5 Fakta Maroon Pigeon, Merpati dengan Warna Unik Penghuni Hutan Lembap

- Maroon pigeon adalah burung endemik Kepulauan São Tomé dan Príncipe dengan warna marun gelap khas serta peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan lembap tropis.
- Spesies ini hidup di hutan primer dan sekunder yang lembap, bergantung pada kanopi rapat untuk makanan dan perlindungan, namun kini terancam akibat deforestasi dan penyusutan habitat.
- Status konservasinya tergolong Endangered menurut IUCN, dengan populasi menurun sehingga perlindungan habitat dan kesadaran masyarakat menjadi kunci pelestarian spesies unik ini.
Maroon pigeon atau merpati marun (Columba thomensis) adalah salah satu burung endemik yang jarang terdengar namanya, tetapi menyimpan keunikan luar biasa. Burung ini berasal dari Kepulauan São Tomé dan Príncipe di Afrika Tengah, kawasan yang terkenal dengan hutan tropis lembap dan tingkat endemisme tinggi. Warna tubuhnya yang dominan marun gelap membuatnya terlihat berbeda dari merpati kebanyakan yang identik dengan abu-abu.
Keberadaan maroon pigeon bukan sekadar pelengkap ekosistem hutan, melainkan bagian penting dari rantai ekologis yang saling terhubung. Sayangnya, tekanan terhadap habitat alami membuat populasinya menghadapi tantangan serius. Mengenal burung ini berarti membuka wawasan tentang kekayaan hayati yang sering luput dari perhatian. Yuk, kenali lebih dekat fakta menarik maroon pigeon dan pahami kenapa spesies ini layak mendapat perhatian lebih!
1. Ukuran tubuh dan ciri fisik yang khas

Maroon pigeon memiliki ukuran tubuh sedang dengan panjang sekitar 35–37 cm. Tubuhnya tampak kokoh dengan dada lebar dan sayap kuat yang mendukung kemampuan terbang jarak pendek di dalam hutan lebat. Warna bulunya didominasi marun gelap dengan kilau kehijauan halus pada bagian leher saat terkena cahaya.
Bagian ekor relatif pendek dengan ujung lebih gelap, sedangkan mata tampak kontras dengan lingkar kulit tipis di sekitarnya. Paruhnya berwarna gelap dan cukup kuat untuk memakan buah hutan bertekstur keras. Ciri-ciri ini membuatnya mudah dikenali di habitat aslinya meski sering bersembunyi di kanopi rapat.
2. Habitat alami di hutan lembap tropis

Maroon pigeon hidup di hutan primer dan sekunder lembap di Sao Tome dan Príncipe. Spesies ini cenderung memilih area dengan kanopi rapat dan kelembapan tinggi. Lingkungan seperti ini menyediakan sumber makanan melimpah sekaligus perlindungan dari predator.
Sayangnya, deforestasi untuk pertanian dan pembukaan lahan menjadi ancaman utama. Penyusutan hutan membuat ruang jelajahnya semakin terbatas dan memengaruhi ketersediaan pakan. Ketergantungan pada hutan alami membuat spesies ini sangat rentan terhadap perubahan lingkungan.
3. Perilaku dan peran ekologis di dalam hutan

Sebagai burung frugivora, maroon pigeon banyak memakan buah-buahan liar yang tumbuh di hutan tropis. Pola makan ini menjadikannya agen penyebar biji alami yang berkontribusi pada regenerasi hutan. Tanpa kehadirannya, siklus pertumbuhan beberapa tanaman bisa terganggu.
Burung ini biasanya terlihat sendiri atau berpasangan, jarang membentuk kelompok besar. Perilakunya cenderung tenang dan berhati-hati, lebih sering bertengger di cabang tinggi. Adaptasi ini membantu bertahan hidup di lingkungan dengan tekanan alami dan perubahan habitat.
4. Pola pembiakan yang relatif tertutup

Informasi mengenai pembiakan maroon pigeon masih terbatas karena habitatnya sulit diakses. Namun, seperti banyak spesies merpati lain, burung ini diperkirakan membuat sarang sederhana dari ranting di cabang pohon. Betina biasanya bertelur satu hingga dua butir dalam satu periode reproduksi.
Periode inkubasi berlangsung beberapa minggu dengan peran kedua induk dalam menjaga telur. Anak burung tumbuh relatif cepat sebelum mampu terbang dan mandiri. Tingkat reproduksi yang gak terlalu tinggi membuat populasi sulit pulih jika terjadi penurunan drastis.
5. Status konservasi dan ancaman yang dihadapi

Menurut International Union for Conservation of Nature atau IUCN, maroon pigeon saat ini berstatus Endangered. Populasinya diperkirakan terus menurun akibat kehilangan habitat dan gangguan manusia. Status ini menunjukkan risiko kepunahan yang nyata jika perlindungan gak diperkuat.
Upaya konservasi difokuskan pada perlindungan kawasan hutan dan peningkatan kesadaran lokal. Program pelestarian habitat menjadi kunci utama untuk menjaga keberlanjutan spesies ini. Tanpa tindakan serius, maroon pigeon berisiko menjadi catatan sejarah keanekaragaman hayati yang hilang.
Maroon pigeon adalah contoh nyata bagaimana spesies unik bisa terancam tanpa banyak diketahui publik. Ukuran tubuhnya yang khas, warna marun gelap yang elegan, serta perannya dalam regenerasi hutan membuatnya sangat berharga. Ancaman deforestasi dan tekanan habitat menjadi pengingat bahwa keseimbangan ekosistem sangat rapuh. Mengenal spesies seperti maroon pigeon membuka perspektif baru tentang pentingnya menjaga hutan lembap tropis.






![[QUIZ] Kami Tahu Sisi Unik dalam Dirimu Dari Planet yang Kamu Pilih](https://image.idntimes.com/post/20250405/arnaud-mariat-45z6hw1dqmi-unsplash-0c8a11f39d749914d3f27e1b51d40721-a5fd1597f33847e86d0a4da09c93b0a6.jpg)










