Crossbill genus Loxia (commons.wikimedia.org/Elaine R. Wilson)
Selanjutnya ada burung Cassia crosbill (Loxia sinesciuris) yang merupakan burung endemik. Keberadaannya terbatas di South Hills dan Pegunungan Albion, Idaho selatan, Amerika Serikat. Dilansir Ornitologi, sebutan nama bagi burung crossbill ini mengacu pada makanannya pinus lodgepole. Di mana pada tempat tersebut tidak ada predator biji mamalia utama, seperti tupai merah. Sehingga, burung Cassia crosbill ini menempati hutan pinus lodgepole yang tidak dihuni atau ditinggalkan tupai. Maka, ini menjadikan hal unik yang membedakannya dengan burung crossbill merah. Selain itu, mereka juga bersifat menetap atau tidak melakukan migrasi.
Tampilan Cassia crossbill (Loxia sinesciuris) memiliki kesamaan dengan crossbill merah. Cassia crossbill disebut punya paruh yang lebih dalam dan tebal. Sedangkan warna bulunya hampir sama, yaitu burung jantan merah bata di sepanjang dada, perut dan mahkotanya. Bulu sayapnya warna cokelat, serta burung betina berwarna hijau kusam atau kuning zaitun, dengan sayap warna cokelat. Selain itu, perbedaannya juga dapat diidentifikasi dari suara panggilannya. Nada lebih berdengung, bukan bersiul dengan suku kata yang berulang terus.
Keberadaan burung crossbill dengan spesies yang beragam dari genus Loxia tidak terhindar dari ketersediaan habitat. Yaitu hutan pinus atau konifer yang menghasilkan kerucut yang bisa diambil bijinya sebagai makanannya. Namun, fragmentasi habitat hingga terjadinya perubahan iklim yang mempengaruhi perubahan kondisi habitat. Mungkin bisa berdampak ke populasi burung crossbill, maka sebisa mungkin meminimalisir aktivitas yang bisa memicu kerusakan habitat. Semoga bermanfaat!