Burung kagu (commons.wikimedia.org/Lennart Hudel)
Keterbatasan persebaran kagu berkaitan erat dengan sejarah evolusinya sebagai burung pulau yang berkembang dalam lingkungan tanpa banyak predator mamalia. Selama ribuan tahun, kagu menghadapi tekanan yang berbeda dari burung di wilayah benua, sehingga kemampuan terbangnya berkurang dan kehidupan di lantai hutan menjadi bagian dari cara hidup spesies tersebut. Kondisi itu membuat kagu sangat bergantung pada lingkungan tempatnya berevolusi.
Kondisi tersebut menjadi persoalan ketika manusia membawa hewan baru ke Kaledonia Baru. Anjing yang berkeliaran bebas kini menjadi predator penting bagi kagu, sementara kemampuan terbang yang sangat terbatas membuat burung ini tidak dapat melarikan diri ke udara ketika dikejar. Keberadaan anjing dapat membatasi habitat kagu yang benar-benar aman hingga kurang dari separuh kawasan hutan hujan yang sebenarnya sesuai bagi spesies tersebut.
Menariknya, kagu sebenarnya pernah memiliki persebaran yang berbeda pada masa lalu. Burung kagu secara historis juga hidup di Île des Pins, tetapi populasi tersebut telah punah setelah kedatangan manusia sekitar 3 ribu tahun lalu. Karena itu, jika pertanyaannya adalah apakah kagu sekarang hanya ditemukan di satu pulau, jawabannya memang iya; tetapi secara historis, persebaran kagu pernah mencakup setidaknya satu pulau lain di sekitar Kaledonia Baru.
Keterbatasan wilayah hidup ternyata menjadi salah satu hal yang membuat burung kagu begitu menarik untuk dipelajari, terlebih spesies ini memiliki sejumlah adaptasi khusus untuk bertahan sebagai burung penghuni lantai hutan. Mengetahui fakta tersebut juga membuat burung kagu hanya ditemukan di satu pulau saja untuk hidup secara alami.