Ilustrasi remote AC (Air Conditioner). (pixabay.com/u_ssfofehsaj)
Dilansir The Economic Times, mayoritas rumah, sekolah, dan rumah sakit di Eropa awalnya dibangun dengan dinding tebal agar ruangan tetap hangat saat musim dingin tiba. Namun, ketika gelombang panas ekstrem melanda seperti sekarang, desain bangunan ini justru berubah menjadi bumerang yang merugikan. Udara panas yang menyengat akhirnya terperangkap di dalam ruangan dan membuat kondisi rumah terasa pengap.
World Resources Institute juga mengatakan bahwa kondisi tersebut diperparah karena rata-rata kepemilikan AC di rumah-rumah tangga Eropa masih sangat rendah, yaitu hanya sekitar 20 persen saja. Hal ini memicu perdebatan politik yang cukup sengit di beberapa negara seperti Prancis mengenai perlu tidaknya pengadaan AC secara massal. Pemerintah setempat dilema karena selain tarif listrik di sana sangat mahal, penggunaan AC massal ditakutkan malah akan memperparah emisi karbon dan krisis iklim.
Suhu menyengat ini bukan lagi sekadar cuaca musim panas biasa, melainkan alarm bahaya yang nyata bagi kehidupan jutaan orang di sana. Gelombang panas di Eropa menjadi bukti kuat bahwa bumi sedang mengirimkan sinyal darurat yang sudah tidak bisa kita abaikan lagi. Yuk, kita jadikan momen ini sebagai pengingat untuk lebih peduli dan menjaga lingkungan demi masa depan bumi kita tercinta!