Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Ilmuwan Mengetahui Bentuk Hewan yang Sudah Punah?
ilustrasi dinosaurus (unsplash.com/Amy-Leigh Barnard)
  • Ilmuwan merekonstruksi bentuk hewan punah dengan menganalisis fosil, terutama tulang, untuk memahami struktur tubuh, posisi otot, dan cara bergerak makhluk purba.
  • Jejak kulit, sisik, atau bulu pada fosil langka membantu ilmuwan memperkirakan tekstur serta warna tubuh hewan purba melalui analisis melanosom dan teknologi pencitraan canggih.
  • Dengan bantuan anatomi komparatif dan pemodelan digital 3D, ilmuwan menggabungkan berbagai bukti biologis serta teknologi modern guna menciptakan rekonstruksi visual yang paling akurat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika melihat rekonstruksi dinosaurus atau hewan purba di museum, kita mungkin bertanya-tanya: dari mana ilmuwan tahu bahwa hewan tersebut memiliki bentuk seperti itu? Apalagi, sebagian besar hewan yang sudah punah hanya meninggalkan tulang yang terkubur selama jutaan tahun. Tidak ada foto, video, atau manusia yang pernah melihat langsung bagaimana penampilan mereka ketika masih hidup.

Meski begitu, gambaran hewan-hewan tersebut bukan sekadar hasil imajinasi. Ilmuwan menggunakan berbagai petunjuk yang tersisa dari masa lalu untuk memperkirakan seperti apa bentuk, cara bergerak, bahkan warna tubuh hewan yang telah lama punah.

1. Tulang menjadi petunjuk utama

Prosesnya biasanya dimulai dari fosil. Setelah ditemukan dan digali dengan hati-hati, fosil dibersihkan, diawetkan, lalu dipelajari secara mendetail oleh paleontolog.

Bentuk dan ukuran tulang dapat memberikan banyak informasi tentang tubuh seekor hewan. Misalnya, tengkorak dan gigi bisa menunjukkan apakah hewan tersebut merupakan pemakan daging atau tumbuhan. Bentuk rahang juga dapat membantu memperkirakan cara hewan menggigit dan mengunyah makanan.

Permukaan tulang bahkan bisa memberikan petunjuk yang lebih detail. Bagian tulang yang memiliki tonjolan atau permukaan kasar mungkin merupakan tempat melekatnya otot dan tendon. Dari sini, ilmuwan dapat memperkirakan ukuran serta posisi otot yang pernah dimiliki hewan tersebut. Dengan menyusun berbagai informasi ini, ilmuwan bisa memperkirakan postur tubuh, cara berjalan, kemampuan berlari, hingga kekuatan gigitan hewan purba.

2. Fosil kadang menyimpan jejak kulit dan bulu

Tidak semua fosil hanya terdiri dari tulang. Dalam kondisi yang sangat jarang, bagian tubuh lunak juga dapat meninggalkan jejak.

Beberapa fosil memiliki cetakan kulit, pola sisik, jejak bulu, atau bahkan bentuk jaringan lunak. Temuan seperti ini sangat berharga karena dapat memberikan gambaran langsung mengenai permukaan tubuh hewan yang telah punah.

Misalnya, jejak bulu pada fosil dapat membantu ilmuwan mengetahui bahwa beberapa jenis dinosaurus memiliki penutup tubuh yang menyerupai bulu. Sementara itu, pola sisik atau cetakan kulit dapat membantu memperkirakan tekstur tubuhnya.

Namun, fosil dengan jaringan lunak yang masih terawetkan sangat langka. Karena itu, ilmuwan biasanya harus menggabungkan petunjuk tersebut dengan berbagai bukti lainnya.

3. Hewan yang masih hidup bisa menjadi pembanding

ilustrasi buaya dalam air (pixabay.com/Jörg Rohrer)

Untuk mengetahui seperti apa bentuk hewan yang sudah punah, ilmuwan juga mempelajari hewan yang masih hidup dan memiliki hubungan evolusi dekat dengannya.

Contohnya, ketika mempelajari dinosaurus, peneliti dapat membandingkan fosilnya dengan burung dan buaya. Keduanya merupakan kelompok hewan modern yang memiliki hubungan evolusi dengan dinosaurus.

Perbandingan ini membantu ilmuwan memahami bagaimana bagian tubuh tertentu mungkin bekerja. Jika tulang kaki hewan purba memiliki kemiripan dengan burung yang dikenal mampu berlari cepat, misalnya, hal tersebut dapat menjadi petunjuk mengenai kemampuan bergeraknya.

Metode ini dikenal sebagai anatomi komparatif. Ilmuwan membandingkan struktur tubuh yang memiliki asal-usul evolusi yang sama untuk memperkirakan bentuk dan fungsi bagian tubuh yang sudah tidak lagi tersisa.

4. Teknologi membantu menghidupkan fosil secara digital

Kemajuan teknologi membuat proses rekonstruksi hewan purba menjadi jauh lebih detail. Dengan CT scan beresolusi tinggi dan pemindai 3D, ilmuwan dapat membuat model digital fosil tanpa harus merusaknya. Bagian fosil yang patah atau hilang bahkan dapat direkonstruksi secara virtual menggunakan perbandingan dengan bagian tubuh lain atau spesies yang berkerabat.

Setelah kerangka digital tersusun, ilmuwan dapat menambahkan lapisan otot berdasarkan titik-titik perlekatan yang terlihat pada tulang. Model tersebut kemudian digunakan untuk memperkirakan bagaimana hewan itu berdiri, berjalan, atau bergerak.

Simulasi biomekanik juga dapat digunakan untuk menguji berbagai kemungkinan. Misalnya, apakah seekor dinosaurus mampu berlari dengan cepat atau hanya dapat berjalan dengan kecepatan tertentu. Dengan cara ini, rekonstruksi tidak hanya didasarkan pada tampilan luar, tetapi juga diuji berdasarkan cara kerja tubuh.

5. Ilmuwan bahkan bisa memperkirakan warna tubuh

Dulu, warna hewan purba sepenuhnya menjadi dugaan. Ilustrasi dinosaurus bisa saja memiliki warna apa pun karena tidak ada bukti yang cukup untuk memastikan penampilannya. Namun, penelitian modern mulai mengubah hal tersebut.

Pada beberapa fosil, terutama fosil yang memiliki bulu, ilmuwan dapat mempelajari struktur mikroskopis bernama melanosom. Struktur ini berkaitan dengan pigmen yang memberikan warna pada tubuh.

Bentuk dan susunan melanosom dapat memberikan petunjuk tentang warna asli bagian tubuh tertentu. Dengan bantuan mikroskop elektron dan teknologi pencitraan canggih, ilmuwan dapat memetakan kemungkinan pola warna pada fosil. (Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 2019)

Hasilnya cukup mengejutkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hewan purba tertentu mungkin memiliki bulu berwarna-warni, pola belang, atau bahkan tampilan berkilau seperti warna-warni pada bulu burung modern.

6. Semua petunjuk harus digabungkan

ilustrasi fosil dinosaurus (pixabay.com/pilar Rodíguez)

Meski teknologi semakin canggih, ilmuwan tetap tidak bisa mengetahui setiap detail dengan pasti. Rekonstruksi hewan punah merupakan proses yang menggabungkan banyak jenis bukti.

Tulang memberikan informasi tentang bentuk dan struktur tubuh. Bekas perlekatan otot membantu memperkirakan gerakan. Fosil kulit atau bulu memberikan gambaran tentang permukaan tubuh, sedangkan perbandingan dengan hewan modern membantu mengisi bagian-bagian yang tidak tersisa.

Setelah itu, data tersebut dapat digunakan oleh ilmuwan dan seniman untuk membuat model tiga dimensi atau ilustrasi yang mendekati penampilan hewan tersebut ketika masih hidup.

Jadi, bentuk hewan yang sudah punah bukan sekadar hasil imajinasi. Dari fosil, anatomi, teknologi pemindaian, hingga perbandingan dengan hewan modern, ilmuwan menggabungkan berbagai petunjuk untuk merekonstruksi masa lalu seakurat mungkin.

Referensi

Discover Magazine. Diakses pada Juli 2026. How Scientists Reconstruct What Dinosaurs Looked Like
Forbes. Diakses pada Juli 2026. How Do We Know What Extinct Species Looked Like?
Natural History Museum. Diakses pada Juli 2026. Beyond Jurassic World: What We Really Know about Dinosaurs and How
Rossi, V., McNamara, M. E., Webb, S. M., Ito, S., & Wakamatsu, K. (2019). Tissue-specific geometry and chemistry of modern and fossilized melanosomes reveal internal anatomy of extinct vertebrates. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 116(36), 17880–17889.
University College Cork. Diakses pada Juli 2026. UCC Scientists Discover New Way to Reconstruct What Extinct Animals Looked Like

Curated For You

Editorial Team

Related Article