5 Fakta Menarik Jalak Tunggir Merah, Bersarang dalam Koloni Besar

- Jalak tunggir merah adalah burung endemik Sulawesi dan pulau sekitarnya, berciri tubuh abu-abu gelap, tunggir merah mencolok, serta paruh kuning-oranye besar.
- Burung omnivora ini memakan buah, biji, serangga, termasuk cabai rawit; pencernaannya turut membantu penyebaran biji tanaman di alam.
- Jalak tunggir merah hidup berkelompok hingga 150 individu dan bersarang dalam koloni ratusan sarang, tetapi terancam penebangan pohon, perubahan habitat, serta perburuan.
Sulawesi menjadi rumah bagi berbagai jenis burung endemik dengan penampilan dan perilaku yang unik. Salah satunya adalah jalak tunggir merah (Scissirostrum dubium). Sesuai namanya, burung ini memiliki bulu merah mencolok di bagian tunggir yang kontras dengan tubuhnya yang berwarna abu-abu gelap.
Keunikannya tidak berhenti di sana. Jalak tunggir merah memiliki paruh besar berwarna kuning-oranye dan dikenal sebagai burung yang sangat suka hidup berkelompok. Burung ini bahkan dapat membentuk koloni dengan ratusan sarang, lho. Yuk, kenali lebih dekat lima fakta menarik tentang burung endemik Sulawesi ini!
1. Tampil unik dengan tunggir merah dan paruh besar

Jalak tunggir merah, burung endemik Sulawesi (commons.wikimedia.org/DickDaniels) Jalak tunggir merah merupakan burung dari keluarga Sturnidae. Dilansir Birds of the World, burung ini memiliki panjang sekitar 20 cm dengan berat sekitar 50 gram. Penampilannya didominasi bulu berwarna abu-abu gelap, terutama pada bagian sayap dan ekornya. Namun, ada bagian tubuh yang membuatnya mudah dikenali. Seperti namanya, burung ini punya tunggir berwarna merah yang tampak mencolok di antara bulu abu-abunya. Bulu pada bagian ini juga punya ukuran yang lebih panjang dan kaku dibandingkan bulu tubuh lainnya. Selain tunggir merah, burung ini memiliki ciri khas berupa paruh besar berwarna kuning-oranye. paruhnya sangat kuat dan tampak mencolok dibandingkan ukuran tubuhnya. Bentuk paruhnya yang khas ini membuatnya mudah dikenal saat diamati di alam.
Spesies jantan dan betina jalak tunggir merah punya penampilan yang sama. Sementara itu, burung muda memiliki warna tubuh yang lebih cokelat. Ujung bulu pada bagian tunggirnya juga cenderung lebih pucat. Selain itu, burung muda memiliki paruh yang lebih tipis dan berwarna lebih pucat dibandingkan burung dewasa.
2. Burung endemik Sulawesi

Jalak tunggir merah, burung endemik Sulawesi (commons.wikimedia.org/Lip Kee) Jalak tunggir merah merupakan burung endemik yang hanya menghuni wilayah Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya. Persebarannya meliputi Bangka, Lembeh, Kepulauan Togian, Butung, serta Kepulauan Banggai. Burung ini biasanya menghuni habitat tepi hutan dan kawasan yang memiliki sedikit pepohonan.
Jalak tunggir merah diperkirakan awalnya merupakan penghuni hutan. Namun, burung ini mampu beradaptasi dengan habitat yang telah mengalami perubahan. Kini, jalak tunggir merah lebih sering dijumpai di tepi hutan, perkebunan, dan kawasan dengan tutupan pohon yang lebih terbuka. Meski begitu, keberadaan pohon besar tetap penting karena digunakan sebagai tempat bersarang.
3. Burung omnivora yang gemar makan cabai rawit

Jalak tunggir merah, burung endemik Sulawesi (commons.wikimedia.org/DickDaniels) Jalak tunggir merah memiliki menu makanan yang cukup beragam. Burung ini memakan buah, biji-bijian, dan serangga. Dilansir Birds of the World, buah yang dimakannya antara lain berasal dari pohon ara (Ficus), Albizia, hingga cabai rawit (Capsicum frutescens).
Lalu, apakah jalak tunggir merah tidak kepedasan saat menyantap cabai? Ternyata, burung tidak merasakan sensasi pedas seperti manusia. Burung memang memiliki reseptor TRPV1 yang berperan dalam mendeteksi panas, tetapi reseptor tersebut tidak sensitif terhadap kapsaisin, senyawa yang menyebabkan rasa pedas pada cabai. Karena itu, burung dapat memakan buah cabai tanpa mengalami sensasi terbakar seperti yang dirasakan manusia.
Kebiasaan ini ternyata juga menguntungkan tanaman cabai. Biji cabai tetap dapat berkecambah setelah melewati sistem pencernaan burung. Burung kemudian membawa biji tersebut ke tempat lain dan membantu menyebarkannya. Dengan begitu, burung turut berperan dalam membantu penyebaran tanaman cabai di alam.
4. Bersarang dalam koloni yang sangat besar

Sarang jalak tunggir merah berada di batang kayu mati yang dihuni koloni besar. (commons.wikimedia.org/Lip Kee) Jalak tunggir merah merupakan burung yang sangat suka hidup berkelompok. Kawanan burung ini dapat berisi hingga 150 individu. Kebiasaan hidup berkelompok tersebut juga terlihat saat musim berkembang biak. Jalak tunggir merah diketahui bersarang secara berkoloni dan dapat membentuk koloni dengan ratusan sarang.
Burung ini biasanya membuat sarang di lubang pada batang pohon mati atau yang sudah lapuk. Lubang tersebut kemudian dilapisi rumput dan daun oleh jantan dan betina. Menariknya, lubang sarang juga dapat digunakan sepanjang tahun sebagai tempat beristirahat. Dalam sekali bertelur, betina biasanya menghasilkan dua butir telur berwarna biru pucat dengan bintik atau bercak cokelat. Kedua induk kemudian mengerami telur secara bergantian selama sekitar 13–14 hari.
5. Belum terancam punah, tetapi tetap menghadapi ancaman

Jalak tunggir merah, burung endemik Sulawesi (commons.wikimedia.org/cuatrok77) Berdasarkan data IUCN Red List, jalak tunggir merah masih termasuk dalam kategori least concern atau berisiko rendah terancam punah. Spesies ini memiliki wilayah persebaran yang cukup luas dan masih tergolong umum di sejumlah daerah. Namun, ukuran populasinya secara keseluruhan belum diketahui secara pasti.
Status tersebut bukan berarti jalak tunggir merah sepenuhnya aman dari ancaman. Burung ini tetap bergantung pada keberadaan pohon-pohon besar dan tua untuk membuat lubang sarang. Penebangan pohon dan perubahan habitat dapat mengurangi jumlah tempat yang tersedia untuk berkembang biak. Perburuan juga menjadi ancaman tambahan karena penampilannya yang menarik membuat burung ini diminati dalam perdagangan burung peliharaan.
Itulah lima fakta menarik tentang jalak tunggir merah. Mulai dari tunggir merah yang mencolok, paruhnya yang khas, hingga kebiasaannya bersarang dalam koloni besar. Burung endemik Sulawesi ini juga memiliki peran penting dalam ekosistem sebagai pemakan buah dan penyebar biji.




















