- Hindari membuat permintaan atau menghasilkan konten berulang kali jika hasil sebelumnya sudah cukup sesuai. Semakin banyak permintaan diproses, makin besar pula sumber daya komputasi yang dibutuhkan.
- Pilih tugas yang sesuai dengan kebutuhan. Tidak semua pekerjaan membutuhkan model AI dengan kemampuan komputasi tinggi. Untuk pertanyaan sederhana, sebaiknya gunakan fitur atau model yang lebih ringan jika tersedia.
- Kurangi penggunaan AI untuk hal yang tidak diperlukan. Misalnya, tidak perlu menggunakan AI untuk setiap pencarian sederhana, membuat banyak variasi gambar hanya untuk memilih satu, atau menghasilkan ulang teks berkali-kali tanpa tujuan yang jelas.
- Pertimbangkan kembali penggunaan AI untuk menghasilkan gambar atau video.
- Gunakan hasil AI lebih lama dan lakukan penyuntingan secara manual. Jika sebuah teks, gambar, atau materi sudah cukup baik, memperbaikinya secara manual dapat mengurangi kebutuhan untuk terus menghasilkan versi baru dari AI.
- Mempertimbangkan layanan yang transparan mengenai penggunaan energi, air, dan upaya mereka dalam mengurangi dampak lingkungan.
Benarkah AI Bisa Mengurangi Air di Bumi? Ini Faktanya

Operasi AI membutuhkan air untuk mendinginkan pusat data, pembangkitan listrik, serta pembuatan chip dan server.
Penggunaan air global terkait AI diproyeksikan naik dari 1,1 menjadi 6,6 miliar meter kubik pada 2027.
Pelatihan GPT-3 diperkirakan memakai sekitar 700.000 liter air.
Kecerdasan buatan (AI) berkembang begitu cepat hingga kehadirannya kini terasa dalam berbagai aktivitas, baik untuk bekerja, belajar, mencari informasi, maupun membuat beragam konten. Agar semua kemampuan tersebut dapat berjalan, AI membutuhkan pusat data dan perangkat komputasi yang beroperasi secara intensif. Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan lain mengenai sumber daya yang ikut digunakan di balik perkembangan teknologi tersebut, termasuk air.
Jadi, benarkah AI bisa mengurangi air di Bumi? Penggunaan AI dalam skala besar memang dapat meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air tawar, terutama di wilayah yang sudah mengalami kelangkaan air. Untuk memahami bagaimana hal ini bisa terjadi dan seberapa besar dampaknya, simak penjelasan berikut.
Table of Content
1. Benarkah AI bisa mengurangi air di Bumi?
Penggunaan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya membutuhkan listrik dan perangkat komputer, tetapi juga air dalam jumlah besar. Pasalnya, pusat data yang menjalankan berbagai layanan AI menghasilkan panas tinggi saat server bekerja. Sistem pendingin kemudian menggunakan air untuk menjaga suhu perangkat tetap aman dan mencegah server mengalami kerusakan.
Konsumsi air tersebut terjadi melalui beberapa jalur. Air digunakan secara langsung untuk mendinginkan server di pusat data, secara tidak langsung dalam proses pembangkitan listrik, serta selama pembuatan perangkat keras seperti server dan chip. Laporan Government Digital Sustainability Alliance (GDSA) bahkan memperkirakan penggunaan air global yang berkaitan dengan AI dapat meningkat dari sekitar 1,1 miliar menjadi 6,6 miliar meter kubik pada 2027.
2. Berapa banyak air yang dibutuhkan AI?

ilustrasi menggunakan AI (pexels.com/Matheus Bertelli) Kebutuhan air dalam pengembangan AI ternyata dapat mencapai angka yang cukup besar. Salah satu contohnya terlihat pada GPT-3, model bahasa besar yang dikembangkan sebelum teknologi seperti ChatGPT digunakan secara luas. Berdasarkan referensi tersebut, proses pre-training GPT-3 diperkirakan membutuhkan sekitar 700.000 liter air untuk membantu menjaga infrastruktur komputasinya tetap dingin.
Angka tersebut baru menggambarkan kebutuhan pada tahap pelatihan satu model. Setelah AI digunakan oleh jutaan hingga miliaran orang, kebutuhan sumber daya terus bertambah karena setiap permintaan harus diproses oleh pusat data. United Nations University (UNU) memperkirakan konsumsi air yang berkaitan dengan AI dapat setara dengan kebutuhan dasar domestik tahunan sekitar 1,3 miliar orang pada akhir dekade ini.
3. Dampaknya bagi lingkungan
Masalah konsumsi air oleh AI tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak air yang digunakan, tetapi juga di mana pusat data tersebut berada. Data dari GDSA menunjukkan sekitar 55 persen pusat data global berada di daerah aliran sungai yang memiliki risiko tinggi terhadap pencemaran air. Hampir 68 persen lainnya berada di dekat kawasan lindung atau Key Biodiversity Areas yang bergantung pada ketersediaan air bersih untuk menjaga kesehatan ekosistem.
Ketika air tawar semakin terbatas, masyarakat dan lingkungan dapat menghadapi tekanan yang lebih besar. Kekurangan air dapat mengganggu kebutuhan rumah tangga, pertanian, hingga habitat berbagai spesies. Kondisi tersebut juga dapat memperburuk kerentanan wilayah terhadap perubahan iklim, terutama ketika masyarakat harus menghadapi gelombang panas atau kekeringan yang sudah meningkatkan kebutuhan terhadap air bersih.
Dampak AI juga tidak berhenti pada air. Pusat data membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan sebagian energi tersebut masih berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil. Aktivitas pembangkitan listrik dapat menghasilkan emisi dan polutan udara seperti PM2.5 dan sulfur dioksida.
4. Apa yang bisa kita lakukan?

ilustrasi AI, DeepSeek, pengguna AI (pexels.com/Abdelrahman Ahmed) Meskipun sebagian besar penggunaan air dan energi AI terjadi di balik layar, kita tetap dapat ikut mengurangi dampaknya melalui kebiasaan menggunakan teknologi secara lebih bijak. Langkahnya tidak harus besar, tetapi dapat dimulai dari cara kita memanfaatkan AI sehari-hari, seperti:
Jadi, benarkah AI bisa mengurangi air di Bumi berkaitan erat dengan besarnya kebutuhan air di balik pengoperasian teknologi ini. Dengan mengetahui proses dan dampaknya, kita dapat lebih memahami konsekuensi lingkungan dari penggunaan AI yang semakin luas.
Referensi
"Counting the Price of an Answer: When AI Intelligence Comes at the Price of Clean Water and Fresh Air". BMKG. Diakses September 2026.
"AI’s Thirst For Water". GOV.UK. Diakses September 2026.
"AI’s Environmental Costs Threaten Water, Land and Climate". United Nations. Diakses September 2026.












![[QUIZ] Seberapa Mengenal Kamu dengan Bahasa Indonesia? Buktikan Lewat Kuis Ini!](https://image.idntimes.com/post/20250603/pexels-zen-chung-5538323-deff070f3502b7a1fdf062e1f44e5ba8-6d83b20b68abe64ded6ae3941a23bbb4.jpg)
![[QUIZ] Jika Reinkarnasi Nyata, Kamu Akan Jadi Siapa di SpongeBob Squarepants?](https://image.idntimes.com/post/20240913/kuis-reinkarnasi-spongebob-1-055f713630759f1bd94eb0e31126b6e8.jpg)

![[QUIZ] Jika Reinkarnasi Nyata, Jadi Siapa Kamu di Upin & Ipin Universe?](https://image.idntimes.com/post/20240801/kuis-reinkarnasi-upin-ipin-1-ed6d2af7bdd53fd96fac0b8672909e49.jpg)


![[QUIZ] Dari Karakter Upin & Ipin, Ini Kucing yang Cocok Kamu Pelihara](https://image.idntimes.com/post/20230410/pexels-hazan-akoz-isik-751050-f0accad13a699adf83a6016667620d98-666ab675ce820ba8e0a284a7bd659817.jpg)
