Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Pohon Tak Mati Meski Kemarau Panjang? Ini Rahasianya

Kenapa Pohon Tak Mati Meski Kemarau Panjang? Ini Rahasianya
ilustrasi pohon (pexels.com/Karen Waters)
Intinya Sih
  • Pohon bertahan di musim kemarau panjang dengan mekanisme alami seperti menghemat air, mencari sumber air baru, dan memperbaiki kerusakan akibat stres kekeringan.
  • Mereka menggugurkan daun, menghentikan pertumbuhan tunas baru, serta memanfaatkan akar dalam untuk menjangkau kelembapan tanah yang tersisa.
  • Pohon menjaga aliran air melalui xilem, memperbaiki jaringan setelah hujan turun, dan menggunakan cadangan energi berupa gula serta pati agar tetap hidup hingga kondisi membaik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Musim kemarau yang berlangsung lama menjadi tantangan besar bagi tumbuhan, terutama pohon. Saat hujan tak kunjung turun, cadangan air di dalam tanah semakin menipis. Namun menariknya, banyak pohon tetap mampu bertahan hidup selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan meski berada dalam kondisi yang sangat kering.

Kemampuan ini tentu bukan karena pohon kebal terhadap kekeringan. Sebaliknya, mereka memiliki berbagai mekanisme alami yang berkembang selama jutaan tahun agar bisa menghemat air, mencari sumber air baru, hingga memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat stres kekeringan. Lantas, bagaimana sebenarnya pohon bisa bertahan saat kemarau panjang? Berikut penjelasannya.

2. Mengurangi jumlah daun agar kebutuhan air menurun

Kamu mungkin pernah melihat pohon yang meranggas saat musim kemarau. Banyak orang mengira pohon tersebut mati, padahal belum tentu demikian.

Menggugurkan sebagian daun merupakan strategi bertahan hidup yang sangat efektif. Semakin sedikit daun yang dimiliki, semakin sedikit pula air yang hilang melalui penguapan.

Selain merontokkan daun, beberapa jenis pohon juga menghentikan pertumbuhan tunas baru atau bahkan melepaskan ranting-ranting kecil yang dianggap tidak terlalu penting. Cara ini membantu pohon mengurangi kebutuhan air secara keseluruhan, mirip seperti orang yang mengurangi pengeluaran saat pemasukannya sedang berkurang.

3. Memanfaatkan akar yang lebih dalam dan lebih luas

Sebuah pohon hijau berdiri di tengah padang rumput luas dengan sinar matahari pagi menembus di antara dedaunannya.
ilustrasi pohon (pexels.com/dumitru B)

Akar menjadi salah satu kunci utama keberhasilan pohon menghadapi musim kemarau. Pohon yang memiliki sistem perakaran dalam atau menyebar luas mampu menjangkau air yang masih tersimpan di lapisan tanah yang lebih dalam. Ketika permukaan tanah sudah benar-benar kering, lapisan bawah tanah sering kali masih menyimpan kelembapan yang cukup.

Tak hanya itu, akar juga berfungsi sebagai sensor yang mendeteksi perubahan kondisi tanah. Ketika kadar air menurun, akar akan mengirim sinyal ke seluruh bagian pohon agar penggunaan air menjadi lebih hemat. Namun, akar yang dalam bukan berarti selalu menjadi jaminan. Jenis tanah, keberadaan lapisan batuan, hingga kedalaman air tanah juga menentukan apakah akar benar-benar dapat menemukan sumber air.

4. Menjaga aliran air di dalam batang tetap berjalan

Air yang diserap akar harus diangkut menuju daun melalui jaringan pembuluh yang disebut xilem. Masalahnya, saat kekeringan terjadi, aliran air di dalam xilem bisa terputus karena terbentuk gelembung udara. Kondisi ini dikenal sebagai embolisme, yaitu penyumbatan yang menghambat distribusi air ke seluruh bagian pohon.

Tidak semua pohon memiliki kemampuan yang sama dalam menghadapi masalah ini. Ada spesies yang memiliki struktur xilem lebih kuat sehingga lebih tahan terhadap terbentuknya embolisme.

Sebagian pohon bahkan mampu memperbaiki jaringan pembuluh tersebut setelah hujan kembali turun sehingga proses penyaluran air dapat berjalan normal lagi. Namun, jika kemarau berlangsung terlalu lama atau terjadi berulang kali, kerusakan pada jaringan pembuluh bisa menjadi permanen.

5. Mengandalkan cadangan makanan yang disimpan sebelumnya

Selain menyimpan air, pohon juga memiliki cadangan energi berupa gula dan pati yang tersimpan di batang, akar, maupun jaringan lainnya. Ketika fotosintesis melambat akibat stomata tertutup, pohon akan menggunakan cadangan energi tersebut untuk mempertahankan fungsi-fungsi penting agar tetap hidup.

Cadangan makanan ini juga berperan besar saat musim hujan kembali datang. Energi yang tersimpan digunakan untuk memperbaiki jaringan yang rusak, membentuk daun baru, serta mengaktifkan kembali proses pertumbuhan. Itulah sebabnya beberapa pohon tampak tetap hidup setelah kemarau panjang, tetapi membutuhkan waktu cukup lama hingga benar-benar pulih.

Kemampuan pohon bertahan saat kemarau panjang menunjukkan betapa luar biasanya cara alam beradaptasi. Dengan menghemat air, memanfaatkan akar, dan menggunakan cadangan energi, pohon mampu bertahan hingga hujan kembali turun.

Referensi

Liang, X., & Ye, Q. (2024). Integrating dehydration tolerance and avoidance in drought adaptation. Journal of Plant Ecology, 17(6).
Nashville Tree Conservation Corps. Diakses pada Juli 2026. Trees and Drought: How Do Trees Weather Long Periods of Dry Heat?
Science News. Diakses pada Juli 2026. Trees ‘Remember’ Times of Water Abundance and Scarcity
Science News. Diakses pada Juli 2026. Ultrasound Reveals Trees’ Drought-Survival Secret
Woodland Investment Management. Diakses pada Juli 2026. Surviving Drought

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More