Walaupun sama-sama dimumikan, kondisi setiap mumi ternyata berbeda-beda. Ada yang masih mempertahankan kulit, rambut, bahkan DNA yang masih dapat diteliti, tetapi ada pula yang mengalami kerusakan cukup parah.
Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:
seberapa cepat tubuh berhasil dikeringkan,
kualitas proses pembungkusan,
seberapa rapat makam disegel,
apakah ada air yang masuk ke ruang pemakaman,
kondisi lingkungan selama ribuan tahun.
Selain proses alami, banyak mumi mengalami kerusakan akibat ulah manusia. Perampok makam, pertumbuhan jamur, pembentukan kristal garam, perubahan suhu, hingga penanganan modern turut menyebabkan sebagian mumi kehilangan kondisi aslinya.
Jadi, mumi Mesir bisa bertahan hingga ribuan tahun karena proses mumifikasi dirancang untuk menghentikan penyebab utama pembusukan. Tubuh dikeringkan menggunakan natron, organ yang mudah membusuk diangkat, kemudian dilapisi resin dan dibungkus kain linen sebelum disimpan di makam yang kering dan tertutup. Kombinasi teknik tersebut berhasil menghambat aktivitas bakteri, jamur, serta kelembapan, sehingga jasad dapat tetap terawetkan selama ribuan tahun dan menjadi salah satu warisan paling menakjubkan dari peradaban Mesir Kuno.
Referensi
Jelly Quest. Diakses pada Juni 2026. 10 Ancient Egyptian Mummy Facts You Must Know
Momments Log. Diakses pada Juni 2026. Ancient Egyptian Mummies: Preservation, Rituals, And Afterlife Beliefs
Science ABC. Diakses pada Juni 2026. How Do Mummies Stay Preserved For Such A Long Time?
Sciencing. Diakses pada Juni 2026. Here's Why Mummies Don't Decompose