Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Fakta Heat Wave di Eropa, Memecahkan Rekor Panas Berbagai Negara
Ilustrasi termometer yang menampilkan suhu tinggi 40°C, yang setara dengan 104°F. (unsplash.com/Immo Wegmann)
  • Eropa dilanda dua gelombang panas ekstrem sejak Mei 2026, memecahkan rekor suhu di berbagai negara hingga mencapai lebih dari 45°C dan menimbulkan peringatan darurat dari lembaga internasional.
  • Fenomena kubah panas akibat tekanan udara tinggi memperparah suhu siang dan malam, sementara pemanasan global disebut sebagai penyebab utama meningkatnya intensitas serta frekuensi gelombang panas ini.
  • Lebih dari 1.300 orang meninggal dan puluhan wilayah berstatus Siaga Merah, dengan infrastruktur Eropa yang belum siap menghadapi suhu ekstrem serta rendahnya kepemilikan pendingin udara di rumah tangga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Eropa saat ini tengah menghadapi salah satu krisis iklim paling ekstrem dalam sejarah modernnya. Memasuki pertengahan tahun 2026, heat wave alias gelombang panas hebat melanda benua tersebut, memecahkan rekor suhu di berbagai negara. Peristiwa ini bahkan memicu peringatan darurat dari berbagai lembaga kesehatan dan meteorologi dunia. 

Sebenarnya, apa yang membuat gelombang panas kali ini jauh lebih berbahaya dan seakan membakar seluruh isi benua? Yuk, kita bedah bersama fakta-fakta mencengangkan di balik krisis iklim Eropa ini!

1. Gelombang panas beruntun sejak mei 2026

Citra satelit yang menunjukkan suhu permukaan daratan di seluruh Eropa pada tanggal 26 Mei 2026, selama gelombang panas akhir musim semi yang memecahkan rekor. (commons.wikimedia.org/European Space Agency)

Dilansir Copernicus Climate Change Service, Eropa tidak cuma dihantam satu kali gelombang panas, melainkan dua kali secara berturut-turut sejak Mei 2026 kemarin. Gelombang pertama datang jauh lebih awal di akhir Mei dengan kenaikan suhu ekstrem sampai 10 derajat Celsius di atas batas normal. Kondisi ini membuat cuaca yang biasanya masih sejuk langsung berubah drastis menjadi sangat menyengat.

Belum sempat bernapas lega, gelombang kedua yang jauh lebih parah kembali menerjang menjelang akhir Juni. Hawa panas yang luar biasa ini awalnya muncul dan bergerak dari wilayah Semenanjung Iberia. Setelah itu, suhu ekstrem tersebut dengan cepat meluas hingga merata ke wilayah Eropa Barat, Tengah, sampai ke bagian Selatan.

2. Pecahnya rekor panas di berbagai negara

Papan termometer di sebuah apotek di Paris yang menunjukkan suhu 44 °C. (commons.wikimedia.org/FreCha)

Suhu ekstrem di akhir Juni 2026 kemarin benar-benar mencetak sejarah baru karena berhasil memecahkan rekor terpanas di berbagai negara Eropa. Spanyol memimpin gelombang panas ini dengan suhu super menyengat hingga mencapai 45,1°C di wilayah Andújar dan Montoro. Sementara itu, Prancis mengalami hari paling membara sejak tahun 1947 setelah suhu di Pissos menembus 44,3 derajat Celsius dan Paris ikut mencatat rekor panas sebesar 40,9 derajat Celsius.

World Meteorological Organization juga melaporkan bahwa negara-negara yang biasanya beriklim sejuk seperti Jerman, Hungaria, Polandia, hingga Republik Ceko juga ikut menghadapi suhu yang kompak menembus angka 40 derajat Celsius. Bahkan, wilayah utara seperti Basel di Swiss menyentuh angka 39 derajat Celsius, Wina di Austria mencapai 40°C, dan Denmark sukses memecahkan rekor lamanya sejak tahun 1975 dengan suhu 37 derajat Celsius. Tidak ketinggalan, Inggris juga ikut mencatat sejarah setelah rekor panasnya pecah selama 3 hari berturut-turut hingga menyentuh angka 37,3 derajat Celsius.

3. Muncul fenomena "kubah panas"

Diagram yang menggambarkan pembentukan kubah panas (heat dome). (commons.wikimedia.org/Cmglee)

Severe Weather Europe mengatakan bahwa cuaca panas ekstrem ini dipicu oleh sistem tekanan udara tinggi yang diam di atas Eropa. Sistem ini membentuk heat dome alias kubah panas yang bekerja persis seperti sebuah tutup panci. Kubah luas tersebut akhirnya memerangkap udara hangat di bawahnya dan menghalangi masuknya hembusan angin dingin.

Kondisi ini menjadi semakin berbahaya karena udara panas tersebut terus menumpuk hingga ke lapisan yang paling dekat dengan tanah. Bahaya ini kian diperparah ketika suhu malam hari tetap menyesakkan dan tidak mau turun di bawah 24 derajat Celsius. Akibatnya, tubuh manusia jadi kehilangan waktu penting untuk mendinginkan diri setelah seharian kepanasan.

4. Dipicu oleh perubahan iklim, bukan el nino

Kawasan industri dengan menara listrik dan kepulan asap yang memicu pemanasan global. (pixabay.com/SD-Pictures)

Dilaporkan oleh London School of Hygiene & Tropical Medicine, para ilmuwan dari World Weather Attribution dan University of Reading menyimpulkan bahwa gelombang panas luar biasa ini nyaris mustahil terjadi tanpa adanya efek pemanasan global. Akibat tumpukan emisi dari aktivitas manusia, suhu gelombang panas kali ini bahkan terasa sekitar 3 derajat Celsius lebih panas dibandingkan fenomena serupa di masa lalu. Pemanasan global inilah yang dituding menjadi biang kerok utama yang mempercepat datangnya musim panas ekstrem di seluruh wilayah Eropa.

Di sisi lain, para ahli juga memastikan bahwa fenomena cuaca global El Nino tidak memegang peran utama dalam memicu panas ekstrem kali ini. Faktor kerusakan lingkungan akibat ulah manusialah yang mengubah siklus cuaca, sehingga bencana yang dulunya langka kini malah menjadi fenomena tahunan. Oleh karena itu, krisis lingkungan ini menjadi bukti nyata bahwa bumi kita memang sedang tidak baik-baik saja.

5. Lebih dari 1.300 korban jiwa dalam hitungan hari

Ilustrasi orang-orang berjalan di bawah semburan kabut air yang menyegarkan yang dihasilkan untuk mengatasi suhu ekstrem. (unsplash.com/Richard Vanlerberghe)

Krisis gelombang panas ekstrem ini sayangnya telah menelan banyak korban jiwa hanya dalam hitungan hari saja. Dilansir World Meteorological Organization, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengonfirmasi bahwa ada lebih dari 1.300 kematian tambahan yang tercatat sejak tanggal 21 Juni akibat sengatan cuaca yang terlalu panas. Secara keseluruhan, diperkirakan sekitar 150 juta penduduk di seluruh Eropa terpaksa bertahan hidup di bawah guyuran suhu ekstrem di atas 35 derajat Celsius.

Kondisi menyedihkan ini juga memicu berbagai kepanikan di masyarakat yang berusaha mencari cara untuk mendinginkan tubuh mereka. Pemerintah Prancis bahkan melaporkan ada sedikitnya 40 kasus fatal warga yang nekat berenang lalu tenggelam di area-area berbahaya. Tragedi ini menjadi bukti nyata betapa berbahayanya dampak gelombang panas bagi keselamatan jiwa manusia di sana.

6. Dampaknya sampai memicu status siaga merah

Ilustrasi kebakaran hutan. (pexels.com/Vladyslav Dukhin)

Dampak dari gelombang panas ini terus meluas hingga memicu status Siaga Merah di puluhan wilayah di Prancis dan Italia, termasuk kota-kota besar seperti Roma, Venesia, dan Florence. Pemerintah setempat kini sangat mengkhawatirkan ancaman kekeringan yang semakin parah serta risiko kebakaran hutan berskala besar. Kombinasi antara suhu yang sangat panas, udara kering, dan angin kencang membuat air menguap jauh lebih cepat serta membuat tanaman mengering dalam sekejap.

Akibatnya, banyak pohon yang kehilangan daunnya dengan sangat cepat dan tanaman-tanaman muda yang sensitif langsung mati layu. Kondisi lingkungan yang rusak ini juga memberikan tekanan yang sangat berat bagi keselamatan satwa liar serta hewan-hewan ternak. Situasi buruk tersebut akhirnya membuat risiko terjadinya kebakaran hutan di Eropa melonjak drastis hingga mencapai tingkat yang sangat ekstrem, kata Severe Weather Europe.

7. Eropa belum siap secara infrastruktur

Ilustrasi remote AC (Air Conditioner). (pixabay.com/u_ssfofehsaj)

Dilansir The Economic Times, mayoritas rumah, sekolah, dan rumah sakit di Eropa awalnya dibangun dengan dinding tebal agar ruangan tetap hangat saat musim dingin tiba. Namun, ketika gelombang panas ekstrem melanda seperti sekarang, desain bangunan ini justru berubah menjadi bumerang yang merugikan. Udara panas yang menyengat akhirnya terperangkap di dalam ruangan dan membuat kondisi rumah terasa pengap.

World Resources Institute juga mengatakan bahwa kondisi tersebut diperparah karena rata-rata kepemilikan AC di rumah-rumah tangga Eropa masih sangat rendah, yaitu hanya sekitar 20 persen saja. Hal ini memicu perdebatan politik yang cukup sengit di beberapa negara seperti Prancis mengenai perlu tidaknya pengadaan AC secara massal. Pemerintah setempat dilema karena selain tarif listrik di sana sangat mahal, penggunaan AC massal ditakutkan malah akan memperparah emisi karbon dan krisis iklim.

Suhu menyengat ini bukan lagi sekadar cuaca musim panas biasa, melainkan alarm bahaya yang nyata bagi kehidupan jutaan orang di sana. Gelombang panas di Eropa menjadi bukti kuat bahwa bumi sedang mengirimkan sinyal darurat yang sudah tidak bisa kita abaikan lagi. Yuk, kita jadikan momen ini sebagai pengingat untuk lebih peduli dan menjaga lingkungan demi masa depan bumi kita tercinta!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article