Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Fakta Unik Hujan Meteor Gamma Normids yang Diam-diam Hiasi Langit Ramadan
ilustrasi gamma normids yang hiasi langit Ramadan (unsplash.com/Sven Brandsma)
  • Hujan meteor Gamma Normids berasal dari rasi Norma di langit selatan dan paling optimal diamati dari wilayah selatan, termasuk Indonesia yang berada dekat khatulistiwa.
  • Fenomena ini aktif antara akhir Februari hingga Maret, sering bertepatan dengan Ramadan, menghadirkan pemandangan langit tenang saat dini hari.
  • Meski intensitasnya rendah sekitar enam meteor per jam dan asal induknya belum diketahui, keindahannya justru terletak pada kesederhanaan serta cocok untuk pengamat sabar atau astrofotografi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Langit malam sering kali lebih jujur daripada linimasa media sosial. Ia tak pernah benar-benar kosong, hanya kita yang jarang menengadah. Di antara hujan meteor populer, seperti Perseids atau Geminids, ada satu fenomena yang nyaris tak terdengar namanya. Namun, diam-diam melintas di langit selatan, yaitu Gamma Normids. Ia bukan pertunjukan kosmik yang penuh gemuruh, melainkan bisikan cahaya yang muncul saat dunia sibuk dengan rutinitasnya.

Menariknya, Gamma Normids sering aktif di akhir Februari hingga Maret. Periode ini ternyata kerap bersinggungan dengan Ramadan. Jadi, ketika malam-malam puasa terasa lebih panjang dan reflektif, langit sebenarnya sedang “menyala pelan”. Lalu, apa saja fakta unik di balik hujan meteor misterius ini? Yuk, kita kupas satu per satu!

1. Namanya diambil dari rasi yang jarang disorot

ilustrasi gamma normids yang berasal dari nama rasinya (unsplash.com/Angel Balashev)

Gamma Normids dinamai dari titik radian yang berada di rasi Norma, sebuah rasi kecil di belahan langit selatan. Menurut International Astronomical Union (IAU), penamaan hujan meteor memang biasanya mengikuti rasi tempat radian berada. Norma sendiri bukan rasi populer seperti Orion, sehingga nama Gamma Normids terdengar asing bagi banyak orang.

Rasi Norma ditemukan pada abad ke-18 oleh astronom Prancis Nicolas-Louis de Lacaille. Encyclopaedia Britannica menyebut Norma sebagai rasi kecil yang terletak di dekat Scorpius dan Centaurus serta hanya terlihat jelas dari belahan Bumi selatan. Inilah sebabnya hujan meteor ini terasa “eksklusif”.

Artinya, bahkan dari namanya saja, Gamma Normids sudah menunjukkan karakternya yang tidak mencari panggung. Ia hadir, tapi tak berisik.

2. Lebih optimal dilihat dari belahan Bumi selatan

ilustrasi gamma normids yang mudah dilihat dari Bumi selatan (unsplash.com/Ray ZHUANG)

Berbeda dengan Perseids yang bisa dinikmati luas di belahan utara, Gamma Normids paling optimal diamati dari belahan selatan. American Meteor Society (AMS) menjelaskan bahwa posisi radian yang jauh di selatan membuat pengamat lintang selatan memiliki peluang terbaik.

Karena Indonesia berada di sekitar khatulistiwa dan sebagian besar wilayahnya di selatan ekuator, kita termasuk lokasi yang cukup strategis untuk mengamati fenomena ini. Ini kabar baik yang jarang disadari.

Jadi ironisnya, saat banyak fenomena langit “ramai” dibicarakan di utara, kita justru punya akses alami pada hujan meteor yang lebih sunyi ini.

3. Intensitasnya rendah, tapi justru itu daya tariknya

ilustrasi gamma normids yang intensitasnya rendah (pexels.com/Jonas Thomann)

Gamma Normids bukan hujan meteor spektakuler. Berdasarkan data In-The-Sky-org, laju zenithal per jamnya (ZHR) rata-rata hanya sekitar 6 meteor per jam saat puncak.

Angka ini jauh di bawah Geminids yang bisa mencapai lebih dari 100 meteor per jam. Namun, justru karena intensitasnya rendah, pengalaman menyaksikannya terasa lebih personal. Bukan pesta kembang api, melainkan percikan cahaya yang datang tak terduga.

Dalam astronomi, meteor dengan ZHR rendah sering kali sulit dibedakan dari meteor sporadis. Tapi bagi pengamat sabar, justru di situlah letak romantismenya—menunggu cuma satu kilatan di langit gelap.

4. Aktif di akhir Februari hingga Maret

ilustrasi gamma normids yang muncul di akhir Februari hingga Maret (pexels.com/Riste Spiroski)

Menurut laman astronomi The SkyLive, Gamma Normids biasanya aktif dari sekitar 25 Februari hingga 28 Maret, dengan puncak sekitar pertengahan Maret. Rentang waktu ini kerap beririsan dengan Ramadan, tergantung kalender Hijriah.

Artinya, saat orang-orang bangun sahur atau memperpanjang malam dengan ibadah, ada peluang menyaksikan meteor melintas diam-diam. Kombinasi waktu dini hari dan suasana sunyi membuat pengamatan justru lebih ideal.

Fenomena ini mengingatkan kita bahwa langit tidak pernah benar-benar “kosong”. Ia punya siklusnya sendiri, tak peduli kalender manusia.

5. Induknya masih misterius

ilustrasi gamma normids yang induknya masih misterius (unsplash.com/Klaus Birner)

Sebagian besar hujan meteor diketahui berasal dari sisa debu komet tertentu. Misalnya, Perseids berasal dari komet Swift-Tuttle. Namun menurut Universe Guide, hingga kini induk Gamma Normids belum teridentifikasi secara pasti.

Ketidakjelasan ini membuat Gamma Normids berbeda. Kita menyaksikan partikel debu kosmik yang terbakar di atmosfer, tanpa benar-benar tahu dari mana asal kometnya.

Di dunia sains yang haus kepastian, misteri seperti ini justru memancing rasa ingin tahu. Ia mengingatkan bahwa semesta masih menyimpan teka-teki.

6. Kecepatannya cukup tinggi

ilustrasi gamma normids yang kecepatannya cukup tinggi (unsplash.com/Pat Moin)

Data dari Orbital Today menunjukkan bahwa meteor Gamma Normids memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 56 km/detik. Kecepatan ini tergolong sedang hingga cepat dibanding beberapa hujan meteor lainnya.

Saat partikel debu kosmik memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi, gesekan udara menyebabkan pemanasan hebat hingga partikel tersebut berpijar. Inilah yang kita lihat sebagai “bintang jatuh”.

Namun, karena ukuran partikelnya relatif kecil, meteor Gamma Normids jarang menghasilkan bola api besar (fireball). Ia lebih sering berupa kilatan singkat; cepat datang, cepat hilang.

7. Cocok untuk pengamat sabar dan astrofotografi

ilustrasi gamma normids yang cocok bagi astrofotografi (unsplash.com/Dmitry Sergeev)

Menurut panduan pengamatan dari NASA Jet Propulsion Laboratory, hujan meteor dengan intensitas rendah tetap bisa dinikmati dengan teknik yang tepat, yaitu di lokasi gelap, minim polusi cahaya, dan pengamatan setelah tengah malam.

Gamma Normids justru cocok untuk astrofotografi long exposure. Dengan kamera yang dibiarkan terbuka beberapa detik hingga menit, peluang menangkap satu garis cahaya di langit selatan menjadi lebih besar.

Fenomena ini bukan tentang kuantitas, melainkan kualitas momen. Satu meteor yang tertangkap kamera atau mata telanjang kadang lebih membekas daripada seratus yang terlewat.

Gamma Normids mungkin bukan hujan meteor paling populer di kalender astronomi. Ia tidak viral, tidak spektakuler, dan tidak ramai dibicarakan. Tapi justru dalam kesederhanaannya, ia mengajarkan kita sesuatu; tidak semua keindahan datang dalam jumlah besar.

Di malam-malam sunyi, ketika dunia terasa melambat, Gamma Normids hadir seperti bisikan kosmik. Ia mengingatkan bahwa bahkan partikel debu kecil dari ruang angkasa pun bisa menciptakan cahaya. Dan mungkin, di antara gelap dan sepi, kita hanya perlu satu kilatan kecil untuk merasa tak sendirian di semesta yang luas ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team