkan karena ia memberikan salah satu pertunjukan totalitas terpanjang yang pernah dialami manusia pada abad ke-21.

3. Gerhana 1919 yang membuat Einstein terkenal di dunia

ilustrasi gerhana 1919 yang buat Einstein terkenal (commons.wikimedia.org/F. W. Dyson, A. S. Eddington, & C. Davidson)

Pada 29 Mei 1919, para astronom tidak hanya pergi melihat gerhana. Mereka pergi untuk menguji apakah alam semesta benar-benar bekerja seperti yang dibayangkan Albert Einstein. Teori relativitas umum yang dipublikasikan Einstein pada 1915 memprediksi sesuatu yang terdengar aneh pada masa itu; yakni gravitasi Matahari dapat membelokkan cahaya yang melintas di dekatnya.

Masalahnya, bagaimana cara membuktikannya? Jawabannya justru terdapat dalam kegelapan gerhana. Ketika Matahari tertutup Bulan, bintang-bintang yang posisinya tampak sangat dekat dengan Matahari dapat difoto. Para astronom kemudian membandingkan posisi bintang tersebut dengan posisi ketika Matahari tidak berada di dekat garis pandangnya. Jika Einstein benar, posisi tampak bintang akan sedikit bergeser, karena cahayanya dibelokkan oleh gravitasi Matahari. Dua ekspedisi Inggris melakukan pengamatan penting di Pulau Príncipe dan Sobral, Brasil, termasuk tim yang dipimpin Arthur Eddington dan Frank Dyson.

Hasil pengamatan yang diumumkan pada akhir 1919 mendukung prediksi Einstein tentang pembelokan cahaya. NASA mencatat peristiwa ini sebagai Einstein’s Eclipse. Sementara penelitian sejarah sains modern menunjukkan bahwa hasil 1919 menjadi bagian penting dari meningkatnya ketenaran Einstein dan perkembangan pengujian relativitas. Memang, analisis eksperimen tersebut kemudian menjadi bahan perdebatan mengenai kualitas data dan metode pengukurannya. Namun, terlepas dari perdebatan tersebut, gerhana 1919 tetap menjadi salah satu gerhana paling penting dalam sejarah sains, karena menjadikan gerhana Matahari sebagai laboratorium untuk menguji bagaimana gravitasi memengaruhi cahaya.

4. Gerhana 585 SM yang konon menghentikan peperangan

ilustrasi gerhana matahari yang bisa hentikan peperangan (unsplash.com/Justin Dickey)

Bayangkan dua pasukan sedang berhadapan di medan perang. Senjata telah siap, manusia sedang bertempur, lalu perlahan cahaya Matahari berubah. Langit semakin gelap. Pada siang hari, dunia tiba-tiba menyerupai malam. Bagi manusia modern, penyebabnya mudah dijelaskan. Bagi manusia pada abad ke-6 SM, peristiwa tersebut tentu bisa terasa seperti campur tangan kekuatan supranatural.

Menurut sejarawan Yunani Herodotus, hal tersebut terjadi ketika bangsa Media dan Lydia sedang berperang. Pada tahun yang oleh katalog NASA dipetakan sebagai 585 SM, gerhana Matahari terjadi ketika kedua pihak sedang bertempur. Herodotus menulis bahwa siang berubah menjadi malam dan kedua pihak kemudian menghentikan peperangan serta semakin terdorong untuk berdamai. NASA mencantumkan gerhana 28 Mei 585 SM tersebut sebagai Thales Eclipse, dengan durasi maksimum sekitar 6 menit 4 detik.

Kisah inilah yang kemudian membuat gerhana tersebut terkenal sebagai salah satu fenomena astronomis yang dikaitkan dengan berakhirnya sebuah perang. Bahkan Herodotus menyebut bahwa Thales dari Miletos telah meramalkan terjadinya perubahan siang menjadi malam tersebut. Namun, ada catatan penting; kita tidak boleh menyederhanakannya menjadi fakta bahwa “gerhana pasti menghentikan perang”. NASA sendiri mengingatkan bahwa pencantuman suatu peristiwa sejarah dalam katalog gerhana tidak otomatis membuktikan hubungan historisnya. Meski begitu, kecocokan antara perhitungan astronomis dan catatan Herodotus membuat kisah ini tetap menjadi salah satu cerita gerhana paling menarik dalam sejarah manusia.

5. Gerhana 2136 SM, dikaitkan dengan dua astronom mabuk

ilustrasi gerhana matahari yang pernah terjadi di Tiongkok (commons.wikimedia.org/A013231)

Jauh sebelum teleskop ditemukan, manusia sudah berusaha membaca pola pergerakan benda langit. Bagi kerajaan-kerajaan kuno, kemampuan memprediksi gerhana bahkan bisa menjadi persoalan serius karena fenomena langit dianggap memiliki hubungan dengan kehidupan politik dan nasib penguasa. Salah satu kisah paling terkenal berasal dari Tiongkok kuno dan berkaitan dengan dua astronom bernama Ho dan Hi.

NASA mencatat gerhana pada 22 Oktober 2136 SM dalam kalender astronominya sebagai peristiwa yang dikenal dengan kisah Ho and Hi, the Drunk Astronomers. Dalam catatan populer, keduanya dikisahkan gagal memprediksi gerhana karena mabuk atau lalai menjalankan tugas. Akibatnya, mereka kemudian disebut menerima hukuman mati. Namun, ada hal penting yang justru membuat cerita ini semakin menarik. NASA sendiri menegaskan bahwa kisah tersebut mungkin apokrifa, sehingga detail mengenai nasib Ho dan Hi tidak dapat dianggap sebagai fakta sejarah yang sudah pasti.

Meski demikian, gerhana tersebut menunjukkan sesuatu yang jauh lebih penting tentang peradaban kuno. Pada masa ketika manusia belum memahami mekanisme orbit seperti sekarang, kemampuan membaca langit memiliki nilai sosial dan politik yang sangat besar. Gerhana bukan hanya “pemandangan aneh”, melainkan fenomena yang bisa memengaruhi cara masyarakat menafsirkan kehendak langit. Bahkan kegagalan memprediksi sebuah gerhana dapat dikaitkan dengan kegagalan seorang pejabat menjalankan kewajibannya.

Menariknya, tanggalnya juga sering membingungkan pembaca modern karena sistem penanggalan BCE/SM dan sistem astronomi menggunakan konvensi tahun yang berbeda. NASA menampilkan tanggal astronomis -2136, yang dalam tabel sejarahnya dicantumkan sebagai 2137 BCE. Jadi, kisah “dua astronom yang dihukum karena gagal melihat gerhana” memang terkenal, tetapi tanggal dan detail ceritanya perlu disampaikan dengan hati-hati, agar tidak berubah menjadi legenda yang dianggap sebagai fakta mutlak.

6. Gerhana pernah terjadi saat Matahari sedang sangat tenang

ilustrasi gerhana matahari cincin di Tiongkok (commons.wikimedia.org/SCJiang)

Gerhana yang aneh tidak selalu berarti gerhana yang paling gelap atau paling lama. Kadang keunikannya justru berada pada kondisi Matahari itu sendiri. Gerhana total pada 1 Agustus 2008 terjadi ketika aktivitas Matahari berada di sekitar periode minimum dalam siklus aktivitas Matahari. Pada masa seperti ini, jumlah bintik Matahari dan wilayah aktif di permukaan Matahari relatif sedikit.

Kondisi tersebut menarik bagi ilmuwan karena selama gerhana total, Bulan bertindak seperti penutup alami yang menghalangi fotosfer Matahari. Bagian yang biasanya terlalu terang untuk diamati secara langsung menjadi lebih mudah dipelajari, terutama korona, yaitu atmosfer luar Matahari. Korona bukanlah permukaan padat, melainkan plasma panas yang sangat renggang dan dipengaruhi kuat oleh medan magnet Matahari. Pada periode aktivitas minimum, struktur korona dapat terlihat berbeda dibandingkan ketika Matahari sedang berada dalam fase aktivitas tinggi.

Gerhana 1 Agustus 2008 sendiri merupakan salah satu dari dua gerhana Matahari pada tahun tersebut, bersama gerhana cincin pada 7 Februari. Jalur gerhana total Agustus 2008 melintasi wilayah utara dunia, sementara sebagian besar wilayah di luar jalur totalitas mengalami gerhana sebagian. Dari sudut pandang manusia biasa, mungkin tidak ada yang terasa “aneh” selain Matahari menghilang beberapa menit. Tetapi bagi ilmuwan, justru kondisi Matahari yang relatif tenang membuat gerhana tersebut menjadi kesempatan untuk melihat atmosfer Matahari dalam keadaan yang berbeda. Seolah-olah Bulan membuka jendela kecil menuju lapisan luar bintang kita sendiri.

Dari keenam gerhana tersebut, terlihat bahwa keanehan gerhana Matahari tidak selalu terletak pada bentuknya. Gerhana hibrida menunjukkan betapa presisinya geometri Matahari, Bulan, dan Bumi. Gerhana 2009 memperlihatkan bagaimana posisi Bulan dapat membuat totalitas bertahan lebih dari enam menit. Sementara itu, gerhana 1919 bahkan membantu manusia menguji gagasan bahwa gravitasi dapat membelokkan cahaya.

Di masa lalu, manusia juga memberi makna yang jauh lebih besar kepada gerhana. Gerhana 585 SM dikaitkan dengan berhentinya perang antara Media dan Lydia, sedangkan kisah Ho dan Hi memperlihatkan betapa seriusnya posisi astronom kerajaan dalam membaca langit. Bahkan ketika penjelasan ilmiah belum tersedia, manusia sudah menyadari bahwa sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di atas kepala mereka.

Pada akhirnya, mungkin inilah hal paling aneh dari gerhana Matahari: sebuah bayangan yang hanya berlangsung beberapa menit mampu mengubah cara manusia melihat dunia selama ribuan tahun. Dahulu ia bisa dianggap pertanda dari para dewa. Kini ia menjadi laboratorium untuk menguji relativitas, mempelajari atmosfer Matahari, dan memahami dinamika tata surya. Langit yang sama, tetapi cara manusia memaknainya terus berubah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article