ilustrasi polusi udara (pixabay.com/Erdenebayar)
Hujan memang bisa membantu mengurangi sebagian polutan di udara, tetapi efeknya gak selalu bertahan lama, lho. Begitu hujan reda, asap kendaraan, aktivitas industri, dan pembakaran bisa kembali menambah polutan ke udara. Belum lagi, kondisi cuaca seperti suhu, sinar matahari, dan arah angin juga ikut menentukan apakah polutan akan menyebar, bertahan, atau justru meningkat lagi.
Nah, itulah sebabnya kualitas udara bisa berbeda antara sebelum hujan, saat hujan berlangsung, dan beberapa jam setelahnya. Jadi, hujan bukan solusi utama untuk mengatasi polusi udara karena sumber pencemarannya tetap perlu dikendalikan. Upaya seperti mengurangi emisi kendaraan, membatasi pembakaran terbuka, dan mengendalikan emisi industri tetap penting agar kualitas udara bisa membaik dalam jangka panjang.
Hujan memang bisa membantu mengurangi sebagian polusi udara dengan membawa partikel polutan turun ke permukaan bumi, tetapi efeknya gak berlaku sama untuk semua jenis polutan. Jadi, meskipun udara terasa lebih segar setelah hujan, bukan berarti kualitas udaranya otomatis bersih atau bebas dari pencemaran. Nah, supaya gak hanya mengandalkan perasaan, yuk cek indeks kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan!
Referensi:
“Air-Surface Exchange Process Overview.” United States Environmental Protection Agency (EPA). Diakses Oktober 2026.
“A Synthesis Review on Atmospheric Wet Deposition of Particulate Elements: Scavenging Ratios, Solubility, and Flux Measurements.” Environmental Reviews. Diakses Oktober 2026.
“Atmospheric Deposition: Sampling Procedures, Analytical Methods, and Main Recent Findings from the Scientific Literature.” Advances in Meteorology. Diakses Oktober 2026.
“Below-cloud Scavenging of Aerosol by Rain: A Review of Numerical Modelling Approaches and Sensitivity Simulations with Mineral Dust in the Met Office's Unified Model.” Atmospheric Chemistry and Physics. Diakses Oktober 2026.
“Improving Wet and Dry Deposition of Aerosols in WRF-Chem: Updates to Below-Cloud Scavenging and Coarse-Particle Dry Deposition.” Journal of Advances in Modeling Earth Systems. Diakses Oktober 2026.