Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bahaya Modifikasi Cuaca jika Dilakukan Terlalu Sering

Bahaya modifikasi cuaca terlalu sering
ilustrasi awan hujan (pexels.com/joshsorenson)
Intinya sih...
  • Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) digunakan untuk merespons bencana hidrometeorologi di Indonesia, seperti banjir, kekeringan, dan karhutla.
  • Bahan kimia yang digunakan dalam penyemaian awan dapat berdampak negatif terhadap lingkungan, termasuk toksisitas akut terhadap organisme tanah dan perairan tawar.
  • Modifikasi cuaca merupakan bagian dari geoengineering yang berpotensi mengubah pola curah hujan regional hingga global serta memperbesar ketidakadilan iklim.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), yang paling dikenal publik melalui praktik cloud seeding atau hujan buatan, pada dasarnya adalah upaya manusia mengintervensi proses fisik di atmosfer untuk memicu, menambah, atau mengurangi curah hujan.

Di Indonesia, TMC telah menjadi instrumen yang relatif rutin digunakan, terutama untuk merespons bencana hidrometeorologi seperti banjir, kekeringan, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap berulang setiap tahun

Table of Content

Risiko lingkungan

Risiko lingkungan

Salah satu aspek yang paling jarang dibahas secara publik adalah dampak lingkungan dari bahan kimia yang digunakan dalam penyemaian awan, terutama jika praktik ini dilakukan berulang dalam jangka panjang.

Perak iodida (AgI) merupakan bahan yang paling umum digunakan dalam cloud seeding karena struktur kristalnya menyerupai es, sehingga efektif memicu pembentukan hujan. Selama puluhan tahun, AgI dianggap “relatif aman” karena digunakan dalam konsentrasi yang sangat rendah. Namun, asumsi keamanan ini terutama didasarkan pada paparan sesaat, bukan pada akumulasi kronis akibat penggunaan berulang.

Studi eksperimental menunjukkan bahwa AgI memiliki potensi toksisitas akut terhadap organisme tanah dan perairan tawar, khususnya Enchytraeus crypticus, sejenis cacing tanah yang sering digunakan sebagai indikator kesehatan ekosistem tanah.

Temuan ini penting karena organisme tanah berperan krusial dalam siklus nutrien dan struktur tanah. Paparan berulang, meskipun dalam dosis rendah, berpotensi menyebabkan akumulasi perak di lingkungan, yang dalam jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem.

Selain AgI, bahan lain seperti garam (NaCl dan CaCl₂) juga digunakan dalam beberapa metode modifikasi awan. Sejumlah tulisan ilmiah-populer dan kajian lingkungan menyoroti risiko akumulasi garam ini di tanah dan perairan. Dampak yang dikhawatirkan meliputi salinisasi tanah, perubahan sifat kimia tanah, penurunan produktivitas pertanian, hingga kontribusi tidak langsung terhadap hujan asam dalam kondisi atmosfer tertentu.

Jika penyemaian dilakukan secara intensif selama bertahun-tahun di wilayah yang sama, risiko kumulatif ini menjadi semakin relevan.

Modifikasi cuaca sebagai geoengineering

ilustrasi hujan asam (pexels.com/Genaro Servín)
ilustrasi hujan asam (pexels.com/Genaro Servín)

Masalah modifikasi cuaca tidak berhenti pada skala lokal. Dalam literatur ilmiah, praktik ini sering diposisikan sebagai bagian dari spektrum yang lebih luas, yakni climate engineering atau geoengineering. Intervensi manusia terhadap sistem iklim—termasuk modifikasi awan—berpotensi mengubah pola curah hujan regional hingga global.

Dampaknya tidak selalu simetris: wilayah tertentu bisa menjadi lebih basah, sementara wilayah lain justru mengalami kekeringan yang lebih parah. Kondisi ini berpotensi memperbesar ketidakadilan iklim, terutama bagi negara atau komunitas yang tidak terlibat dalam pengambilan keputusan.

Dalam skenario yang lebih luas, modifikasi awan di atmosfer atau laut dapat berinteraksi dengan fenomena besar seperti ENSO (El Niño–Southern Oscillation), sistem monsun, dan pola angin regional. Ironisnya, beberapa model menunjukkan bahwa meskipun suhu global dapat ditekan, distribusi hujan justru bisa menjadi semakin tidak merata, membuat sebagian wilayah lebih kering daripada sebelumnya.

Perspektif tata kelola

Kesadaran akan risiko tersebut tercermin dalam sikap kehati-hatian berbagai lembaga ilmiah dan regulator internasional. Dikatakan bahwa bukti efektivitas cloud seeding masih terbatas dan sulit dipisahkan dari variabilitas alamiah cuaca. AMS secara eksplisit menekankan perlunya penelitian lanjutan, pemantauan jangka panjang, dan evaluasi dampak lingkungan sebelum program skala besar diperluas.

Berbagai lembaga ilmiah dan regulator sepakat bahwa modifikasi cuaca dan rekayasa iklim bukan sekadar persoalan teknis, melainkan persoalan tata kelola risiko yang kompleks. Intensifikasi penggunaan tanpa kerangka regulasi, pemantauan, dan evaluasi jangka panjang yang memadai berpotensi memindahkan risiko bencana dari satu wilayah ke wilayah lain, sekaligus memperbesar ketimpangan iklim global.

Referensi

Sidauruk, Magdalena, Herlina Juni Risma Saragih, Sugeng Tri Utomo, Pujo Widodo, and Kusuma. “Pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca Sebagai Upaya Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Di Indonesia.” PENDIPA Journal of Science Education 7, no. 2 (June 23, 2023): 195–200.

Fajardo, C., G. Costa, L.T. Ortiz, M. Nande, M.L. Rodríguez-Membibre, M. Martín, and S. Sánchez-Fortún. “Potential Risk of Acute Toxicity Induced by AgI Cloud Seeding on Soil and Freshwater Biota.” Ecotoxicology and Environmental Safety 133 (August 9, 2016): 433–41.

Wondie, Megbar. “Modeling Cloud Seeding Technology for Rain Enhancement Over the Arid and Semiarid Areas of Ethiopia.” Heliyon 9, no. 4 (March 29, 2023): e14974.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
Retno Rahayu
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More

4 Tipe Gerhana Matahari yang Terlihat dari Bumi, Semuanya Indah!

27 Jan 2026, 16:44 WIBScience