9 Fakta Perang Geok Tepe, Ekspansi Tersulit Rusia di Asia Tengah

Pada abad ke-19, dua kerajaan raksasa yaitu Inggris dan Rusia, melihat wilayah Asia Tengah sebagai tujuan penaklukkan. Inggris yang telah menguasai India, mulai merangkak ke utara yakni Pakistan, Afghanistan bahkan sampai Uzbekistan saat ini.
Tapi saat itu, belum ada upaya secara terbuka dari Inggris untuk mulai melakukan pertempuran mengerahkan kekuatan kolonial. Hanya saja, kerajaan Rusia telah melihat niat Inggris tersebut.
Pada akhirnya, Tsar Rusia melangkah lebih dulu memasuki Asia Tengah untuk melakukan ekspansi dan penaklukan. Persaingan antara dua kerajaan besar itu disebut sebagai "The Great Game."
Dalam perjalanan pasukan Rusia menaklukkan wilayah Asia Tengah, ada satu wilayah yang disebut Trans-Caspia. Di era modern, wilayah itu adalah Turkmenistan. Suku Tepe, suku terbesar di wilayah tersebut, adalah musuh paling sulit bagi pasukan Rusia.
Dengan upaya keras, pasukan Rusia bertempur dengan suku Tepe di benteng Geok Tepe, dan membantai lebih dari 8.000 orang. Itu adalah sejarah suram Turkmenistan, yang kemudian diperingati sebagai Memorial Day setiap tanggal 12 Januari.
1. Selain karena Inggris, ekspansi Rusia ke Asia Tengah disebabkan kapas Amerika

Kampanye militer Rusia ke Asia Tengah adalah pencaplokan wilayah besar terakhir Kekaisaran Rusia sebelum runtuh tahun 1917. Kampanye militer itu mulai dilakukan secara terbuka pada pertengahan abad ke-19.
Saat itu, Rusia melihat Inggris akan memperluas wilayah jajahan ke Asia Tengah usai menaklukkan India. Rusia melangkah lebih dulu untuk memenangkan persaingan.
Tapi faktor selain itu adalah, terjadi Perang Saudara di Amerika Serikat pada tahun 1861, yang membuat impor kapas Rusia terganggu secara signifikan. Rusia saat itu mengandalkan kapas Amerika untuk menopang industri tekstilnya.
Di Asia Tengah, khususnya Kokand dan Bukhara, banyak pertanian kapas yang stabil dan perdagangan kapas yang bergairah. Akhirnya, Asia Tengah dapat dijadikan sebagai sumber alternatif pasokan bahan mentah tersebut untuk menjalankan industri tekstil Rusia yang terpukul.
2. Orang Rusia kerap ditangkap dan dijual sebagai budak

Satu sebab lain mengapa Rusia melakukan ekspansi wilayah ke Asia Tengah adalah perbudakan. Untuk waktu yang lama, Rusia jarang mencampuri urusan kawasan tersebut. Itu karena, Asia Tengah dihuni lusinan suku dan negara kecil yang kerap mengobarkan perang brutal tanpa akhir satu sama lain.
Ada tiga kekuatan utama besar di Asia Tengah yakni Khanate Kokand, Khiva dan Emirat Bukhara. Tatanan feodal abad pertengahan mendominasi wilayah ini dan perbudakan berkembang pesat.
Bahkan ada suku-suku nomaden di wilayah Kekhanan Asia Tengah yang kerap menyerang wilayah Rusia di sekitar Laut Kaspia. Dalam serangan itu, mereka menangkap orang Rusia dan dijual sebagai budak di Bukhara. Hal ini menjadi motif publik untuk membenarkan ekspansi Rusia di Asia Tengah.
3. Tentara Rusia terlatih dengan persenjataan modern

Rusia melakukan ekspansi ke Asia Tengah tidak secara langsung menggunakan kekuatan militer, tapi mengeksploitasi perpecahan antar suku. Setelah itu, kekuatan militer mulai dilakukan.
Tentara Rusia mulai menaklukkan wilayah Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan dan Uzbekistan. Di Turkmenistan, tentara Rusia menghadapi perlawanan yang sangat sengit dari suku Tepe, suku terbesar di wilayah itu.
Sebagian besar kemenangan tentara Rusia dalam menaklukkan Asia Tengah, disebabkan karena prajurit-prajurit Asia Tengah yang tidak mumpuni. Mereka jarang berlatih dan teknologi militernya tertinggal.
Dengan perbandingan jumlah pasukan yang signifikan, di mana pasukan Rusia lebih sedikit, Rusia tetap berhasil memenangkan pertempuran. Itu karena modernisasi persenjataan seperti senapan mesin, dan tentara yang terlatih.
Misalnya, dalam salah satu peristiwa penaklukan Tashkent. Penaklukkan itu terjadi pada 29 Juni 1865. Tentara Rusia dipimpin oleh Jenderal Mikhail Chernyayev. Pasukannya berhasil merebut Tashkent yang dipertahankan oleh garnisun berkekuatan 30.000 orang.
Dua tahun setelah itu, Tashkent yang kini menjadi bagian Uzbekistan, dulu menjadi pusat administrasi gubernur jenderal Turkestan milik Rusia yang didirikan di Asia Tengah.
4. Kemunduran pasukan Rusia di Turkmenistan

Setelah Khanate Kokand, Khiva dan Emirat Bukhara dikalahkan oleh tentara Rusia, gerombolan suku-suku nomaden yang menguasai wilayah Turkmenistan masih merdeka. Mereka bahkan mampu mengusir sekelompok pasukan Rusia yang mencoba memasuki wilayah tersebut.
Rusia mulai memasuki wilayah Turkmenistan pada tahun 1877. Tentara Tsar mampu menaklukkan wilayah Kyzyl Arvat. Tentara Rusia mulai mencoba melakukan penetrasi lebih ke dalam di bawah pimpinan Jenderal Lazarev. Tapi pasukan Rusia dipukul mundur.
Ini adalah kekalahan pertama Rusia selama bertahun-tahun dan memiliki konsekuensi serius karena dianggap tak terkalahkan. Tapi kekalahan tersebut tidak murni disebabkan serangan suku Teke, tapi Rusia juga sedang berperang melawan Turki Ustmani.
Rusia menarik sebagian pasukan di Asia Tengah untuk melawan Turki Ustmani. Rusia akhirnya berhasil mengambil Serbia, Montenegro, dan Rumania.
Pemerintah Rusia kemudian memutuskan untuk membangun jalur kereta api strategis untuk mengirim orang ke daerah Turkimenistan. Ini adalah awal dari jalur kereta api Transcaspian.
Sebagian besar wilayah Turkmenistan adalah gurun yang panas. Tentara Rusia harus melakukan perjalanan panjang di bawah terik matahari, dibantu dengan ribuan kuda dan unta untuk membawa perbekalan. Jalur kereta api akan menjadikan operasi militer berlangsung secara cepat.
5. Kekalahan memalukan pasukan Rusia

Pada tahun 1979, Rusia kembali mengirim tentaranya ke Turkmenistan di bawah pemimpin Jenderal Nikolai Lomakin. Sebanyak 4.000 pasukan kavaleri dan infanteri berbaris melintasi gurun untuk menyerang Geok Tepe. Saat itu, pembangunan rel kereta api belum sepenuhnya berjalan.
Kekurangan kuda dan unta untuk membawa perbekalan, pasukan itu kekurangan persediaan makanan dan air. Mereka juga harus melawan pasukan Teke dengan jumlah hampir dua kali lipatnya.
Tapi suku Teke tak memiliki senjata modern. Mereka dibombardir dengan meriam. Belum sepenuhnya serangan meriam itu sukses, Lomakin memilih menyerang secara frontal ke dalam benteng.
Salah strategi membuat pasukan Lomakin habis dihajar pasukan suku Teke. Mereka melarikan diri, mundur ke Laut Kaspia. Dalam salah satu sumber, ada sekitar 700 pasukan Rusia yang tewas tapi Russia Beyond mencatat lebih dari 1.000 tentara yang tewas.
6. Pasukan Rusia menghentikan pasokan air

Jenderal Lomakin yang kalah segera dipanggil pulang ke St. Petersburg sambil membawa aib. Rusia kemudian mengirim Jenderal Mikhail Skobelev. Dia adalah salah satu jenderal yang memimpin pasukan Rusia melawan tentara Turki Ustmani.
Pada November 1880, Skobelev dan 8.000 pasukannya mulai menuju benteng Geok Tepe, yang dihuni sekitar 30-40.000 ribu orang. Dalam perjalanan itu, dia menyapu banyak pasukan suku Teke.
Mendekati benteng, Skobelev melakukan pengintaian dengan cermat dan memilih untuk menyerang kota Yangi Kala (Iangi-Kala) yang memasok air ke Geok Tepe pada awal Januari 1881. Setelah berhasil menguasai Yangi Kala, Skobelev memerintahkan untuk membuat parit pertahanan.
Ada tiga parit pertahanan yang dibangun. Selama pembangunan itu, para penunggang kuda suku Teke kerap melancarkan serangan secara berkala, dan berhasil membunuh ratusan tentara Rusia.
Pada pertengahan Januari 1881, bahkan suku Teke melakukan serangan dalam jumlah besar. Tapi karena tentara Rusia sudah siap, mereka berhasil menghalau pasukan tersebut dan memaksa mereka untuk mundur.
Dari Yangi Kala, Skobelev melakukan pengamatan yang jeli ke benteng Geok Tepe. Ia kemudian memerintahkan untuk membangun terowongan dan memasang peledak di bawah benteng dengan tujuan menciptakan retakan.
7. Pasukan Rusia menembus benteng Geok Tepe

Pada malam hari tanggal 11 Januri 1881, Jenderal Skobelev memerintahkan pasukan untuk membawa dinamit ke dalam terowongan yang telah digali di bawah benteng Geok Tepe. Pada tanggal 12 Januari keesokan harinya, serangan meriam mulai dilancarkan.
36 meriam yang dibawa Skobelev memuntahkan peluru menuju ke dalam benteng, dan pada saat yang sama, dua ton dinamit yang telah dipasang di bawah terowongan benteng, diledakkan sehingga memicu getaran tanah dahsyat.
Benteng lumpur tebal itu akhirnya robek sepanjang sekira 40 meter. Orang-orang suku Teke banyak yang mengira itu karena gempa bumi, dan segera mereka panik. Benteng yang retak, membuat pasukan Skobelev kemudian menyerbu ke dalamnya.
Pasukan Skobelev yang berada di sisi benteng lain, kemudian ikut menyerbu memasuki Geok Tepe. Pasukan suku Teke dipimpin oleh Takma Sardar, terpojok dan melarikan diri ke padang pasir.
8. Pembantaian Geok Tepe

Skobelev jelas dikirim ke Geok Tepe dengan kematangan strategi dan kesiapan yang jauh lebih besar dibandingkan Lomakin. Dia melakukan perhitungan yang cermat dalam ekspedisi militer kedua untuk mengalahkan suku Teke.
Pengepungan dan pertempuran di benteng Geok Tepe berlangsung selama 23 hari. Dalam waktu tersebut, suku Tepe kehilangan 6.500 orang di dalam kota.
Ketika pasukan suku Teke melarikan diri, Skobelev terus mengejarnya sampai jauh di padang pasir dan membantai sekitar 8.000 orang, baik itu perempuan atau anak-anak.
Reporter perang dari London Daily News bernama Edmund O'Donovan mencatat, "tidak ada yang selamat, bahkan anak kecil atau orang tua. Semua tanpa ampun ditebas oleh pedang Rusia. Secara keseluruhan, 8.000 pelarian dikatakan tewas, sementara 6.500 mayat lagi dihitung di dalam benteng itu sendiri."
Jumlah yang diterka O'Donovan itu akurat, tapi fakta yang terungkap selanjutnya adalah, sebagian besar dari mereka yang tewas adalah laki-laki, bukan seperti apa yang disebutkannya.
Tapi karena kabar kebrutalan pasukan Rusia itu telah tersebar ke Eropa, kecaman segera datang ke St. Petersburg. Skobelev dipanggil lalu dihukum untuk bertugas di Minsk. Satu tahun kemudian, Skobelev meninggal karena serangan jantung.
9. Dampak pertempuran Geok Tepe

Setelah kekalahan suku Teke di Geok Tepe, pasukan Rusia dapat menguasai kota Ashgabat, yang kini jadi ibu kota Turkmenistan. Pasukan Rusia terus melaju ke tenggara dan selatan, menguasai kota oasis Merv yang strategis tanpa perlawanan.
Merv jatuh ke pangkuan Rusia dengan cara menyerahkan diri pada 6 Maret 1884. Jatuhnya Merv itu membuat Inggris khawatir dengan posisinya yang berada di Afghanistan, dan berdekatan dengan ekspansi Rusia.
Pertarungan sempat pecah antara pasukan Rusia dengan pasukan Afghanistan yang dibantu perwira Inggris. Tapi kemudian perjanjian Anglo-Rusia disepakati untuk garis perbatasan, di mana Inggris lebih memilih untuk tidak berkonfrontasi langsung dengan Rusia.
Sejak ditaklukkan kekaisaran Rusia, Turkmenistan berada di bawah jajahan kekaisaran Rusia. Kemudian wilayah itu berada di bawah kendali Uni Soviet sampai tahun 1991, ketika kekuatan komunisme itu runtuh.
Kekalahan Geok Tepe dipandang oleh Turkmenistan bukanlah kekalahan biasa, tapi sebagai sebuah bencana. Ketika Soviet runtuh dan Turkmenistan merdeka, mereka memperingati tanggal 12 Januari sebagai Memorial Day.
Tanggal itu adalah tanggal di mana pasukan Rusia menembus benteng Geok Tepe, dan mulai membantai suku Teke, bahkan mereka yang mampu melarikan diri juga tetap dikejar dan dibunuh.



















