Burung Albatros (commons.wikimedia/JJ Harrison)
Burung hidup di lingkungan yang penuh ketidakpastian. Artinya, demi bisa bertahan hidup burung-burung harus selalu di mode waspada, pandai beradaptasi, dan tanggap merespons ancaman predator serta perubahan iklim. Meski dituntut untuk selalu di mode siaga, burung juga tetap membutuhkan waktu tidur demi memulihkan tubuh, istirahat, dan penyembuhan.
Umumnya, hewan yang aktif di siang hari akan tidur di malam hari, begitupun hewan yang aktif di malam hari, maka siang hari adalah waktunya tidur. Selama siklus tidur, aktivitas otak berkurang, begitupun laju metabolisme dan kesadaran sensorik terhadap lingkungan sekitar hewan. Dalam hal ini, ketika manusia dan banyak jenis satwa liar tidur, kedua sisi otaknya tidak aktif dalam proses yang dikenal sebagai tidur gelombang lambat bihemisferik (BSWS).
Hewan liar yang tidur nyenyak selama berjam-jam cenderung lebih rentan terhadap predator dan ancaman lingkungan lainnya. Lalu, bagaimana dengan burung yang harus tetap di mode siaga dan kebutuhan tidur khususnya saat melakukan penerbangan? Berbeda dengan hewan lainnya, burung dapat tidur dalam beberapa siklus pendek yang seringkali hanya berlangsung beberapa menit, tetapi berulang ratusan kali setiap hari.
Setiap siklus tidur burung mencakup tidur gelombang lambat (SWS) yang dalam dan tidur gerakan mata cepat (REM). Pada manusia sendiri, fase REM adalah saat sebagian besar mimpi terjadi. Pada burung, agar tetap sadar dan responsif terhadap lingkungannya, burung melakukan tidur gelombang lambat unihemisferik (USWS), menjaga satu bagian otak dan mata yang terkait tetap aktif, sementara sisi lainnya tidur.
Burung dapat beristirahat dengan kedua belahan otak tertidur ketika berada di lingkungan yang relatif aman, atau dengan satu belahan otak tertidur dan belahan lainnya terjaga ketika mereka perlu tetap waspada dan aktif. Ketika hanya satu sisi otak mereka tertidur, mata yang terkait dengan sisi yang terjaga tetap terbuka.