6 Fakta Dryococelus Australis, Spesies yang Bangkit dari Kepunahan

- Dryococelus australis, serangga endemik Australia yang sempat dinyatakan punah sejak 1920-an, ditemukan kembali pada 2001 di Ball’s Pyramid dan kini berstatus Kritis Terancam Punah menurut IUCN.
- Spesies ini dikenal sebagai Lobster Pohon karena tubuh besar tanpa sayap dan eksoskeleton tebal, hidup di semak Melaleuca howeana serta aktif pada malam hari untuk bertahan di habitat ekstrem.
- Program konservasi di kebun binatang Melbourne dan San Diego berhasil meningkatkan populasinya hingga puluhan ekor, menjadikannya simbol harapan bagi upaya pelestarian spesies langka dunia.
Kisah kepunahan sering kali berakhir tanpa harapan. Sebagian besar spesies yang telah dinyatakan punah tidak akan pernah muncul kembali. Namun berbeda dengan salah satu spesies endemik Australia ini. Bertahun-tahun lamanya spesies ini dinyatakan punah akibat habitatnya yang rusak. Namun sebuah keajaiban datang, spesies ini akhirnya ditemukan kembali setelah beberapa tahun menghilang di tempat yang sangat terpencil di tengah lautan. Kok bisa? Bagaimana bisa mereka muncul kembali dari kepunahan? Semua pertanyaan ini akan dijawab di dalam artikel ini, makannya, yuk kita simak deretan fakta berikut!
1. Pernah Dianggap Punah selama Puluhan Tahun

Spesies ini bernama Lord Howe Island Stick Insect (Dryococelus australis). Serangga ini diperkirakan telah punah sejak tahun 1920-an. Namun, pada tahun 2001 para ilmuan melakukan observasi ulang di habitat asli spesies ini. Hal mengejutkan pun terjadi, setelah observasi itu dilakukan para ilmuan menemukan satu populasi kecil yang bertahan hidup di suatu semak lusuh nan terpencil. Mereka bertahan hidup di tempat yang sangat ekstrem, yaitu di lereng batu tandus dengan kemiringan 60 derajat. Dari satu populasi kecil ini, diambillah sepasang individu serangga tersebut untuk di lestarikan di penangkaran.
Selama bertahun-tahun diklasifikasikan sebagai spesies punah, kini mereka berstatus sebagai spesies Critically Endangered atau Kritis Terancam Punah oleh IUCN. Bukan status yang aman, tetapi ini lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian, spesies ini sering dijuluki sebagai spesies Lazarus.
2. Dijuluki sebagai Lobster Pohon

Sebagai salah satu serangga tak bersayap terbesar di dunia dengan ukuran tubuh mencapai 20 cm dan massa tubuh sekitar 25 gram. Saat dalam fase nimfa, mereka memiliki tubuh berwarna hijau muda. Namun seiring bertambahnya usia, warna tubuhnya akan semakin menggelap dan akan berubah menjadi cokelat tua hingga hitam. Selain itu, mereka juga sering kali dijuluki sebagai Lobster Pohon, sebab memiliki tubuh yang besar dengan eksoskeleton tebal menyerupai krustasea. Di samping itu, mereka juga memiliki kebiasaan layaknya lobster, di mana mereka selalu bersembunyi di dalam lubang pada siang hari.
3. Mampu Bertahan Hidup karena Satu Jenis Semak

Sesuai namanya, spesies ini berasal dari gugusan pulau Lord Howe, yang merupakan sebuah gugusan pulau vulkanik berbentuk bulan sabit di Laut Tasman, New South Wales, Australia. Sebelum mengalami kepunahan, mereka dapat ditemukan dalam jumlah yang banyak di seluruh penjuru pulau. Bahkan tak jarang warga setempat menjadikannya sebuah umpan untuk memancing ikan.
Telah hilang bertahun-tahun, kini mereka muncul kembali di tumpukan batuan laut tertinggi di dunia, yaitu Ball's Pyramid. Pulau tersebut berjarak kurang lebih 20 kilometer dari pulau Lord Howe. Pulau yang tidak berpenghuni ini dikenal sangat curam, tetapi surga bagi spesies ini. Mereka dapat bertahan hidup berkat salah satu jenis semak endemik Australia, yaitu semak Melaleuca howeana. Semak melaleuca ini merupakan satu-satunya makanan mereka dihabitat aslinya. Namun, beberapa spesies yang hidup di penangkaran dapat memakan berbagai jenis tumbuhan.
4. Aktif di Malam Hari

Sebagai spesies nokturnal, sebagian besar aktivitasnya dilakukan di malam hari, sedangkan di siang hari mereka gunakan untuk beristirahat dengan bersembunyi di rongga yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan atau dipangkal semak. Mereka tidur dengan cara berkerubung bersama individu lain, sebagai bentuk pertahanan diri. Berbeda dengan serangga dewasa, pada fase nimfa justru aktif di siang hari. Namun, siklus ini akan berubah seiring dengan bertambahnya usia dan kemudian akan menjadi spesies nokturnal pada saat dewasa.
5. Sistem Reproduksi yang Unik

Mereka memiliki kemampuan bereproduksi secara aseksual melalui partenogenesis. Sederhananya, mereka mampu berkembang biak tanpa ayah. Uniknya, telur yang dihasilkan dari sistem ini berjenis betina. Walau demikian, mereka juga dapat bereproduksi secara seksual dan biasanya menghasilkan individu berjenis jantan. Mereka menghasilkan hingga 300 telur sepanjang hidupnya yang kurang lebih sekitar 18 bulan. Telur akan menetas setelah 6,5 bulan di dalam tanah dan lahirlah nimfa. Selain itu, mereka juga memiliki keunikan dalam ikatan berpasangan. Dilansir dari San Diego Zoo Animals & Plants, seorang ilmuan menjelaskan bahwa jantan akan meletakkan tiga kakinya secara protektif di atas betina di sampingnya.
6. Simbol Harapan Konservasi

Setelah penemuan kembali, mereka kini telah mendapat tindakan konservasi yang cukup intensif. Dimulai dengan program penangkaran, contohnya di kebun binatang Melbourne dan kebun binatang San Diego, Australia. Di sana, populasi mereka telah berhasil berkembang. Selain di negara asalnya, mereka juga telah dilestarikan di negara lain seperti Inggris dan Kanada. Selain di penangkaran, habitat aslinya pun turut di 'perbaiki', salah satunya dengan cara pemusnahan spesies invasif yang telah mengakibatkan serangga ini dinyatakan punah.
Kini populasinya telah beranjak naik sekitar 9 hingga 35 ekor. Walaupun statusnya masih sangat terancam punah, akan tetapi hal ini menjadi bukti bahwa upaya konservasi yang dilakukan cukup berhasil membangkitkan spesies Lazarus ini. Dari hanya segelintir individu yang tersisa, kini populasinya perlahan pulih berkat program penangkaran dan perlindungan habitat. Cerita ini mengingatkan kita bahwa sekecil apa pun spesies tersebut, mereka memiliki peran penting dalam ekosistem. Selama masih ada usaha dan kepedulian, akan selalu ada peluang bagi alam untuk bangkit kembali.


















