Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Dokter Hewan Memeriksa Singa atau Harimau?
ilustrasi binatang singa betina (unsplash.com/palesa)
  • Dokter hewan mengawali pemeriksaan singa atau harimau dengan observasi dari luar kandang, menilai nafsu makan, cara berjalan, pernapasan, postur, dan respons terhadap lingkungan.
  • Untuk pemeriksaan menyeluruh, satwa dibius dengan dosis berdasarkan kondisi individu; tim kemudian menjaga pernapasan dan berupaya menyelesaikan seluruh tindakan dalam satu kali anestesi.
  • Saat tidak sadar, satwa menjalani pemeriksaan fisik, tes penunjang seperti darah dan rontgen, serta pemantauan ketat hingga pulih dan kembali bergerak normal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memeriksa kesehatan kucing peliharaan mungkin terdengar mudah. Namun, bagaimana jika pasiennya adalah singa atau harimau yang beratnya bisa mencapai lebih dari 200 kilogram, memiliki taring tajam, serta cakar yang sangat kuat?

Tentu prosesnya jauh berbeda. Dokter hewan tidak bisa begitu saja masuk ke kandang dan melakukan pemeriksaan. Demi keselamatan manusia maupun satwa, setiap langkah harus direncanakan dengan matang. Mulai dari mengamati perilaku, memberikan anestesi, melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, hingga memantau proses pemulihan, semuanya dilakukan dengan prosedur khusus. Lalu, bagaimana sebenarnya dokter hewan memeriksa singa atau harimau? Berikut penjelasannya.

1. Pemeriksaan dimulai dari mengamati perilaku

Sebelum menyentuh satwa, dokter hewan biasanya akan melakukan observasi dari luar kandang. Tahap ini sangat penting karena banyak tanda penyakit yang sebenarnya sudah terlihat dari perilaku hewan. Dokter hewan dan keeper akan memperhatikan berbagai hal, seperti:

  • Nafsu makan

  • Cara berjalan

  • Posisi tubuh

  • Pola pernapasan

  • Interaksi dengan satwa lain

  • Respons terhadap lingkungan

Misalnya, seekor harimau yang tiba-tiba malas bergerak, pincang, sulit mengunyah makanan, atau kehilangan nafsu makan bisa saja sedang mengalami cedera atau sakit. Observasi tanpa kontak langsung ini menjadi langkah awal untuk menentukan apakah satwa memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

2. Satwa dibius agar pemeriksaan aman

Jika diperlukan pemeriksaan menyeluruh, dokter hewan harus membuat singa atau harimau tidak sadar terlebih dahulu menggunakan anestesi. Obat bius biasanya diberikan dari jarak aman menggunakan senapan bius (dart gun) atau alat suntik khusus yang memiliki gagang panjang. Jenis obat serta dosisnya dihitung secara cermat berdasarkan beberapa faktor, antara lain:

  • Spesies

  • Berat badan

  • Usia

  • Kondisi kesehatan

  • Jenis tindakan yang akan dilakukan

Setelah obat mulai bekerja dan satwa benar-benar tidak sadar, tim dokter bersama keeper yang sudah terlatih akan memindahkannya ke ruang pemeriksaan. Di sana, dokter memasang selang endotrakeal ke saluran napas agar pernapasan tetap terjaga selama proses anestesi berlangsung. Selang ini juga memungkinkan pemberian obat bius inhalasi bila dibutuhkan. Karena anestesi memiliki risiko, seperti gangguan pernapasan, perubahan tekanan darah, hingga gangguan irama jantung, dokter hewan biasanya berusaha menyelesaikan seluruh pemeriksaan dan tindakan medis dalam satu kali pembiusan.

3. Pemeriksaan fisik dilakukan dari kepala hingga ekor

ilustrasi harimau (unsplash.com/ Waldemar Brandt)

Saat satwa sudah berada dalam kondisi tidak sadar, dokter hewan mulai melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Bagian tubuh yang diperiksa, meliputi:

  • Mata

  • Telinga

  • Mulut

  • Gigi dan gusi

  • Kulit

  • Cakar dan telapak kaki

  • Otot

  • Sendi

  • Organ reproduksi

Selain itu, dokter juga menilai kondisi tubuh secara umum, termasuk berat badan, tingkat hidrasi, adanya luka, pembengkakan, infeksi, maupun kelainan lainnya. Salah satu bagian yang mendapat perhatian khusus adalah gigi. Bagi singa dan harimau, gigi taring bukan hanya alat makan, tetapi juga senjata utama untuk merobek daging.

Jika taring mengalami patah atau infeksi, dokter hewan sering kali memilih melakukan perawatan saluran akar (root canal) daripada mencabut gigi. Dengan cara ini, fungsi taring tetap dapat dipertahankan sehingga satwa masih mampu makan secara normal setelah sembuh.

4. Sampel darah hingga rontgen juga dilakukan

Karena satwa sedang dalam kondisi tidak sadar, dokter hewan biasanya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melakukan berbagai pemeriksaan penunjang. Beberapa prosedur yang umum dilakukan antara lain:

  • Pengambilan sampel darah

  • Pemeriksaan urine

  • Foto rontgen (X-ray)

  • USG

  • Foto gigi

  • Elektrokardiogram (EKG)

Tes darah dapat membantu mendeteksi anemia, infeksi, dehidrasi, gangguan organ, hingga masalah metabolisme. Sementara itu, EKG digunakan untuk merekam aktivitas listrik jantung sehingga dokter dapat mengetahui apakah terdapat gangguan irama jantung. Pemeriksaan fisik, analisis darah, pemeriksaan kimia darah, serta EKG dapat memberikan data penting mengenai kondisi kesehatan dan fungsi jantung kucing besar tersebut.

5. Kondisi satwa terus dipantau hingga benar-benar sadar

Pekerjaan dokter hewan tidak selesai setelah pemeriksaan dilakukan. Selama anestesi berlangsung, tim medis akan terus memantau berbagai parameter penting, seperti:

  • Denyut jantung

  • Tekanan darah

  • Frekuensi napas

  • Kadar oksigen

  • Kedalaman anestesi

  • Gas darah

  • Keseimbangan elektrolit

Bahkan, beberapa parameter dicatat setiap lima menit agar perubahan sekecil apa pun dapat segera diketahui. Setelah seluruh prosedur selesai, singa atau harimau dikembalikan ke kandangnya. Selang pernapasan baru dilepas ketika refleks napas satwa sudah kembali dengan baik.

Meski terlihat mulai sadar, proses pemulihan belum selesai. Dokter hewan dan keeper tetap mengawasi dari luar kandang hingga satwa benar-benar bisa berdiri, bergerak normal, dan menunjukkan perilaku yang stabil.

Pada akhirnya, memeriksa kesehatan singa atau harimau bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan sembarangan. Dibutuhkan perencanaan yang matang, peralatan khusus, serta kerja sama antara dokter hewan dan keeper agar seluruh proses berjalan aman. Dengan pemeriksaan rutin dan penanganan yang tepat, kondisi kesehatan kucing besar ini dapat terus dipantau sehingga mereka memiliki peluang hidup yang lebih sehat, baik di kebun binatang maupun di pusat konservasi.

Referensi

Four Paws. Diakses pada Agustus 2026. Sterilising Tigers and a Leopard: How a Vet Check in Malta Advocates for the Wellbeing of Captive Big Cats
University of Illinois College of Veterinary Medicine. Diakses pada Agustus 2026. Big Cats, Little Cats Need a DentistUniversity of Illinois College of Veterinary Medicine. Diakses pada Agustus 2026. Big Cat Care Requires Anesthesia
University of Pretoria. Diakses pada Agustus 2026. Minimally Invasive Methods Make Surgery Safer for Africa's Big Cats

Curated For You

Editorial Team

Related Article