ilustrasi teknologi peatland rewetting (commons.wikimedia.org/JoachimKohler-HB)
Lahan gambut memiliki karakteristik yang berbeda dari banyak kawasan hutan di tanah mineral. Ketika gambut mengering, bahan organik yang tersimpan di dalamnya menjadi lebih mudah terbakar. Api bahkan dapat menjalar di bawah permukaan sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan hanya dengan menyiram vegetasi di atasnya.
Salah satu pendekatan yang digunakan di Indonesia adalah pembasahan kembali gambut atau peatland rewetting. Upaya ini dapat dilakukan melalui pembangunan sekat kanal untuk memperlambat aliran air dan membantu mempertahankan kelembapan lahan. Berbeda dengan pesawat pemadam atau busa, teknologi ini terutama ditujukan untuk mengurangi kerentanan gambut terhadap kebakaran, bukan menggantikan pemadaman ketika api sudah berkobar.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam iScience pada 2026, mengevaluasi dampak 3.840 sekat kanal terhadap kebakaran gambut di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah selama 2017—2022. Penelitian tersebut menemukan bahwa efektivitas pembasahan kembali berbeda-beda menurut lokasi. Sekat kanal yang wilayah pembasahannya saling tumpang tindih menunjukkan hasil paling efektif dalam menghindari kebakaran. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan restorasi gambut tidak cukup dinilai dari jumlah sekat kanal yang dibangun, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan kondisi basah di area yang rentan terbakar.
Teknologi pembasahan kembali gambut perlu didukung pemantauan muka air tanah, pemeliharaan sekat kanal, dan pengelolaan air yang sesuai dengan kondisi setempat. Ketika kebakaran sudah terjadi, petugas tetap membutuhkan peralatan pemadaman dan pasokan air yang memadai untuk menangani api, termasuk yang menjalar di bawah permukaan.
Bagi Indonesia, pendekatan ini sangat relevan karena menggabungkan pencegahan kebakaran dengan perlindungan ekosistem gambut. Dengan menjaga kelembapan lahan, risiko kebakaran dapat dikurangi sekaligus mendukung pemulihan fungsi ekologisnya.
Tujuh pendekatan di atas menunjukkan bahwa penanggulangan karhutla tidak bisa bergantung pada satu teknologi. Pesawat pemadam dan bahan penghambat api membantu operasi pemadaman, drone mendukung pengamatan, sedangkan sekat bakar, pengelolaan vegetasi, dan pembakaran terkendali berperan dalam mengurangi risiko kebakaran. Pada ekosistem gambut, pembasahan kembali lahan menjadi pendekatan penting untuk mencegah kondisi yang mendukung munculnya api
Komisi Eropa menekankan bahwa pengelolaan kebakaran perlu mencakup pencegahan, kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan. Pendekatan terpadu juga membutuhkan koordinasi pemerintah, pengelola lahan, petugas pemadam, dan masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga dari kemampuan mencegah kebakaran berikutnya.
Bagi Indonesia, pelajaran terpenting bukan sekadar meniru teknologi negara lain, melainkan menyesuaikannya dengan karakteristik hutan tropis, kondisi lahan gambut, iklim, dan kemampuan operasional di lapangan. Teknologi yang efektif untuk hutan beriklim sedang belum tentu memberikan hasil serupa di kawasan gambut tropis.
Pada akhirnya, satelit dapat membantu menunjukkan lokasi kebakaran, pesawat dapat membantu menjangkau titik api, dan sekat kanal dapat membantu menjaga kelembapan gambut. Namun, semuanya membutuhkan perencanaan yang tepat, sumber daya manusia yang terlatih, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Sebab, melawan karhutla bukan hanya tentang memadamkan api hari ini, tetapi juga mengurangi kemungkinan api yang sama kembali menyala esok hari.