Mengapa Cangkang Moluska Bisa Menyimpan Jejak Polusi Laut?

Cangkang moluska menyerap unsur kimia dari air laut
Lapisan pertumbuhan cangkang merekam perubahan kualitas perairan
Struktur kristal kalsium karbonat mengunci partikel polutan
Moluska hidup menetap di dasar laut atau menempel pada batuan, terumbu, hingga tiang dermaga, sehingga cangkangnya terus bersentuhan dengan air laut sepanjang hidupnya. Pada spesies bercangkang keras seperti kerang dan tiram, lapisan kalsium karbonat terbentuk sedikit demi sedikit mengikuti pertumbuhan tubuhnya.
Proses pembentukan itu tidak hanya menyusun mineral murni, tetapi juga menangkap unsur lain yang ikut terlarut di perairan. Karena itu, pembahasan tentang moluska sering muncul saat membicarakan polusi laut. Berikut penjelasan lebih lanjut.
1. Cangkang moluska menyerap unsur kimia dari air laut

Cangkang tersusun dari kalsium karbonat dalam bentuk aragonite atau calcite (mineral karbonat alami (CaCO₃)) yang mengendap dari air laut. Saat proses pengendapan berlangsung, ion logam seperti timbal, kadmium, atau merkuri yang ikut terlarut dapat tersisip di antara struktur kristalnya. Unsur tersebut terbawa bersama aliran mineral pembentuk cangkang. Karena moluska terus menyaring air untuk makan dan bernapas, paparan unsur kimia terjadi secara berulang.
Ketika konsentrasi logam berat di perairan meningkat, jumlah yang terjebak di cangkang pun ikut bertambah. Lapisan baru yang terbentuk pada periode ini akan memiliki komposisi berbeda dibanding lapisan sebelumnya. Jejak ini tidak mudah hilang karena struktur mineralnya padat dan relatif tahan terhadap perubahan lingkungan.
2. Lapisan pertumbuhan cangkang merekam perubahan kualitas perairan

Pertumbuhan cangkang berlangsung bertahap dan membentuk garis mirip cincin pada batang pohon. Setiap garis mewakili fase waktu tertentu, baik musiman maupun tahunan, tergantung spesiesnya. Jika pada periode tertentu terjadi peningkatan polutan, lapisan yang terbentuk saat itu akan menyimpan komposisi kimia yang berbeda. Perubahan kecil pada kadar unsur dapat dilacak melalui perbedaan warna, kepadatan, hingga struktur mikro.
Dengan membaca urutan lapisan tersebut, kondisi perairan di masa lalu dapat ditelusuri tanpa harus memiliki data pemantauan sejak awal. Cangkang lama yang tersimpan di sedimen bahkan bisa menunjukkan kapan aktivitas industri mulai memengaruhi wilayah pesisir. Informasi ini membantu memahami kapan pencemaran meningkat atau menurun.
3. Struktur kristal kalsium karbonat mengunci partikel polutan

Kalsium karbonat pada cangkang tersusun dalam kisi kristal yang memiliki ruang kecil di antaranya. Ruang inilah yang memungkinkan ion asing masuk dan menggantikan sebagian posisi kalsium. Begitu ion tersebut terperangkap, ia menjadi bagian dari struktur padat yang sulit terlepas kembali ke air.
Selain logam berat, isotop tertentu juga dapat ikut terjebak di dalam struktur tersebut. Perbandingan isotop oksigen atau karbon, misalnya, dapat menunjukkan perubahan suhu dan komposisi air laut saat lapisan terbentuk. Artinya, cangkang menyimpan informasi lebih luas dari sekadar kadar polutan. Kombinasi data kimia dan isotop memberi gambaran detail mengenai kondisi laut pada periode tertentu.
4. Kebiasaan makan moluska memperbesar akumulasi polutan

Banyak moluska bercangkang hidup sebagai filter feeder yang menyaring partikel mikroskopis dari air. Partikel itu tidak hanya berupa plankton, tetapi juga mikroplastik dan serpihan organik yang membawa logam berat. Saat partikel tertelan, sebagian unsur kimia dapat terserap ke jaringan tubuh lalu ikut terbawa dalam proses pembentukan cangkang.
Jika suatu kawasan pesisir menerima limpasan limbah dari daratan, moluska di wilayah tersebut cenderung menunjukkan kandungan logam lebih tinggi pada cangkangnya. Perbedaan ini bisa dibandingkan dengan moluska dari perairan yang lebih bersih. Dengan begitu, variasi kadar polutan antar lokasi dapat dipetakan melalui analisis cangkang. Cara ini memberi gambaran sebaran pencemaran tanpa harus mengambil sampel air setiap saat.
5. Cangkang moluska menjadi arsip lingkungan jangka panjang

Berbeda dari air laut yang komposisinya mudah berubah karena arus dan pasang surut, cangkang menyimpan catatan yang tidak langsung terhapus. Bahkan setelah moluska mati, cangkangnya dapat tertimbun di dasar laut dan tetap menyimpan informasi kimia. Sampel cangkang dari lapisan sedimen yang berbeda usia bisa dibandingkan untuk melihat perubahan kualitas laut selama puluhan hingga ratusan tahun. Arsip alami ini membantu menyusun gambaran sejarah pencemaran di suatu wilayah.
Keunggulan lainnya terletak pada ketersediaan sampel yang melimpah di banyak pesisir. Kerang dan tiram sering ditemukan dalam jumlah besar, sehingga analisis dapat dilakukan berulang untuk memastikan konsistensi data. Informasi dari cangkang juga dapat dikaitkan dengan catatan aktivitas manusia di daratan sekitar. Dari situ terlihat hubungan antara perkembangan industri dan peningkatan kandungan polutan di laut.
Cangkang moluska menyimpan jejak polusi laut karena unsur kimia yang terlarut ikut masuk saat mineralnya terbentuk. Komposisi tiap lapisan dapat dibaca untuk melihat perubahan kualitas perairan dari waktu ke waktu. Dengan data itu, kondisi laut tidak hanya dipantau lewat sampel air saat ini, tetapi juga melalui catatan yang sudah tersimpan lama di dalam hewan laut satu ini.


















