Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Ekstrem Heatwave yang Bisa Membuat Suhu Kota Seperti Gurun
ilustrasi heatwave di Kutub (pexels.com/Кирилл Абрамов)
  • Gelombang panas adalah fenomena suhu ekstrem yang berlangsung lama, bisa terjadi di wilayah mana pun termasuk kutub, dan didefinisikan saat suhu melebihi rata-rata lebih dari 5°C selama lima hari berturut-turut.
  • Heatwave meningkatkan risiko kesehatan serius seperti kelelahan dan serangan panas, dengan catatan ribuan kematian pada peristiwa ekstrem seperti Eropa 2003 dan Rusia 2010.
  • Perubahan iklim memperparah frekuensi serta intensitas heatwave di darat maupun laut, memicu kerusakan ekosistem, gangguan cuaca alami, dan ancaman bagi kehidupan manusia serta spesies laut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Heatwave atau gelombang panas diartikan sebagai fenomena di mana suhu udara berada jauh di atas rata-rata normal yang menyebabkan suhu ekstrem di suatu wilayah dengan durasi yang cukup panjang. Ini bukanlah fenomena panas biasa, karena sering kali heatwave berujung pada tercatatnya angka kematian yang cukup tinggi. Heatwave ini terjadi jika suhu maksimum harian lebih dari 5 derajat Celcius dari suhu rata-rata normal, di mana kondisi tersebut terjadi selama 5 hari berturut-turut.

Gelombang panas ini berbeda dengan cuaca panas, di mana heatwave ditandai oleh intensitas suhu yang meningkat, durasi lama, dan tidak ada penurunan suhu pada malam hari. Sementara itu, cuaca panas cenderung berlangsung lebih singkat dan akan menurun pada malam hari. Dalam artikel ini kita akan membahas lebih dalam fakta-fakta menarik seputar heatwave. Berikut penjelasannya!

1. Panas ekstrem hingga di wilayah kutub

ilustrasi heatwave di Kutub (pexels.com/Кирилл Абрамов)

Heatwave atau disebut gelombang panas merupakan periode panjang cuaca yang luar biasa panas dibandingkan dengan rata-rata historis di suatu daerah. Akibatnya, gelombang panas bergantung pada kondisi lokal secara regional dan musiman. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mendefinisikan gelombang panas sebagai periode lima hari atau lebih berturut-turut ketika suhu lebih dari 5 derajat celcius di atas suhu rata-rata.

Namun, karena adanya variabilitas regional, definisi WMO tidak bersifat universal dan organisasi nasional memiliki wewenang untuk mendefinisikan dan menyatakan gelombang panas secara lokal. Artinya, bahwa penas ekstrem ini dapat terjadi di musim apa pun dan di wilayah mana pun, bahkan di daerah kutub. Ketika suhu melebihi ambang batas lokal, hal itu dianggap sebagai panas ekstrem. Jika suhu ekstrem tersebut berlangsung dalam jangka waktu lama, hal itu disebut gelombang panas. Panas ekstrem menyebabkan gelombang panas dan terjadi ketika suhu jauh lebih tinggi dari rata-rata.

2. Heatwave bisa menyebabkan risiko penyakit

Ilustrasi sakit akibat heatwave (pexels.com/Fring)

Seiring meningkatnya frekuensi, durasi, dan intensitas gelombang panas, risiko seperti penyakit akibat panas dan serangan panas juga meningkat. Panas dapat berdampak serius pada masyarakat setempat, terutama di daerah yang tidak terbiasa dengan suhu ekstrem.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memperingatkan bahwa peristiwa panas ekstrem dapat menyebabkan cedera bahkan kematian. CDC melaporkan bahwa penyakit yang paling umum akibat suhu panas adalah kelelahan akibat panas dan serangan panas. Para ahli mengatakan manusia mengalami serangan panas ketika suhu internal tubuh mereka meningkat dengan cepat, dan tubuh tidak dapat mendinginkan dirinya sendiri. Serangan panas dapat menyebabkan penyakit lain atau bahkan kematian dan paling umum terjadi pada populasi muda dan tua.

3. Gelombang panas terburuk terjadi di tahun 2003

ilustrasi tanah retak akibat heatwave (pexels.com/Samiran)

Gelombang panas terburuk yang pernah tercatat terjadi selama musim panas Eropa tahun 2003. Secara tidak langsung, gelombang panas tersebut merenggut lebih dari 70.000 nyawa di seluruh Uni Eropa. Jika dilihat dari sudut pandang satu negara, rekor kematian tertinggi terjadi di Rusia selama musim panas tahun 2010 dengan jumlah 56.000 jiwa. Peristiwa ini berdampak sangat drastis karena wilayah tersebut relatif tidak terbiasa dengan panas ekstrem, yang menyebabkan serangkaian dampak, yaitu kegagalan pertanian dan kebakaran hutan yang memecahkan rekor.

Dilansir Euro News, Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jendral WHO, mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih sejak 21 juni 2026 karena suhu yang sangat panas melanda benua Eropa. Sementara itu, Badan Kesehatan Prancis, mengumumkan bahwa Prancis telah mencatat sekitar 1.000 kematian lebih banyak dari yang diperkirakan sejak hari sebelummnya.

4. Perubahan iklim pemicu terjadinya heatwave

ilustrasi heatwave (pexels.com/Francesco ungaro)

Heatwave adalah proses alami yang terlah terjadi di bumi sejak sebelum ada manusia. Namun, perubahan iklim secara langsung meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan gelombang panas. Di dorong oleh pembakaran bahan bakar fosil dan gas rumah kaca lainnya, planet ini kian menghangat, yang mengganggu sistem iklim yang mengatur perubahan suhu minimum dan maksimum musiman. Akibatnya, cuaca ekstrem, seperti suhu tinggi, menjadi lebih umum dan merusak.

Perubahan iklim menyebabkan gelombang panas yang lebih parah dan berlebihan melalui dua jalur utama, suhu global yang lebih tinggi dan pola cuaca yang stagnan. Peningkatan suhu dikaitkan dengan tingginya jumlah gas rumah kaca di atmosfer, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia dan penipisan penyerap karbon alami. Gas-gas ini memerangkap lebih banyak panas dari matahari dan meningkatkan suhu global serta menurunkan kualitas udara.

Pola ini melanggengkan lingkaran umpan balik yang mengurangi pertahanan alami bumi terhadap radiasi matahari. Hal ini terus mendorong suhu yang mencapai rekor tertinggi dan mengganggu pola cuaca alami. Saat pola cuaca berubah, are tekanan tinggi meluas dan pergerakan udara dapat menjadi stagnan, menunjukkan panas menumpuk di suatu wilayah tertentu. Semakin banyak panas yang menumpu, suhu akan meningkat, menyebabkan periode suhu yang kian lebih lama dan ekstrem.

5. Heatwave juga terjadi di lingkungan laut

Laut (pexels.com/Phat)

Faktanya heatwave juga terjadi di lingkungan laut, bukan hanya di darat saja. Seiring meningkatnya suhu bumi, begitu pula suhu airnya, terutama lautan. Faktanya, lautan menanggung dampak terberat dari perubahan iklim. Meskipun beberapa dampak tersebut mungkin lebih terlihat, seperti polusi laut. Gelombang panas laut adalah salah satu peristiwa yang tidak selalu dapat dilihat oleh mata manusia. Dengan dampak perubahan iklim yang semakin terasa, gelombang panas ini menimbulkan kerusakan pada lautan kita dan membahayakan spesies laut serta komunitas pesisir.

Gelombang panas laut sendiri terjadi di mana peningkatan suhu yang tidak biasa di atas ambang batas musiman terjadi dalam jangka waktu yang lama. Misalnya, hanya beberapa derajat celcius lebih tinggi dari normal, selama lebih dari lima hari, kondisi ini sudah diklasifikasikan sebagai gelombang panas di laut. Gelombang panas ini dipicu oleh kondisi panas dan tanpa angin, yang dibutuhkan untuk mencampur lapisan atas dan bawah laut dengan air yang lebih dingin. Gelombang panas paling intens terjadi di permukaan tetapi dapat terjadi di area dengan kedalaman lebih dari 1 km.

Fenomena heatwave bukan sekadar gelombang panas biasa. Jika suhu di suatu wilayah sudah melebihi ambang batas, maka hal ini perlu diwaspadai. Sebab, heatwave bisa menyebabkan masalah kesehatan yang berujung pada kematian. Bahkan kasus kematian akibat heatwave telah tercatat hingga puluhan ribu jiwa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article