Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Studi: ChatGPT Bantu Proses Belajar, Tapi Bisa Lemahkan Daya Ingat

Studi: ChatGPT Bantu Proses Belajar, Tapi Bisa Lemahkan Daya Ingat
Man with ChatGPT in Laptop (pexels.com/Matheus Bertelli)
Intinya Sih
  • Studi dari André Barcaui menunjukkan ChatGPT mempercepat proses belajar mahasiswa, tapi menurunkan kemampuan retensi informasi karena pengguna jadi terlalu bergantung pada bantuan AI.
  • Mahasiswa yang menggunakan ChatGPT menyelesaikan tugas lebih cepat namun memperoleh nilai rata-rata lebih rendah dibanding kelompok tanpa AI, menandakan pemahaman materi yang kurang mendalam.
  • Fenomena ini dikaitkan dengan konsep 'digital amnesia', di mana kemudahan akses informasi lewat AI membuat otak kehilangan latihan kognitif dan berpotensi melemahkan daya ingat jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sebuah studi terbaru menemukan bahwa chatbot AI seperti ChatGPT bisa membantu seseorang belajar lebih cepat, tetapi di sisi lain juga berpotensi mengurangi kemampuan otak dalam menyimpan informasi. Temuan ini memperlihatkan bagaimana AI mulai berperan sebagai “cognitive crutch” atau penopang kognitif. Ini merupakan alat yang mempermudah proses berpikir, namun bisa membuat pengguna menjadi terlalu bergantung.

Penelitian tersebut dilakukan oleh André Barcaui dari Federal University of Rio de Janeiro melalui eksperimen terhadap 120 mahasiswa. Dalam studi itu, separuh peserta diperbolehkan menggunakan ChatGPT untuk membantu menyelesaikan tugas mengenai kecerdasan buatan, sementara separuh lainnya harus mengerjakannya tanpa bantuan AI.

Hasil awal menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan chatbot mampu menyelesaikan tugas lebih cepat dan menghasilkan jawaban yang lebih terstruktur. Namun, penelitian juga mengindikasikan bahwa pengguna cenderung memiliki tingkat retensi informasi yang lebih rendah dibandingkan mereka yang mengandalkan pemikiran sendiri selama proses belajar.

1. Pengguna ChatGPT ternyata lebih sulit mengingat materi

Dalam penelitian tersebut, André Barcaui juga memberikan tes mendadak kepada para peserta 45 hari setelah tugas selesai dikerjakan. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok antara kelompok yang menggunakan ChatGPT dan mereka yang belajar secara konvensional.

Mahasiswa yang mengandalkan ChatGPT hanya memperoleh rata-rata nilai 5,75 dari 10, sementara kelompok yang belajar tanpa bantuan AI mencatat rata-rata lebih tinggi, yakni 6,85 dari 10. Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa kemudahan akses jawaban dari AI dapat membuat pengguna tidak benar-benar menyerap informasi secara mendalam.

Meski skala penelitian ini masih terbatas, hasilnya sejalan dengan sejumlah studi lain yang menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk mencari informasi cenderung mengurangi keterlibatan mental dalam proses belajar.

Dalam makalahnya, Barcaui menulis bahwa "penggunaan ChatGPT tanpa batas tampaknya mengganggu retensi jangka panjang, kemungkinan karena mengurangi upaya kognitif yang mendukung memori yang bertahan lama."

2. AI mempermudah belajar, tapi tidak selalu akurat

College student ChatGpt for studying (pexels.com/Shantanu Kumar)
College student ChatGpt for studying (pexels.com/Shantanu Kumar)

Kemunculan ChatGPT dan berbagai chatbot AI lain memang membuat proses mencari informasi menjadi jauh lebih praktis. Pengguna bisa memperoleh ringkasan tentang hampir semua topik dalam hitungan detik, mulai dari DNA, sejarah Romawi, film klasik tahun 1950-an, hingga rekomendasi olahraga untuk usia di atas 50 tahun.

Namun, informasi yang diberikan AI berasal dari kumpulan data besar yang diambil dari internet dan berbagai sumber lain, sehingga tidak selalu akurat.

Dalam penelitian ini, para mahasiswa diberi waktu sekitar dua minggu untuk mempelajari topik kecerdasan buatan sebelum diminta melakukan presentasi selama 10 menit. Separuh peserta diperbolehkan menggunakan ChatGPT untuk mencari informasi, menyusun penjelasan, merangkum materi, hingga memberikan contoh pendukung. Sementara itu, kelompok lainnya harus mengandalkan metode riset tradisional tanpa bantuan AI.

Pendekatan ini menunjukkan bagaimana AI mampu mempercepat proses belajar dan penyusunan materi. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran apakah pengguna benar-benar memahami informasi yang dipelajari, atau hanya bergantung pada kemampuan AI dalam menyusun jawaban secara instan.

3. Belajar dengan AI lebih cepat, tetapi hasilnya tidak konsisten

Penelitian ini juga mempertimbangkan tingkat pengalaman peserta dalam menggunakan chatbot AI seperti ChatGPT. Para mahasiswa dibagi secara seimbang berdasarkan frekuensi penggunaan AI sebelumnya. Meski tidak ada peserta yang benar-benar pemula atau ahli, lebih dari separuh mengaku sudah cukup sering menggunakan AI dalam aktivitas sehari-hari mereka.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang belajar dengan metode tradisional memperoleh nilai sekitar 11 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok pengguna ChatGPT. Dalam konteks ujian standar, selisih ini bahkan bisa setara dengan perbedaan satu tingkat nilai penuh. Selain itu, nilai peserta non-AI cenderung terkonsentrasi di level tinggi, sementara hasil kelompok pengguna ChatGPT lebih bervariasi dan tersebar.

Meski demikian, penggunaan AI terbukti membuat proses belajar menjadi jauh lebih cepat. Kelompok yang menggunakan ChatGPT rata-rata hanya membutuhkan waktu sekitar 3,2 jam untuk menyelesaikan tugas, sedangkan kelompok tanpa AI menghabiskan sekitar 5,8 jam.

4. Fenomena "Digital Amnesia"

Konsep cognitive offloading atau penggunaan alat eksternal untuk membantu kerja otak sebenarnya bukan hal baru. Sebelum era AI, manusia sudah lama mengandalkan kalkulator, buku, hingga mesin pencari internet untuk mempermudah proses berpikir dan mengingat informasi.

Pada 2011, tim peneliti yang dipimpin Betsy Sparrow dari Columbia University memperkenalkan fenomena yang kemudian dikenal sebagai “digital amnesia”. Istilah ini menggambarkan bagaimana mesin pencari seperti Google memengaruhi kemampuan manusia dalam menyimpan informasi karena otak terbiasa mengandalkan akses instan ke data digital.

Kini, dengan hadirnya asisten AI yang mampu mengambil alih sebagian besar beban mental, para peneliti mulai melihat dampak yang lebih luas. Sejumlah studi menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi seperti ChatGPT berpotensi mengubah cara manusia berpikir, fokus, memahami, hingga mengingat informasi.

Beberapa penelitian bahkan mengindikasikan bahwa kemudahan yang ditawarkan AI dapat membuat otak kehilangan “latihan” yang dibutuhkan untuk mempertahankan kemampuan kognitifnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi kualitas pembelajaran dan daya ingat pengguna jika ketergantungan terhadap AI terus meningkat.

Meski begitu, para peneliti tidak menyimpulkan bahwa penggunaan AI seperti ChatGPT harus dihindari sepenuhnya. Teknologi ini tetap menawarkan manfaat besar dalam mempercepat akses informasi dan membantu proses belajar. Tantangannya adalah bagaimana pengguna dapat memanfaatkan AI secara seimbang.

Referensi

Barcaui, André. “ChatGPT as a Cognitive Crutch: Evidence From a Randomized Controlled Trial on Knowledge Retention.” Social Sciences & Humanities Open 12 (January 1, 2025): 102287.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More
Apa Fungsi Tanduk Jerapah?

Apa Fungsi Tanduk Jerapah?

08 Mei 2026, 18:05 WIBScience