Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Fakta Korona Matahari, yang Terlihat saat Gerhana Matahari Total

4 Fakta Korona Matahari, yang Terlihat saat Gerhana Matahari Total
potret korona Matahari dalam bentuk cahaya putih yang mengelilingi matahari dan dapat dilihat saat terjadi gerhana Matahari total (commons.wikimedia.org/ESO)
  • Gerhana Matahari total 12 Agustus 2026 akan menampakkan korona, lapisan terluar atmosfer Matahari yang biasanya tertutup cahaya permukaannya.
  • Korona bersuhu 1–3 juta derajat Celsius, jauh di atas permukaan Matahari sekitar 5.500 derajat Celsius, tetapi redup karena kepadatannya sekitar 10 juta kali lebih rendah.
  • Struktur korona berubah mengikuti aktivitas medan magnet Matahari dan menjadi sumber angin Matahari; Parker Solar Probe telah terbang melaluinya untuk meneliti pemanasan ekstrem tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pada tanggal 12 Agustus 2026 ini, sejumlah wilayah di Greenland, Islandia, Rusia utara, Spanyol, Samudra Atlantik dan sebagian kecil wilayah Portugal akan menyaksikan fenomena astronomi gerhana Matahari total ketika Bulan berada di antara Matahari dan Bumi dalam satu garis lurus. Saat fenomena itu terjadi cahaya Matahari ke Bumi sesaat akan terhalang Bulan dan langit akan gelap seperti malam selama beberapa menit.

Salah satu hal yang paling menarik dari gerhana Matahari total adalah tampaknya korona Matahari dalam rupa cahaya putih yang mengelilingi Matahari selama terjadinya fenomena gerhana Matahari total tersebut. Menurut Nasa, korona Matahari adalah bagian terluar dari atmosfer Matahari yang membentang hingga jutaan km ke luar angkasa, namun tersembunyi oleh kecerahan ekstrem permukaan Matahari.

Korona Matahari terus menjadi topik penelitian menarik di kalangan para ilmuwan, hingga salah satu wahana antariksa nirawak NASA bernama Parker Solar Probe diluncurkan dan mencapai jarak paling dekat dengan matahari berhasil menguak sejumlah fakta yang sebelumnya hanya menjadi teori dan hipotesa. Penelitian Matahari adalah salah satu tantangan terbesar dalam penelitian luar angkasa karena Matahari adalah bola plasma panas dengan komposisi hidrogen dan helium yang sangat masif, panas dan bercahaya serta memiliki gravitasi yang sangat besar.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai karakteristik dari wilayah korona Matahari yang memiliki temperatur lebih panas dibandingkan dengan permukaan Matahari ini? Simak empat fakta menariknya berikut ini, yuk!

  1. 1. Memiliki suhu yang lebih panas dari permukaan Matahari

    potret wilayah korona Matahari yang diambil oleh misi NASA, TRACE
    potret wilayah korona Matahari yang diambil oleh misi NASA, TRACE (commons.wikimedia.org/NASA)

    Salah satu fakta menarik dari korona Matahari ini adalah wilayah ini memiliki suhu yang jauh lebih panas dari permukaan Matahari itu sendiri. Menurut laman Astronomy, suhu di wilayah korona Matahari berkisar antara 1 hingga 3 juta derajat Celcius, sedangkan suhu di permukaan matahari jauh lebih "rendah" yakni sekitar 5.500 derajat Celcius. Korona Matahari berada di lapisan terluar atmosfer Matahari yang artinya berada jauh dari permukaan Matahari.

    Hal tersebut telah menjadi sebuah paradoks yang telah membingungkan para ilmuwan selama beberapa dekade. Hipotesa berdasarkan penelitian awal yang dibuat oleh sejumlah ilmuwan mengenai hal ini adalah adanya partikel-partikel material yang sangat panas yang disebut sebagai "bom panas" yang bergerak dari permukaan Matahari ke bagian koronanya. Di wilayah korona, partikel-partikel "bom panas" tersebut meledak dan melepaskan energinya sebagai panas. Namun para astronom berpendapat bahwa faktor tersebut hanyalah salah satu dari banyak faktor mengenai bagaimana korona Matahari tersebut menjadi sangat panas.

  2. 2. Tersembunyi oleh kecermerlangan cahaya Matahari

    ilustrasi korona Matahari selama gerhana matahari total yang digambar oleh Astronom José Joaquín de Ferrer di abad ke-19
    ilustrasi korona Matahari selama gerhana Matahari total yang digambar oleh Astronom José Joaquín de Ferrer di abad ke-19 (commons.wikimedia.org/José Joaquín de Ferrer)

    Meskipun memiliki temperatur antara 1 hingga 3 juta derajat Celcius, korona Matahari memiliki tingkat kecemerlangan yang jauh lebih redup dari permukaan Matahari itu sendiri, karenanya lapisan korona Matahari tersebut tertutupi oleh kecermelangan cahaya Matahari itu sendiri. Sebagaimana yang diinformasikan dalam laman NASA Science, korona Matahari memiliki kepadatan sekitar 10 juta kali lebih rendah daripada permukaan Matahari. Kepadatan yang rendah tersebut membuat korona Matahari jauh lebih redup dibandingkan dengan permukaan Matahari. Korona tersebut hanya dapat dilihat dengan alat khusus bernama Coronagraph atau dapat diamati dengan mata saat terjadinya gerhana Matahari total.

    Korona Matahari membentang jauh ke luar angkasa dan dari korona tersebut muncul angin Matahari, sebuah aliran konstan bermuatan partikel yang bergerak melalui tata surya kita. Suhu korona Matahari menyebabkan partikel-partikelnya bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga partikel-partikel tersebut dapat lolos dari gravitasi Matahari. Laman Cloud Atlas melansir, ketika partikel-partikel angin matahari tersebut berinteraksi dengan medan magnet Bumi, langit kutub akan menyala dengan auroranya yang memesona.

  3. 3. Secara konstan berubah strukturnya

    pada tanggal 31 Agustus 2012, sebuah filamen panjang material surya melayang di area letusan korona
    pada tanggal 31 Agustus 2012, sebuah filamen panjang material surya melayang di area letusan korona (commons.wikimedia.org/NASA)

    Korona Matahari secara konstan berubah strukturnya karena adanya peningkatan medan magnet Matahari karena aktivitas yang disebut dengan solar dynamo. Menurut laman Science Direct, solar dynamo didefinisikan sebagai proses di mana Matahari menghasilkan medan magnetnya yang kuat melalui rotasi diferensial yang mengakibatkan pembalikan periodik polaritas magnetiknya yang terjadi kira-kira setiap 11 tahun dan dikenal dengan siklus Matahari. Siklus tersebut memengaruhi kemunculan fenomena aktivitas matahari lainnya seperti bintik matahari (sunspot) dan lontaran massa korona yang dikenal dengan badai Matahari.

    Badai matahari dapat mengganggu jaringan listrik dan komunikasi radio di bumi serta berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat pula memengaruhi burung yang sedang bermigrasi. Korona tak selalu terdistribusi secara merata di atas permukaan matahari. Selama periode tenangnya, korona terbatas pada sekitar wilayah khatulistiwa Matahari dengan lubang korona menutupi wilayah kutubnya. Selama periode aktifnya, korona akan terdistribusi secara merata di wilayah khatulistiwa dan kutub, meskipun paling menonjol di daerah dengan aktivitas yang terdapat bintik mataharinya.

  4. 4. Dikunjungi oleh wahana antariksa NASA

    potret gambaran artis wahana antariksa NASA, Parker Solar Probe yang berada dekat Matahari
    potret gambaran artis wahana antariksa NASA, Parker Solar Probe yang berada dekat Matahari (commons.wikimedia.org/Johns Hopkins APL)

    Sebagaimana diinformasikan dalam laman resmi NASA, pada tanggal 12 Agustus 2018 silam, wahana antariksa nirawak NASA untuk meneliti Matahari secara lebih detail bernama Parker Solar Probe diluncurkan oleh roket Delta IV-Heavy dari situs peluncuran Cape Canaveral, Florida AS. Wahana tersebut dan instrumen-instrumennya dilindungi dari panas dan radiasi ekstrem Matahari oleh perisai surya berbentuk heksagonal berbahan komposit karbon setebal 11,43 cm yang dipasang di sisi pesawat yang menghadap Matahari. Perisai tersebut dapat menahan temperatur di luar wahana hingga 1.370 derajat Celcius.

    Parker Solar Probe adalah wahana antariksa pertama yang berhasil mencapai dan terbang di wilayah korona Matahari serta menjadi benda buatan manusia yang berada pada jarak paling dekat dengan matahari, jarak terdekatnya adalah 6,2 juta km dari permukaan Matahari yang pertama kali dicapai pada bulan Desember 2024 silam. Sebagai perbandingan jarak bumi dengan Matahari adalah sekitar 149,6 juta km. Melalui observasi yang dilakukan wahana tersebut para ilmuwan berhasil mengindentifikasi fenomena yang dinamakan dengan "helicity barrier” yang membantu memecahkan misteri mengapa bagian Korona Matahari memiliki suhu jutaan derajat Celcius lebih panas dibandingkan dengan permukaan Matahari.

    Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kamu mengenai salah satu bagian Matahari yang membuat penasaran banyak ilmuwan untuk melakukan penelitian,ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More