Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Fakta Mengejutkan Strawberry Moon 2026, Fenomena Ilusi Purnama
ilustrasi strawberry moon 2026 (unsplash.com/Robert Wiedemann)
  • Strawberry Moon 2026 adalah fenomena bulan purnama akhir Juni yang dikenal sebagai micromoon, muncul rendah di cakrawala dan menciptakan ilusi optik menakjubkan bagi pengamat langit.
  • Nama Strawberry Moon berasal dari tradisi suku Algonquin di Amerika Utara yang menandai musim panen stroberi liar, menunjukkan hubungan erat antara budaya dan siklus astronomi.
  • Warna keemasan hingga oranye pada Strawberry Moon disebabkan oleh pembiasan cahaya di atmosfer Bumi, menjadikannya momen favorit fotografer untuk menangkap keindahan langit musim panas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap tahun, langit malam menghadirkan berbagai fenomena astronomi yang menarik perhatian jutaan orang di seluruh dunia. Salah satu yang paling dinantikan adalah Strawberry Moon, sebutan untuk bulan purnama yang muncul pada akhir Juni. Nama yang unik dan terdengar manis ini, sering membuat banyak orang membayangkan bulan berwarna merah muda seperti buah stroberi. Namun kenyataannya, fenomena tersebut menyimpan cerita yang jauh lebih menarik, daripada sekadar perubahan warna di langit malam.

Pada tahun 2026, Strawberry Moon kembali hadir dengan sejumlah keistimewaan yang membuatnya berbeda dari bulan purnama pada umumnya. Selain berstatus sebagai micromoon, fenomena ini juga muncul dengan posisi yang sangat rendah di cakrawala. Akibatnya, tercipta ilusi optik yang memukau sekaligus menjadi objek favorit para fotografer astronomi. Di balik keindahannya, Strawberry Moon ternyata menyimpan perpaduan unik antara sains, sejarah, budaya, dan cara manusia memahami alam semesta sejak ribuan tahun lalu. Lalu, apa saja fakta menarik di balik fenomena langit yang satu ini? Yuk, kita telusuri!

1. Strawberry Moon tidak berwarna merah muda seperti stroberi

ilustrasi strawberry moon 2026 (pexels.com/Robert So)

Bagi banyak orang, nama Strawberry Moon terdengar seperti fenomena langit yang akan membuat bulan berubah menjadi merah muda atau merah terang. Padahal, anggapan tersebut merupakan salah satu kesalahpahaman astronomi yang paling umum. Secara ilmiah, tidak ada perubahan warna khusus pada bulan yang membuatnya menyerupai buah stroberi.

Nama Strawberry Moon sebenarnya berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara, terutama suku Algonquin. Mereka menggunakan siklus bulan purnama sebagai kalender alami untuk menentukan waktu berburu, bertani, dan memanen. Bulan purnama yang muncul pada akhir Juni dianggap sebagai penanda dimulainya musim panen stroberi liar, sehingga diberi nama Strawberry Moon.

Menariknya, tradisi penamaan bulan purnama berdasarkan aktivitas masyarakat ini sudah berlangsung selama berabad-abad, sebelum astronomi modern berkembang. Bahkan hingga saat ini, banyak nama bulan purnama populer seperti Wolf Moon, Harvest Moon, dan Hunter’s Moon berasal dari tradisi serupa. Hal ini menunjukkan bahwa pengamatan langit telah menjadi bagian penting dari peradaban manusia sejak zaman kuno.

2. Strawberry Moon 2026 termasuk kategori micromoon

ilustrasi strawberry moon 2026 (pexels.com/Nana Felan)

Jika supermoon sering menjadi sorotan karena ukurannya yang tampak besar dan terang, Strawberry Moon tahun 2026 justru hadir sebagai kebalikannya. Bulan purnama ini terjadi ketika bulan berada di dekat titik terjauh orbitnya dari Bumi, atau yang dikenal sebagai apoge.

Karena orbit bulan berbentuk elips, jarak antara Bumi dan bulan tidak selalu sama. Pada saat apoge, bulan dapat berada puluhan ribu kilometer lebih jauh dibandingkan saat perige, yaitu titik terdekatnya dengan Bumi. Akibatnya, ukuran tampak bulan di langit menjadi sedikit lebih kecil dibandingkan bulan purnama biasa.

Fenomena ini disebut sebagai micromoon. Walaupun secara ilmiah ukurannya sekitar 5—7 persen lebih kecil dan cahayanya sedikit lebih redup, kebanyakan orang tidak akan menyadari perbedaannya tanpa bantuan pengukuran astronomi. Justru karena keunikannya inilah, para astronom amatir sering menjadikan micromoon sebagai momen menarik untuk mendokumentasikan dinamika orbit bulan.

3. Menjadi salah satu bulan purnama dengan posisi terendah di langit

ilustrasi strawberry moon 2026 (unsplash.com/Anders Jildén)

Salah satu hal yang membuat Strawberry Moon begitu menarik adalah posisinya yang sangat rendah di langit malam, terutama bagi pengamat di belahan utara Bumi. Posisi ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari hubungan geometris yang kompleks antara orbit Bumi, orbit bulan, dan kemiringan sumbu rotasi Bumi.

Strawberry Moon muncul tidak lama setelah summer solstice atau titik balik matahari musim panas. Pada periode ini, matahari mencapai posisi tertinggi di langit siang. Sebaliknya, bulan purnama yang muncul pada malam hari akan mengambil lintasan yang berlawanan sehingga terlihat sangat rendah di atas cakrawala.

Fenomena ini menciptakan pemandangan yang spektakuler. Bulan tampak melayang dekat horizon selama beberapa waktu, memberikan kesempatan bagi pengamat dan fotografer untuk menangkap gambar yang dramatis. Bahkan, posisi rendah ini sering membuat bulan tampak jauh lebih besar daripada ukuran sebenarnya, akibat efek psikologis yang dikenal sebagai moon illusion.

4. Warna oranye dan keemasannya berasal dari atmosfer Bumi

ilustrasi strawberry moon 2026 (unsplash.com/VED)

Walaupun tidak berwarna stroberi, Strawberry Moon memang sering terlihat memiliki warna yang sangat indah, mulai dari kuning keemasan, oranye terang, hingga kemerahan. Banyak orang mengira perubahan warna tersebut terjadi pada permukaan bulan, padahal penyebab sebenarnya berasal dari atmosfer Bumi.

Ketika bulan berada rendah di cakrawala, cahaya yang dipantulkannya harus menempuh perjalanan lebih panjang melalui atmosfer dibandingkan ketika bulan berada tepat di atas kepala. Dalam perjalanan tersebut, partikel-partikel di atmosfer menyebarkan cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru dan hijau.

Akibatnya, cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang, yaitu merah, oranye, dan kuning, menjadi lebih dominan saat mencapai mata kita. Inilah alasan mengapa Strawberry Moon sering tampak seperti bola emas raksasa yang bersinar di ufuk timur. Fenomena yang sama juga menyebabkan matahari tampak kemerahan saat terbit dan terbenam.

5. Strawberry Moon menandai awal musim panas astronomis

ilustrasi strawberry moon 2026 (unsplash.com/Jonathan Rathgeb)

Dalam tradisi astronomi modern maupun kuno, Strawberry Moon memiliki posisi yang cukup istimewa. Bulan purnama ini biasanya muncul setelah terjadinya summer solstice, sehingga sering dianggap sebagai bulan purnama pertama pada musim panas astronomis di belahan utara Bumi.

Sejak ribuan tahun lalu, masyarakat agraris menggunakan posisi bulan sebagai penunjuk waktu alami. Mereka mengamati siklus bulan untuk menentukan musim tanam, musim panen, hingga waktu pelaksanaan ritual keagamaan dan kebudayaan. Strawberry Moon menjadi salah satu penanda penting, karena kemunculannya bertepatan dengan perubahan musim.

Bahkan di era modern, tradisi tersebut masih bertahan dalam bentuk yang berbeda. Banyak festival budaya, acara astronomi publik, hingga kegiatan fotografi langit yang sengaja diselenggarakan untuk menyambut Strawberry Moon. Ini menunjukkan bahwa hubungan emosional manusia dengan bulan tetap kuat, meskipun teknologi telah berkembang pesat.

6. Berbagai budaya memiliki nama berbeda untuk Strawberry Moon

ilustrasi strawberry moon 2026 (unsplash.com/Griffin Wooldridge)

Nama Strawberry Moon hanyalah salah satu dari banyak sebutan yang diberikan manusia kepada bulan purnama Juni. Di berbagai belahan dunia, masyarakat memiliki interpretasi dan penamaan yang berbeda berdasarkan kondisi lingkungan, budaya, dan aktivitas ekonomi mereka.

Di Eropa, misalnya, bulan purnama Juni sering disebut Honey Moon atau Mead Moon. Nama ini berasal dari tradisi panen madu dan pembuatan minuman fermentasi berbahan madu yang biasanya dilakukan pada awal musim panas. Bahkan, sebagian sejarawan percaya bahwa istilah “honeymoon” atau bulan madu modern memiliki keterkaitan historis dengan tradisi tersebut.

Sementara itu, beberapa budaya lain menyebutnya sebagai Rose Moon, Green Corn Moon, atau Birth Moon. Perbedaan penamaan ini memperlihatkan bagaimana manusia dari berbagai peradaban memaknai fenomena langit yang sama, melalui sudut pandang budaya masing-masing. Dengan kata lain, Strawberry Moon adalah fenomena astronomi sekaligus cermin sejarah peradaban manusia.

7. Strawberry Moon 2026 menjadi momen favorit astrofotografer

ilustrasi strawberry moon 2026 (unsplash.com/Andra C Taylor Jr)

Selain menarik bagi astronom, Strawberry Moon juga menjadi salah satu objek favorit para fotografer langit di seluruh dunia. Kombinasi antara posisi bulan yang rendah, warna keemasan, dan kondisi atmosfer tertentu menciptakan peluang untuk menghasilkan foto-foto spektakuler.

Fotografer profesional biasanya menggunakan teknik perspektif telefoto, untuk menciptakan ilusi bahwa bulan tampak sangat besar. Mereka menempatkan objek seperti gedung pencakar langit, mercusuar, pegunungan, candi, atau bahkan manusia sebagai pembanding ukuran. Hasilnya adalah gambar yang tampak dramatis dan sering kali viral di media sosial.

Selain faktor artistik, Strawberry Moon juga relatif mudah diamati. Hal ini disebabkan kemunculannya pada musim dengan cuaca yang cenderung lebih stabil di banyak wilayah dunia. Karena alasan itulah, setiap tahun fenomena ini selalu menjadi agenda wajib bagi komunitas astronomi dan fotografi. Bagi banyak orang, Strawberry Moon bukan sekadar bulan purnama biasa, melainkan momen ketika sains, seni, dan keindahan alam bertemu dalam satu pemandangan langit yang menakjubkan.

Strawberry Moon 2026 membuktikan bahwa fenomena astronomi tidak selalu harus spektakuler seperti gerhana atau hujan meteor untuk menjadi menarik. Di balik namanya yang unik, bulan purnama ini menyimpan kisah tentang pergerakan orbit, ilusi optik, atmosfer Bumi, hingga sejarah peradaban manusia selama ribuan tahun.

Jadi, saat Strawberry Moon muncul di langit akhir Juni nanti, cobalah luangkan waktu untuk mengamatinya. Siapa tahu, dari sebuah bulan purnama yang tampak biasa, kita justru bisa menemukan salah satu pelajaran paling menarik tentang bagaimana manusia memahami alam semesta.

Referensi

Holly Spanner. (2023). “Why tonight’s June full Moon is called the Strawberry Moon”. Article of BBC Science Focus Magazine.

Iain Todd. (2026). “The 2026 Strawberry Moon rises at the end of June. Here’s how to see it”. Article of BBC Sky at Night Magazine.

Jamie Carter. (2026). “Full Moon June 2026: When To See The ‘Strawberry Micromoon’ Rise”. Article of Forbes.

Jamie Carter. (2026). “June’s Strawberry Moon is unlike any other full moon. Here’s why”. Article of Space.com.

John Jardine Goss & Deborah Byrd. (2026). “June full moon – Strawberry Moon – is the lowest (highest) of the year”. Article of EarthSky.

Melissa Mayntz. (2026). “Strawberry Moon 2026: June Full Moon Date, Folklore, and Viewing Guide”. Article of Farmers’ Almanac.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article