Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Fakta Menarik Black Stilt, Burung Hitam Langka dari Selandia Baru
Burung black stilt endemik Selandia Baru (commons.wikimedia.org/JJ Harrison)
  • Black stilt adalah burung air endemik Selandia Baru yang kini berkembang biak alami di hulu Lembah Waitaki, Pulau Selatan, setelah persebarannya menyusut akibat perubahan habitat dan predator.

  • Burung dewasa berbulu hitam mengilap, berkaki merah muda, dan menghuni sungai beranyam serta lahan basah. Mereka memakan hewan kecil dengan mencari mangsa di air dan bebatuan.

  • Populasinya pernah tinggal 23 ekor pada 1981 dan berstatus Kritis menurut IUCN. Penangkaran, pelepasliaran, pemulihan habitat, serta pengendalian predator menopang kelangsungan spesies ini.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bertubuh ramping dengan bulu hitam mengilap dan kaki merah muda yang panjang, membuatnya tampak mencolok saat berjalan menyusuri sungai dangkal. Kenalin, dia adalah black stilt (Himantopus novaezelandiae), burung air endemik Selandia Baru. Namun, di balik penampilannya yang elegan, burung ini tengah menghadapi ancaman serius yang membuat populasinya menjadi langka. Yuk, kenalan lebih dekat dengannya, lewat tujuh fakta menarik black stilt berikut!

1. Black stilt merupakan burung air endemik Selandia Baru

Burung black stilt endemik Selandia Baru (commons.wikimedia.org/SGalla32)

Black stilt termasuk kelompok burung air berkaki panjang dari keluarga Recurvirostridae. Spesies ini merupakan burung endemik Selandia Baru yang tentunya hanya ditemukan secara alami di negara tersebut.

Dahulu, wilayah persebarannya mencakup Pulau Utara dan Pulau Selatan. Namun, populasinya terus menyusut akibat perubahan habitat dan tekanan dari predator yang diperkenalkan manusia. Kini, tempat berkembang biak alaminya terbatas di kawasan hulu Lembah Waitaki, Mackenzie Basin, di Pulau Selatan.

2. Bulu hitam mengilap dan kaki panjang menjadi ciri khasnya

Burung black stilt endemik Selandia Baru (commons.wikimedia.org/JJ Harrison)

Black stilt dewasa memiliki bulu yang hampir seluruhnya hitam dengan kilau kehijauan pada bagian punggung dan sayap. Kakinya panjang dan berwarna merah muda, sedangkan paruhnya ramping, panjang, dan berwarna hitam. Panjang tubuhnya sekitar 37–40 sentimeter dengan berat 195–220 gram. Penampilan tersebut membuatnya mudah dikenali di habitat perairan dangkal.

3. Anak black stilt memiliki warna bulu yang berbeda dari burung dewasa

Anakan black stilt punya penampilan berbeda dari individu dewasa. (commons.wikimedia.org/Francesco Veronesi)

Tidak seperti individu dewasa yang didominasi warna hitam, anak black stilt memiliki bulu dengan pola hitam dan putih. Ketika baru meninggalkan sarang, penampilannya bahkan dapat menyerupai anak kerabatnya, yait pied stilt. Seiring pertumbuhan, bulu pada bagian bawah tubuhnya mulai berubah menjadi abu-abu gelap hingga hitam.

Perubahan warna tersebut berlangsung secara bertahap. Pada tahun pertama kehidupannya, bulu anak burung mulai memperlihatkan warna gelap yang lebih luas. Ketika memasuki musim panas tahun kedua, bulunya umumnya sudah didominasi warna hitam, meskipun beberapa bercak atau garis putih masih dapat terlihat. Proses ini membuat penampilan black stilt muda berbeda dari individu dewasa.

4. Menghuni habitat sungai beranyam dan lahan basah

Burung black stilt endemik Selandia Baru (commons.wikimedia.org/Dick Veitch)

Black stilt merupakan penghuni habitat lahan basah. Ia sering kali ditemukan di kawasan sungai beranyam, yaitu sungai yang alirannya terbagi menjadi beberapa saluran kecil dan dipisahkan oleh hamparan kerikil atau pasir. Selain itu, burung ini juga dapat ditemukan tepian danau, kolam dangkal, rawa, serta delta sungai. Habitat tersebut menyediakan tempat mencari makan sekaligus lokasi untuk membuat sarang.

Saat musim berkembang biak, black stilt dapat bersarang di hamparan sungai beranyam maupun lahan basah yang memiliki vegetasi. Di luar musim kawin, sebagian individu memanfaatkan tepian danau dan delta sungai di sekitar wilayah tempat berkembang biaknya. Namun, habitat yang sesuai kini semakin terbatas akibat perubahan aliran sungai, perkembangan infrastruktur, dan pertumbuhan tumbuhan asing yang mengubah kondisi sungai.

5. Black stilt mencari mangsa di antara bebatuan sungai

Burung black stilt endemik Selandia Baru (commons.wikimedia.org/SGalla32)

Black stilt merupakan burung karnivora yang memakan berbagai hewan kecil, seperti serangga air, larva serangga, dan ikan berukuran kecil. Mangsanya mencakup larva mayfly, serangga kadis, dan serangga batu yang hidup di sungai. Di kolam atau lahan basah, burung ini juga memakan larva agas, serangga air, cacing, dan moluska.

Salah satu perilaku mencari makan yang menarik adalah menyelipkan paruh ke bawah batu untuk menangkap mangsa yang bersembunyi. Gerakan ini membantunya menemukan hewan kecil yang tidak langsung terlihat di permukaan air. Black stilt juga dapat mematuk atau menyapu paruhnya di air untuk menangkap mangsa, bergantung pada jenis makanan dan kondisi habitatnya.

6. Black stilt membentuk pasangan dan berbagi tugas mengerami telur

Kumpulan telur dari black stilt yang berada di sarang (commons.wikimedia.org/SGalla32)

Black stilt biasanya berkembang biak antara September dan Januari, dengan puncak aktivitas perkembangbiakan sekitar Oktober menurut catatan pengamatan. Burung ini umumnya bersarang berpasangan dan mempertahankan wilayah di sekitar sarangnya. Sarang berbentuk cekungan sederhana yang biasanya dilapisi bahan tumbuhan dan ditempatkan dekat air.

Betina umumnya menghasilkan empat telur dalam satu periode bertelur, meskipun jumlahnya dapat bervariasi. Kedua induk bergantian mengerami telur selama sekitar 24–27 hari. Anak burung kemudian memerlukan waktu sekitar 41–55 hari untuk mencapai tahap mampu terbang. Namun, keberhasilan reproduksi di alam liar menghadapi tantangan besar karena telur dan anak burung rentan dimangsa predator.

7. Populasinya pernah tersisa 23 ekor dan kini masih bergantung pada konservasi

Black stilt (commons.wikimedia.org/Pseudopanax)

Black stilt termasuk burung langka di Selandia Baru. Burung ini masuk kategori spesies kritis (Critically Endangered) oleh IUCN Red List. Populasinya mengalami penurunan tajam selama abad ke-20, dari lebih dari seribu individu pada awal 1950-an menjadi hanya 23 ekor pada 1981. Kehilangan habitat dan predator pendatang, seperti cerpelai, kucing liar, dan musang, menjadi faktor penting dalam kemerosotan tersebut.

Sejak itu, upaya konservasi intensif dilakukan melalui penangkaran, pelepasliaran, pemulihan habitat, dan pengendalian predator. Telur tertentu juga dipindahkan untuk dierami dalam penangkaran, sementara sebagian anak burung dibesarkan sebelum dilepas ke alam liar. Meski jumlah keseluruhan burung meningkat dibandingkan masa krisis, keberlangsungan populasinya masih sangat bergantung pada upaya tersebut. Jumlah burung yang dilepas ke alam liar pun tidak otomatis mencerminkan banyaknya individu dewasa yang berhasil berkembang biak secara alami.

Black stilt menunjukkan betapa pentingnya perlindungan habitat dan pengendalian predator bagi kelangsungan hidup spesies langka. Meski berbagai program konservasi telah membantu mencegah kepunahannya, pemulihan populasi masih membutuhkan upaya berkelanjutan agar burung ini dapat berkembang biak dengan lebih mandiri di alam liar. Setelah mengenal lebih jauh black stilt, fakta mana yang paling menarik perhatianmu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article