Lusofon, Sisa Kejayaan Portugis Bernaung dalam Satu Keluarga

Sebagai bangsa penjelajah pada masa lalu, Portugal punya pengaruh besar dengan dunia saat ini. Salah satunya dalam hal bahasa yang membuat bahasa Portugis menjadi salah satu bahasa dengan penutur terbanyak.
Namun pada modern seperti sekarang, Portugal sudah tak lagi punya negara jajahan. Namun kejayaan tersebut hanya tersisa dalam budaya yang kini diidentitaskan dengan nama Lusofon. Apa sebetulnya Lusofon itu? Untuk mengetahuinya lebih banyak, yuk simak ulasan berikut.
1. Dominasi Portugal di masa lalu

Pada masa itu, Portugal sangatlah dominan layaknya Amerika Serikat dan Tiongkok pada masa kini. Melalui ambisi lewat tangan para penguasa Portugis, warisan dari kekuatannya masih dirasakan hingga sekarang.
Bahasa Portugis yang digunakan di beberapa negara-negara bekas jajahannya menjadi bukti dominasi Portugal di masa lampau. Atas dasar latar belakang budaya yang sama, negara-negara itu memiliki rasa satu nasib sebagai negara bekas jajahan kerajaan Portugal.
Persatuan inilah yang kini dikenal dengan nama Lusophone atau Lusofon, yakni perserikatan negara-negara yang saat ini menggunakan bahasa Portugis sebagai bahasa resminya.
2. Dari sinilah definisi "Lusofon" berakar

Lusofon berakar dari kata “Luso-” yang merujuk kepada “Lusitania”, yakni sebutan negara Portugal era kuno. Sedangkan “Phone” dalam bahasa Yunani kuno yang berarti Suara. Jika dipadukan secara perkata, didefinisikan sebagai “persatuan suara-suara dari para orang yang menggunakan bahasa Portugis.”
Tercatat lebih kurang 270 juta orang menuturkan bahasa Portugis dan menjadikannya sebagai bahasa yang memiliki diaspora atau komunitas. Angka tersebut menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Dengan bukti ini, Portugal dianggap berhasil memberikan pengaruhnya di seluruh dunia secara budaya, politik, dan ekonomi berkat ambisi di abad ke-16 silam.
3. Jajahan negara-nya adalah bagian dari anggota-nya

Negara-negara yang menjadikan Lusofon sebagai identitasnya, pada umumnya merupakan negara bekas jajahan Portugis. Brasil, Angola, Mozambique, Cape Verde, São Tomé y Príncipe, Guinea Bissau, Macau, dan Timor Leste adalah beberapa di antaranya.
Di negara-negara tersebut, Portugis menjadi bahasa resmi yang wajib digunakan dalam kehidupan bernegara, baik secara formal maupun informal. Beberapa wilayah dunia juga mendeskripsikan dirinya sebagai Lusofon. Sebab, wilayah ini pernah jadi jajahan Portugis, namun kekuasaannya tak mencapai satu negara.
Cochin, Goa, Daman, dan Diu di India serta Selat Malaka dan Singapura menjadi wilayah yang dimaksud. Akan tetapi, Bahasa Portugis bukanlah bahasa resmi di sana. Sebab, hanya segelintir orang yang menggunakan dan melestarikannya hingga saat ini.
4. Persaudaraan bernama Community of Portuguese Language Countries

Komunitas negara-negara Portugis ini juga mendirikan organisasi multinasional yang diberi nama CPLP (Community of Portuguese Language Countries). Perserikatan ini resmi didirikan pada tahun 1996 dengan 9 negara anggita dan 32 negara terdaftar sebagai negara observer.
Organisasi CPLP ditujukan guna pengembangan dan pemegang peran dalam penyebaran Bahasa Portugis, peningkatan kerjasama di berbagai bidang antar anggota, peningkatan diplomasi, dan kerjasama politik antara anggota negara berbahasa Portugis. Saat ini, Zacarias da Costa dari Timor Leste menjabat sebagai Sekretaris Umum dari CPLP.
5. Event pemersatu persaudaraan CPLP

Selain itu, mereka pernah mengadakan pesta olahraga akbar yang sejenis dengan Olimpiade sesama negara persemakmuran Portugis atau Commonwealth Games, yaitu Lusofonia Games. Namun, yang membedakannya adalah penutur Bahasa Portugis yang digunakan selama acara.
Lusofonia Games sudah diselenggarakan hingga ketiga kalinya dengan Maputo, Mozambique, sebagai tuan rumah terakhir pada 2017. Faktanya, Brasil masih menjadi negara dengan peraih medali terbanyak hingga kini.
Portugal di masa sekarang mungkin tidak sejaya masa lalunya. Negara ini memulai sejarahnya yang diawali dengan penjelajahan para pelaut-nya dan menjadi titik kemajuan bangsa Portugis di dunia, setidaknya mereka memberikan sumbangsih akan perkembangan dunia, yang sekarang harus mengakui bahwa mereka hanya jaya karena sejarah bukan kontribusi di masa sekarang. Namun, peninggalannya mampu menyatukan payung besar “Lusofon”. Akankah Indonesia dan negara jajahan Belanda lainnya berniat mendirikan persatuan sejenis?



















