Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Fenomena Langit April 2026, Ada Komet MAPS

3 Fenomena Langit April 2026, Ada Komet MAPS
Ilustrasi komet (unsplash.com/Shlomo Shalev)
Intinya Sih
  • Komet C/2026 A1 (MAPS) akan melintas sangat dekat dengan Matahari pada awal April 2026 dan berpotensi terlihat dengan mata telanjang di langit senja sekitar rasi Cetus.
  • Pada 16 April 2026, Bulan sabit tipis akan tampak berdekatan dengan Merkurius, Mars, dan Saturnus di langit timur menjelang fajar, menciptakan pemandangan langit yang unik.
  • Hujan meteor Lyrid mencapai puncaknya pada malam 21–22 April 2026 dengan sekitar 18 meteor per jam, kondisi pengamatan optimal karena minim gangguan cahaya Bulan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Langit bulan April 2026 menawarkan beragam fenomena menarik yang bisa disaksikan baik oleh pengamat kasual maupun pecinta astronomi. Dengan cuaca yang cenderung lebih cerah di sebagian wilayah Indonesia, bulan ini bisa menjadi waktu yang tepat untuk menikmati keindahan keindahan langit tanpa teleskop.

Dari kehadiran komet MAPS hingga hujan meteor, bulan ini menyimpan banyak momen yang patut dinantikan oleh para pengamat langit. Melansir laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan sumber lainnya, berikut 3 fenomena langit April 2026.

1. Komet C/2026 A1 (MAPS) (4–5 April)

Komet C/2026 A1 (MAPS) menjadi salah satu fenomena paling dinantikan pada awal April 2026, terutama karena termasuk jenis sungrazer atau komet yang melintas sangat dekat dengan Matahari. Pada 4 April, komet ini mencapai perihelion dengan jarak hanya sekitar 0,02 SA dari Matahari, sebuah lintasan ekstrem yang berpotensi membuatnya hancur akibat panas dan gaya gravitasi.

Namun, jika berhasil bertahan, komet ini akan terus bergerak menjauh dan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi pada 6 April. Dalam skenario terbaik, MAPS diperkirakan bisa mencapai kecerlangan hingga -4 magnitudo, cukup terang untuk diamati dengan mata telanjang di langit senja, khususnya di sekitar rasi Cetus.

Setelah itu, mulai 9 April hingga akhir bulan, komet ini masih bisa diamati meski kecerlangannya perlahan menurun, menjadikannya target menarik bagi pengamat langit di awal musim kemarau.

2. Bulan, Merkurius, Mars, dan Saturnus (16 April)

ilustrasi konjugasi planet (pxhere.com)
ilustrasi konjugasi planet (pxhere.com)

Pada 16 April, langit fajar akan dihiasi oleh pertemuan indah antara Bulan sabit tipis dengan tiga planet sekaligus, yakni Merkurius, Mars, dan Saturnus. Bulan tampak berjarak sekitar 5,7º dari Merkurius, 2,7º dari Mars, dan 4º dari Saturnus, membentuk susunan yang cukup rapat di langit timur sebelum Matahari terbit.

Keempat objek ini terbit berurutan mulai dari Merkurius pukul 04:19 WIB, disusul Bulan 04:28 WIB, Mars 04:31 WIB, dan Saturnus 04:43 WIB, memberikan waktu pengamatan yang relatif singkat sebelum Matahari terbit pada 05:51 WIB.

Namun, karena posisinya masih rendah di ufuk timur, pengamatan fenomena ini membutuhkan lokasi dengan horizon terbuka dan langit cerah agar keempat objek dapat terlihat dengan jelas.

3. Hujan Meteor Lyrid (21–22 April)

Hujan meteor Lyrid akan mencapai puncaknya pada malam 21–22 April 2026, menghadirkan salah satu hujan meteor tahunan yang cukup dinanti. Fenomena ini berasal dari debu komet Thatcher (C/1861 G1) dan berlangsung dari 14 hingga 30 April. Meteor Lyrid tampak datang dari rasi Lyra, yang mulai terbit pukul 22:09 WIB, sehingga pengamatan sudah bisa dimulai sejak malam hari hingga menjelang fajar.

Pada puncaknya, hujan meteor ini menghasilkan sekitar 18 meteor per jam dengan kecepatan tinggi mencapai 49 km/detik. Kondisi pengamatan tahun ini tergolong baik karena Bulan yang berada pada fase jelang seperempat awal akan terbenam sebelum tengah malam, sehingga langit menjadi lebih gelap dan bebas dari gangguan cahaya Bulan. Ini memungkinkan pengamat melihat meteor dengan lebih jelas.

April 2026 menawarkan beragam fenomena langit yang menarik, mulai dari oposisi Komet MAPS hingga hujan meteor. Ini adalah waktu yang ideal untuk menikmati keindahan langit malam.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More