7 Fakta Masjid Sultan Ahmed di Istanbul yang Dihiasi Enam Menara

- Masjid Sultan Ahmed dibangun oleh Sultan Ahmed I pada 1609–1617 di Istanbul sebagai simbol kejayaan Kesultanan Utsmaniyah dan kini dikenal luas sebagai Masjid Biru.
- Arsitek Sedefkar Mehmed Agha merancang masjid dengan enam menara, kubah megah, serta interior berhiaskan lebih dari 21.000 keramik Iznik bernuansa biru yang menjadi ciri khasnya.
- Sejak 1985, Masjid Biru diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia dan berfungsi ganda sebagai tempat ibadah serta pusat budaya dan wisata spiritual Istanbul.
Istanbul merupakan kota yang unik karena letak geografisnya yang membentang di dua benua sekaligus, yakni Asia dan Eropa, yang dipisahkan oleh Selat Bosphorus. Karena lokasinya yang strategis ini, Istanbul menjadi rumah bagi deretan bangunan bersejarah yang sangat populer di dunia, mulai dari kemegahan Hagia Sophia hingga Istana Topkapi yang menawan. Namun, ada satu ikon yang selalu berhasil mencuri perhatian setiap mata yang memandang cakrawala kota ini, yaitu Masjid Sultan Ahmed, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Biru.
Apa yang sebenarnya membuat masjid ini begitu istimewa hingga menjadi destinasi impian jutaan orang? Mari kita jelajahi lebih dalam sejarah dan keunikan arsitekturnya dalam artikel berikut ini!
1. Sejarah dan ambisi di balik kemegahan Masjid Sultan Ahmed

Masjid Sultan Ahmed, atau yang lebih populer dengan nama Masjid Biru, dibangun oleh Sultan Ahmed I antara tahun 1609–1617 di Istanbul, Turki. Pembangunan ini dilakukan untuk mengembalikan kejayaan Kesultanan Utsmaniyah sekaligus sebagai bentuk permohonan rahmat kepada Tuhan setelah masa-masa sulit. Masjid ini sengaja dibangun di lokasi strategis bekas situs kuno Bizantium dan berdekatan dengan Hagia Sophia untuk menyaingi kemegahan bangunan tersebut, sehingga kini menjadi ikon yang mendominasi pemandangan kota.
Meskipun kini sangat dikagumi, pembangunan masjid ini dulunya sempat memicu protes dari para ulama karena biayanya yang sangat besar diambil dari kas negara, bukan dari hasil rampasan perang. Namun, Sultan Ahmed I tetap melanjutkan proyek tersebut hingga selesai, meski ia wafat tak lama setelah peresmiannya. Pada akhirnya, kemegahan dan keindahan interior masjid ini berhasil memikat hati masyarakat, menjadikannya salah satu tempat ibadah paling populer yang namanya kini diabadikan sebagai nama kawasan di sekitarnya, yaitu Sultanahmet.
2. Desain ikonik dan tata ruang yang inovatif

Masjid Sultan Ahmed merupakan mahakarya arsitek Sedefkar Mehmed Agha yang menggabungkan kemegahan desain Islam klasik dengan sentuhan arsitektur Bizantium. Dari luar, masjid ini tampak gagah dengan kubah pusat raksasa setinggi 43 meter yang dikelilingi oleh rangkaian kubah-kubah kecil serta enam menara yang menjulang tinggi. Struktur ini dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan transisi visual yang halus dari dasar bangunan yang berbentuk kotak menuju atap yang bulat sehingga memberikan kesan bangunan yang sangat harmonis dan mendominasi cakrawala kota Istanbul.
Di bagian dalam, interior masjid didesain sangat mewah dengan langit-langit tinggi yang ditopang oleh empat pilar silinder raksasa. Fokus utama ruangan ini adalah mihrab dari marmer yang diukir indah serta mimbar tempat imam berkhutbah, yang dirancang agar tetap terlihat dan terdengar oleh seluruh jemaah meskipun dalam kondisi ramai. Salah satu inovasi unik di masjid ini adalah adanya area khusus sultan yang memiliki akses pribadi dari luar, lengkap dengan ruang istirahat mewah yang menjadi ciri khas baru dalam arsitektur kekaisaran Ottoman pada masa itu.
3. Kontroversi enam menara

Masjid Sultan Ahmed merupakan salah satu bangunan ikonik di Turki yang memiliki enam menara, sebuah jumlah yang sangat langka pada masa pembangunannya. Menurut cerita rakyat, hal ini terjadi karena kesalahan komunikasi antara Sultan dan arsiteknya, di mana Sultan meminta "menara emas" (altın minareler) tetapi arsitek mendengarnya sebagai "enam menara" (altı minare). Karena jumlah tersebut menyaingi Masjidil Haram di Makkah saat itu, Sultan Ahmed I akhirnya mengirim arsitek untuk membangun menara ketujuh di Makkah sebagai bentuk penghormatan agar tidak dianggap sombong.
Keenam menara ini dirancang dengan bentuk yang ramping, berujung lancip, dan dihiasi dengan balkon yang disebut şerefe. Empat menara di sudut gedung utama masing-masing memiliki tiga balkon, sementara dua menara di halaman luar memiliki dua balkon. Dahulu, para muazin harus menaiki tangga spiral sempit di dalam menara-menara ini lima kali sehari untuk mengumandangkan azan secara manual dari atas balkon guna memanggil umat Muslim untuk beribadah.
4. Ada rantai besi di pintu barat masjid

Dari luar, arsitek Mehmed Agha merancang Masjid Sultan Ahmed dengan susunan kubah bertingkat yang menciptakan profil bangunan yang halus dan elegan saat menanjak ke puncak. Area halaman masjid dikelilingi oleh serambi beratap kubah yang disangga oleh 26 tiang marmer yang kokoh dan seragam. Di tengah halaman terdapat Shadirvan, yaitu sebuah bangunan kecil segi delapan dengan ukiran bunga yang cantik yang dulunya digunakan sebagai tempat wudhu, meski kini fungsi tersebut telah dialihkan ke deretan keran air modern yang letaknya lebih praktis di sisi luar dinding masjid.
Sisi barat masjid memiliki pintu masuk paling megah yang menghadap langsung ke arah Hippodrome. Di gerbang ini, terdapat sebuah rantai besi besar yang sengaja dipasang rendah sebagai pengingat spiritual. Karena hanya Sultan yang diizinkan masuk ke halaman masjid dengan menunggang kuda, rantai tersebut memaksa sang penguasa untuk menundukkan kepalanya setiap kali masuk. Tradisi ini menjadi simbol kerendahan hati seorang pemimpin manusia di hadapan kekuasaan Tuhan yang jauh lebih besar.
5. Rahasia di balik nama "Masjid Biru"

Bagian dalam Masjid Sultan Ahmed sangat memukau karena dihiasi oleh lebih dari 21.000 keramik Iznik buatan tangan yang memiliki lebih dari 50 desain berbeda, mulai dari motif bunga, pohon cemara, hingga buah-buahan. Begitu besarnya skala proyek ini, Sultan Ahmed I sampai melarang perajin keramik di kota Iznik untuk menjual karya mereka ke tempat lain agar pembangunan masjid bisa selesai tepat waktu. Keramik-keramik dengan dominasi warna biru, hijau, dan pirus inilah yang menjadi alasan utama mengapa dunia mengenalnya sebagai "Masjid Biru".
Selain keramik, keindahan masjid ini terpancar dari dinding bagian atas yang dipenuhi lukisan motif bunga dan kaligrafi ayat suci Al-Qur'an yang sangat detail. Meski sebagian besar lukisan dan kaligrafi aslinya telah diperbarui melalui proses pemugaran selama ratusan tahun, tetapi nuansa biru yang megah tetap dipertahankan. Keindahan interior ini semakin lengkap dengan adanya pintu kayu berukir halus serta lantai yang dihias dengan teknik batu alam khusus, menjadikan seluruh area masjid tampak seperti museum seni kekaisaran yang menakjubkan.
6. Interior dengan ratusan jendela dan lampu gantung

Masjid Sultan Ahmed memiliki sekitar 260 jendela yang dirancang untuk mengalirkan cahaya alami ke seluruh ruangan. Awalnya, jendela-jendela tersebut dihiasi dengan kaca patri berwarna yang sangat rumit, yang sebagian besar merupakan hadiah dari pemerintah Venesia atas permintaan Sultan Ahmed I. Meskipun banyak kaca asli yang kini telah diganti dengan kaca modern yang lebih sederhana, tetapi interior masjid tetap terasa terang dan megah berkat pantulan cahaya yang masuk melalui puluhan jendela di setiap kubah dan sisi bangunannya.
Selain cahaya matahari, suasana di dalam masjid dipercantik dengan lampu-lampu gantung yang dahulu berhiaskan emas dan permata. Uniknya, di antara lampu tersebut terdapat telur burung unta dan bola kristal yang digantung sebagai bagian dari tradisi kuno. Masyarakat setempat percaya bahwa penggunaan telur burung unta ini berfungsi untuk mengusir laba-laba dan tikus agar tidak bersarang di dalam masjid, sementara bola kristal yang berisi model kapal atau replika masjid menambah kesan mewah pada dekorasi langit-langitnya.
7. Pusat budaya dan Warisan Dunia UNESCO

Masjid Sultan Ahmed, atau Masjid Biru, merupakan kompleks bersejarah yang diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1985. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah yang mampu menampung hingga 10.000 jemaah pada hari besar, kompleks ini juga memiliki fasilitas lengkap seperti makam Sultan Ahmed I, madrasah, rumah sakit, hingga istana peristirahatan. Keberadaannya yang multifungsi menjadikan masjid ini bukan sekadar pusat spiritual, tetapi juga pusat sosial dan budaya yang sangat penting di jantung kota Istanbul.
Sebagai destinasi wisata populer, Masjid Sultan Ahmed menerapkan aturan khusus untuk menjaga kekhusyukan ibadah. Wisatawan hanya diperbolehkan masuk melalui pintu utara dari arah Hippodrome dan wajib mengenakan pakaian yang sopan, termasuk kerudung bagi pengunjung wanita. Selama waktu salat berlangsung, area utama ditutup untuk turis guna memberikan ruang bagi jemaah, sementara pengunjung non-muslim tetap dapat menikmati keindahan arsitekturnya dari area yang telah ditentukan di bagian belakang.
Masjid Sultan Ahmed adalah simbol keharmonisan antara ambisi manusia, kedalaman seni, dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Mengunjungi masjid ini bukan hanya tentang melihat kemegahan arsitektur Istanbul, tetapi juga tentang merasakan ketenangan jiwa di tengah hiruk-pikuk dunia.















![[QUIZ] Apakah Kamu Lebih Pintar dari Anak Kelas 4 SD? Edisi IPA](https://image.idntimes.com/post/20250530/pexels-media-32218913-3c9296c30326a359cd62291a7a4a8913-72224ffc9a5d9a92e1ef4461f7b4d761.jpeg)
