7 Teknologi Negara Lain yang Mampu Atasi Karhutla, Bukan Cuma Satelit

- Penanganan karhutla membutuhkan kombinasi teknologi: pesawat pemadam, busa atau retardant, serta drone untuk menjangkau titik api, menekan intensitas kebakaran, dan memantau bara tersembunyi.
- Pencegahan dilakukan melalui sekat bakar, pembakaran terkendali, serta pengelolaan vegetasi mekanis dan penggembalaan untuk mengurangi bahan bakar api, dengan mempertimbangkan kondisi ekosistem.
- Untuk gambut, pembasahan kembali melalui sekat kanal menjaga kelembapan dan menekan risiko kebakaran bawah permukaan; penerapannya perlu disesuaikan dengan karakteristik lokal, pemantauan air, serta operasi darat.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan api yang membakar pepohonan. Bencana ini juga berkaitan dengan perubahan iklim, kekeringan, pengelolaan vegetasi, dan kondisi hidrologis lahan. Ketika api menyebar di kawasan hutan yang luas, petugas menghadapi tantangan berupa akses yang sulit, angin kencang, keterbatasan air, hingga bara yang dapat memicu kebakaran kembali.
Selama ini, teknologi geospasial seperti citra satelit, sistem informasi geografis (SIG), dan pemetaan titik panas menjadi bagian penting dalam pemantauan karhutla. Namun, mendeteksi lokasi kebakaran tidak otomatis membuat api padam. Diperlukan teknologi lain untuk menjangkau titik api, menghambat penjalaran kebakaran, dan memulihkan kondisi lingkungan yang rentan terbakar. Sejumlah negara, seperti Australia, Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Eropa, mengembangkan berbagai pendekatan untuk menghadapi tantangan tersebut. Komisi Eropa, misalnya, mendorong pengelolaan kebakaran terpadu yang mencakup pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan, dan pemulihan.
Lantas, teknologi apa saja yang digunakan negara lain untuk mengatasi karhutla selain teknik geospasial? Berikut tujuh teknologi dan pendekatan yang menarik untuk dipelajari Indonesia. Mari kita telusuri!
1. Pesawat pemadam kebakaran untuk menjangkau titik api dari udara

ilustrasi teknologi water bomber (commons.wikimedia.org/Vinícius Mendonça Ibama) Pesawat pemadam kebakaran atau water bomber merupakan salah satu teknologi yang digunakan untuk membantu mengendalikan kebakaran hutan. Teknologi ini memungkinkan petugas menjatuhkan air atau bahan pemadam dari udara menuju area yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Helikopter juga dapat digunakan untuk mengangkut air menggunakan wadah khusus atau membantu operasi pemadaman di lokasi tertentu.
Australia memanfaatkan layanan pemadaman udara melalui National Aerial Firefighting Centre. Berdasarkan informasi Bushfires Northern Territory, pesawat bersayap tetap dan helikopter dapat digunakan untuk menjatuhkan air maupun produk pemadam kebakaran guna mengurangi intensitas api dan memperlambat penyebarannya. Operasi udara juga membantu petugas memperoleh informasi tentang kondisi kebakaran dan mengoordinasikan strategi pemadaman di lapangan.
Meski demikian, pesawat pemadam bukan solusi tunggal untuk semua jenis karhutla. Penggunaannya dipengaruhi kondisi cuaca, angin, jarak sumber air, dan karakteristik medan. Air yang dijatuhkan dari udara juga belum tentu mampu memadamkan api yang membara di bawah permukaan gambut. Karena itu, pemadaman udara perlu dikombinasikan dengan operasi darat untuk memastikan titik api benar-benar terkendali.
2. Busa dan bahan penghambat api untuk mengurangi penjalaran kebakaran

ilustrasi teknologi fire retardant (commons.wikimedia.org/Roc0ast3r) Selain air, operasi pemadaman kebakaran hutan dapat menggunakan busa pemadam dan bahan penghambat api atau fire retardant. Keduanya mempunyai fungsi yang berbeda. Busa dapat membantu air membasahi bahan bakar dan mendukung proses pemadaman, sedangkan bahan penghambat api tertentu dirancang untuk memperlambat pembakaran vegetasi, sehingga petugas memiliki kesempatan lebih besar untuk membatasi penjalaran api.
Di Australia, produk pemadam kebakaran dapat diaplikasikan secara langsung pada api atau digunakan untuk membuat jalur basah sebagai bagian dari strategi pemadaman tidak langsung. Pengaplikasian dari udara juga dapat membantu mengurangi intensitas kebakaran ketika kondisi lapangan menyulitkan petugas untuk mendekati titik api.
Penggunaan bahan pemadam tersebut tetap membutuhkan pertimbangan lingkungan. Produk yang dipilih harus sesuai dengan tujuan pemadaman dan memperhatikan potensi dampaknya terhadap tanah, sumber air, serta organisme di sekitarnya. Artinya, keberhasilan teknologi ini tidak hanya dinilai dari kemampuannya memperlambat api, tetapi juga dari keamanan penggunaannya.
3. Drone dan pesawat nirawak untuk mendukung operasi pemadaman

ilustrasi teknologi pesawat nirawak (commons.wikimedia.org/NASA Ames Research Center Don Richey) Drone dapat membantu petugas mengamati kondisi kebakaran tanpa harus langsung memasuki area yang berbahaya. Perangkat yang dilengkapi kamera termal, misalnya, berpotensi membantu menemukan titik panas dan bara yang masih tersisa setelah api utama mereda. Informasi visual tersebut dapat digunakan untuk mendukung keputusan tim pemadam di lapangan.
Di Amerika Serikat, NASA mengembangkan proyek Advanced Capabilities for Emergency Response Operations (ACERO) untuk mendukung penggunaan pesawat nirawak dalam operasi kebakaran hutan. Proyek ini mencakup pengembangan teknologi pengelolaan ruang udara yang memungkinkan pesawat nirawak membantu mengidentifikasi, memantau, dan mendukung upaya pengendalian kebakaran. NASA juga meneliti kemampuan operasi udara jarak jauh agar respons terhadap kebakaran dapat dilakukan secara lebih efektif.
Namun, perlu dibedakan antara teknologi yang masih dikembangkan dan sistem yang sudah digunakan secara rutin. Tidak semua drone mampu memadamkan api secara langsung. Dalam banyak kasus, fungsi utamanya adalah pengamatan, pengumpulan informasi, dan dukungan operasional. Penggunaannya juga harus mengikuti aturan keselamatan penerbangan, karena drone yang terbang di dekat pesawat pemadam dapat membahayakan operasi penyelamatan.
Bagi Indonesia, drone dengan sensor termal berpotensi membantu pemeriksaan ulang kawasan yang sudah dipadamkan. Dengan begitu, petugas dapat mencari bara tersembunyi dan menentukan lokasi yang memerlukan penanganan lanjutan.
4. Firebreak untuk membatasi pergerakan api

ilustrasi teknologi firebreak (commons.wikimedia.org/Slknight) Sekat bakar atau firebreak merupakan jalur yang dirancang untuk mengurangi kesinambungan bahan bakar kebakaran. Jalur tersebut dapat dibuat melalui pembersihan vegetasi secara selektif atau memanfaatkan unsur lanskap tertentu, seperti jalan dan area terbuka, sebagai bagian dari strategi pengendalian kebakaran.
Uni Eropa memasukkan sekat bakar ke dalam berbagai langkah pencegahan kebakaran hutan. Selain membantu memperlambat penjalaran api, jalur ini dapat mendukung akses petugas dan memudahkan pelaksanaan operasi pemadaman. Perencanaan sekat bakar perlu mempertimbangkan bentuk lanskap, kondisi vegetasi, serta lokasi yang berisiko tinggi mengalami kebakaran.
Meskipun demikian, sekat bakar bukan penghalang yang selalu mampu menghentikan kebakaran. Angin kencang dapat membawa bara melintasi jalur terbuka dan memicu titik api baru. Oleh sebab itu, sekat bakar harus dirawat dan menjadi bagian dari strategi yang lebih luas, termasuk pemantauan kondisi cuaca serta kesiapan tim pemadam.
Indonesia dapat mempelajari penerapan teknologi ini untuk melindungi permukiman, kawasan perkebunan, dan infrastruktur yang berada dekat wilayah rawan karhutla. Khusus di lahan gambut, perencanaan jalur pengendalian api perlu memperhatikan kondisi tanah dan tata air agar tidak memperburuk kekeringan.
5. Prescribed burning untuk mengurangi bahan bakar kebakaran

ilustrasi teknologi prescribed burning (commons.wikimedia.org/HFHaider) Mungkin terdengar bertentangan, tetapi dalam kondisi tertentu, api justru dapat digunakan untuk mengurangi risiko kebakaran yang lebih besar. Pendekatan ini dikenal sebagai prescribed burning atau pembakaran terkendali. Pelaksanaannya dilakukan secara terencana oleh petugas terlatih dengan mempertimbangkan cuaca, kelembapan, angin, jenis vegetasi, dan tujuan pengelolaan lahan.
Australia, khususnya Northern Territory, menerapkan pembakaran terkendali sebagai bagian dari program pengurangan bahan bakar kebakaran. Vegetasi yang mudah terbakar dikurangi sebelum kondisi cuaca menjadi lebih berbahaya. Jika dilaksanakan secara tepat, pendekatan ini dapat membantu mengurangi intensitas dan penyebaran kebakaran berikutnya.
Namun, pembakaran terkendali bukan praktik yang dapat diterapkan di semua jenis lahan. Kesalahan perencanaan dapat menyebabkan api keluar dari area yang ditentukan dan justru menimbulkan kebakaran baru. Penerapannya di lahan gambut sangat berisiko karena api dapat merambat ke lapisan organik di bawah permukaan tanah.
Karena itu, Indonesia perlu membedakan pengelolaan api yang direncanakan secara profesional dari pembakaran lahan yang tidak terkendali. Pada ekosistem yang sesuai, pendekatan ini dapat dipertimbangkan berdasarkan kajian ekologis dan aturan yang berlaku. Sementara itu, kawasan gambut membutuhkan perhatian khusus terhadap kelembapan tanah dan risiko kebakaran bawah permukaan.
6. Pengelolaan vegetasi secara mekanis dan pemanfaatan ternak

ilustrasi pemetaan karhutla (commons.wikimedia.org/European Union Copernicus Sentinel-2) Tidak semua strategi pencegahan kebakaran membutuhkan teknologi yang rumit. Pengelolaan vegetasi secara mekanis, seperti penjarangan pohon, pemangkasan, dan pembersihan material tumbuhan kering secara selektif, dapat membantu mengurangi akumulasi bahan bakar. Pendekatan ini membuat pengelolaan lanskap menjadi bagian penting dari pencegahan kebakaran.
Komisi Eropa juga menyoroti pemanfaatan penggembalaan ternak sebagai salah satu pendekatan untuk mengendalikan vegetasi yang mudah terbakar. Di sejumlah wilayah Eropa, kambing, domba, dan sapi dapat membantu mengurangi pertumbuhan rumput atau semak pada lokasi yang sesuai. Pendekatan tersebut dapat dikombinasikan dengan pengelolaan hutan dan pertanian untuk membentuk lanskap yang lebih tahan terhadap kebakaran.
Meski bukan teknologi pemadam api secara langsung, pengelolaan vegetasi penting karena kebakaran akan lebih mudah menyebar ketika tersedia banyak bahan bakar yang saling terhubung. Namun, pembersihan vegetasi harus dilakukan secara selektif agar tidak merusak habitat, meningkatkan erosi, atau mengganggu keseimbangan ekosistem.
Bagi Indonesia, pendekatan ini dapat dipertimbangkan di wilayah yang sesuai dengan karakteristik vegetasi dan penggunaan lahannya. Pengelolaan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi hutan tropis agar pencegahan kebakaran tidak justru menimbulkan kerusakan lingkungan baru.
7. Teknologi pembasahan kembali lahan gambut untuk mencegah kebakaran berulang

ilustrasi teknologi peatland rewetting (commons.wikimedia.org/JoachimKohler-HB) Lahan gambut memiliki karakteristik yang berbeda dari banyak kawasan hutan di tanah mineral. Ketika gambut mengering, bahan organik yang tersimpan di dalamnya menjadi lebih mudah terbakar. Api bahkan dapat menjalar di bawah permukaan sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan hanya dengan menyiram vegetasi di atasnya.
Salah satu pendekatan yang digunakan di Indonesia adalah pembasahan kembali gambut atau peatland rewetting. Upaya ini dapat dilakukan melalui pembangunan sekat kanal untuk memperlambat aliran air dan membantu mempertahankan kelembapan lahan. Berbeda dengan pesawat pemadam atau busa, teknologi ini terutama ditujukan untuk mengurangi kerentanan gambut terhadap kebakaran, bukan menggantikan pemadaman ketika api sudah berkobar.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam iScience pada 2026, mengevaluasi dampak 3.840 sekat kanal terhadap kebakaran gambut di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah selama 2017—2022. Penelitian tersebut menemukan bahwa efektivitas pembasahan kembali berbeda-beda menurut lokasi. Sekat kanal yang wilayah pembasahannya saling tumpang tindih menunjukkan hasil paling efektif dalam menghindari kebakaran. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan restorasi gambut tidak cukup dinilai dari jumlah sekat kanal yang dibangun, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan kondisi basah di area yang rentan terbakar.
Teknologi pembasahan kembali gambut perlu didukung pemantauan muka air tanah, pemeliharaan sekat kanal, dan pengelolaan air yang sesuai dengan kondisi setempat. Ketika kebakaran sudah terjadi, petugas tetap membutuhkan peralatan pemadaman dan pasokan air yang memadai untuk menangani api, termasuk yang menjalar di bawah permukaan.
Bagi Indonesia, pendekatan ini sangat relevan karena menggabungkan pencegahan kebakaran dengan perlindungan ekosistem gambut. Dengan menjaga kelembapan lahan, risiko kebakaran dapat dikurangi sekaligus mendukung pemulihan fungsi ekologisnya.
Tujuh pendekatan di atas menunjukkan bahwa penanggulangan karhutla tidak bisa bergantung pada satu teknologi. Pesawat pemadam dan bahan penghambat api membantu operasi pemadaman, drone mendukung pengamatan, sedangkan sekat bakar, pengelolaan vegetasi, dan pembakaran terkendali berperan dalam mengurangi risiko kebakaran. Pada ekosistem gambut, pembasahan kembali lahan menjadi pendekatan penting untuk mencegah kondisi yang mendukung munculnya api
Komisi Eropa menekankan bahwa pengelolaan kebakaran perlu mencakup pencegahan, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan. Pendekatan terpadu juga membutuhkan koordinasi pemerintah, pengelola lahan, petugas pemadam, dan masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga dari kemampuan mencegah kebakaran berikutnya.
Bagi Indonesia, pelajaran terpenting bukan sekadar meniru teknologi negara lain, melainkan menyesuaikannya dengan karakteristik hutan tropis, kondisi lahan gambut, iklim, dan kemampuan operasional di lapangan. Teknologi yang efektif untuk hutan beriklim sedang belum tentu memberikan hasil serupa di kawasan gambut tropis.
Pada akhirnya, satelit dapat membantu menunjukkan lokasi kebakaran, pesawat dapat membantu menjangkau titik api, dan sekat kanal dapat membantu menjaga kelembapan gambut. Namun, semuanya membutuhkan perencanaan yang tepat, sumber daya manusia yang terlatih, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Sebab, melawan karhutla bukan hanya tentang memadamkan api hari ini, tetapi juga mengurangi kemungkinan api yang sama kembali menyala esok hari.



















