3 Fakta Gas SO2 dari Gunung Berapi yang Jarang Diketahui

- SO2 dari erupsi dapat bereaksi dengan oksigen, sinar matahari, dan kelembapan hingga menjadi aerosol sulfat halus yang memengaruhi kualitas udara.
- Pemantauan jumlah SO2 membantu ilmuwan membaca perubahan aktivitas magma, tetapi datanya dianalisis bersama kegempaan dan perubahan bentuk tubuh gunung.
- SO2 dapat terbawa angin jauh dari kawah, membentuk vog setelah reaksi atmosfer, sehingga kualitas udara wilayah lain juga bisa terdampak.
Gas sulfur dioksida (SO2) merupakan salah satu jenis gas yang dapat dilepaskan saat gunung berapi mengalami erupsi. Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 juga disertai pelepasan berbagai material vulkanik dan gas ke atmosfer. SO2 dikenal dapat mengganggu kesehatan jika terhirup dalam konsentrasi tertentu.
Namun, gas ini ternyata memiliki sejumlah karakteristik yang mungkin belum banyak diketahui. SO2 dapat mengalami perubahan di atmosfer, digunakan untuk memantau aktivitas gunung berapi, dan terbawa angin ke wilayah yang jauh dari sumber erupsi. Lantas, apa saja fakta tentang gas SO2 dari gunung berapi yang jarang diketahui? Yuk, cari tahu jawabannya di bawah ini!
1. SO2 bisa berubah jadi partikel kecil di udara

ilustrasi gas SO2 (pexels.com/Rino Adamo) SO2 yang dilepaskan gunung berapi ternyata tidak selalu berada dalam bentuk gas di udara. Dilansir U.S. Geological Survey (USGS), SO2 dapat bereaksi dengan oksigen, sinar matahari, dan kelembapan di atmosfer. Reaksi tersebut dapat mengubah SO2 menjadi partikel sangat halus yang disebut aerosol sulfat.
Partikel ini dapat bertahan di udara dan terbawa angin menjauh dari sumber erupsi. Dalam jumlah tertentu, aerosol tersebut juga dapat memengaruhi kualitas udara di wilayah yang terdampak. Karena itu, dampak gas vulkanik dapat tetap terjadi meskipun SO2 sudah tidak berada dalam bentuk gas semula.
2. SO2 dapat membantu menunjukkan aktivitas magma

ilustrasi erupsi gunung api (pexels.com/Gylfi Gylfason) SO2 ternyata tidak hanya menjadi salah satu gas yang dilepaskan saat gunung erupsi, tetapi juga dapat menjadi petunjuk bagi para ilmuwan. Menurut laporan USGS tentang "Volcanic Gas Monitoring” pada 2024, pemantauan gas vulkanik dapat memberikan informasi mengenai kondisi dan perubahan aktivitas gunung api. Salah satu gas yang dipantau adalah SO2 karena keberadaannya dapat berkaitan dengan magma yang bergerak menuju bagian dangkal gunung api.
Perubahan jumlah SO2 yang dilepaskan juga dapat menjadi salah satu tanda adanya perubahan aktivitas vulkanik. Namun, kadar SO2 tidak digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk menentukan kondisi gunung berapi. Data gas biasanya dianalisis bersama informasi lain, seperti kegempaan dan perubahan bentuk tubuh gunung, untuk memahami aktivitas magma.
3. Gas SO2 bisa menyebar ke wilayah yang jauh

ilustrasi erupsi gunung api (pexels.com/Jeffry Surianto) SO2 yang dilepaskan saat erupsi tidak selalu hanya berada di sekitar kawah gunung api. Gas tersebut dapat terbawa angin dan menyebar ke wilayah lain, tergantung arah serta kecepatan angin. USGS menyebut, penyebaran gas vulkanik seperti SO2 dapat membentuk volcanic smog atau vog ketika bercampur dengan udara dan mengalami reaksi kimia di atmosfer.
Kondisi ini membuat kualitas udara di wilayah yang jauh dari gunung berapi juga dapat terdampak. Jarak penyebaran SO2 sangat bergantung pada kondisi atmosfer saat gas dilepaskan. Karena itu, masyarakat di sekitar gunung api maupun wilayah yang berada di arah pergerakan angin tetap perlu memperhatikan informasi kualitas udara dan aktivitas gunung api.
Gas SO2 ternyata tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan, tetapi juga dapat berubah di atmosfer dan membantu ilmuwan memantau aktivitas gunung berapi. Penyebarannya pun dapat dipengaruhi kondisi angin sehingga dampaknya tidak selalu terbatas di sekitar gunung. Kalau kamu tinggal di sekitar wilayah terdampak erupsi, tetaplah waspada dan gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, ya!





















