Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Unik Dictamnus albus, Tanaman Gas yang Mudah Terbakar!
Potret tanaman Dictamnus albus (pexels.com/Peter Fazekas)
  • Dictamnus albus dikenal sebagai ‘tanaman gas’ karena menghasilkan uap minyak esensial mudah terbakar yang dapat menyala singkat tanpa merusak tanaman.
  • Aromanya mirip jeruk dan mengandung furanocoumarins yang bisa menyebabkan iritasi kulit serius bila terkena sinar matahari setelah kontak langsung.
  • Tanaman ini sulit dibudidayakan karena akar sensitif dan pertumbuhannya lambat, namun mampu hidup lebih dari 30 tahun dengan bunga berwarna lembut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di dunia tumbuhan, ada beragam spesies dengan kemampuan yang terdengar mustahil. Ada yang mampu menjebak serangga, ada pula yang mengeluarkan aroma menyengat demi mengusir pemangsa. Di antara deretan tanaman unik tersebut, Dictamnus albus menempati posisi yang sulit ditandingi. Julukan “tanaman gas” melekat padanya lantaran ia menghasilkan uap minyak esensial yang mudah terbakar.

Para peneliti sudah lama mengkaji kandungan minyak volatil yang diproduksi tanaman ini beserta mekanisme biologis di baliknya. Meski tampak memesona, Dictamnus albus tetap perlu diperlakukan dengan hati-hati, baik di alam maupun di kebun. Nah, biar makin mengenal spesies ini, simak lima fakta uniknya berikut!

1. Menghasilkan gas yang mudah terbakar

Dictamnus albus (pixabay.com/LeneA)

Dilansir NC State University, Dictamnus albus mengeluarkan senyawa volatil dari kelenjar yang ada pada bunga dan buahnya (kapsul biji). Senyawa ini berupa minyak esensial yang dapat menguap ke udara, terutama saat cuaca panas dan kering. Di kondisi tertentu, uap tersebut bisa terbakar ketika terkena percikan api.

Jika api kecil didekatkan, akan muncul kilatan biru tipis di sekitar tanaman. Reaksi ini terjadi akibat uap minyak terbakar di udara terbuka. Biasanya, api yang muncul cepat hilang dan tidak merusak tanaman itu sendiri.

2. Bunganya beraroma lemon atau jeruk

Dictamnus albus (commons.wikimedia.org/Visola Tangirova)

Daun Dictamnus albus memancarkan aroma khas yang mengingatkan pada jeruk bercampur rempah. Aroma ini berasal dari senyawa terpenoid dan limonene yang menguap bebas. Wanginya berperan dalam memikat lebah dan kupu-kupu supaya hinggap.

Dictamnus albus juga mengandung senyawa furanocoumarins yang dapat menyebabkan reaksi kulit serius. Berdasarkan penelitian (Henderson dan DesGroseilliers, 1984; Grosu dkk. 2024), paparan senyawa furanocoumarins yang diikuti sinar matahari berisiko memicu phytophotodermatitis. Gejalanya meliputi kemerahan, lepuhan, perubahan warna kulit, serta rasa perih yang menyakitkan. Oleh karena itu, banyak ahli menyarankan agar tidak menyentuh Dictamnus albus sembarangan.

3. Api tidak membakar tanaman sampai mati

Dictamnus albus (commons.wikimedia.org/I.Sáček, senior)

Menariknya, Dictamnus albus yang menyala justru tidak hangus terbakar. Saat lapisan gas di sekitarnya terbakar, apinya hanya berlangsung selama 1-2 detik. Suhu panasnya memang lumayan tinggi, namun akar dan batang bawah tanah tetap utuh. Bahkan dalam hitungan minggu, tanaman ini tumbuh kembali lebih subur dari sebelumnya.

Beberapa peneliti menduga bahwa api membantu menghilangkan hama atau jamur di permukaan daun. Jadi, Dictamnus albus sengaja menciptakan “api pembersih” versi tanaman. Mirip dengan pohon eukaliptus yang butuh api guna meregenerasi hutan.

4. Dijuluki “burning bush” dan punya jejak di sejarah

Dictamnus albus (flickr.com/Bureau of Land Management - Utah, Public Domain Mark)

Julukan “burning bush” bukan cuma nama keren tanpa makna. Banyak yang mengaitkan tanaman ini dengan kisah semak menyala dalam teks kuno, khususnya cerita dalam kitab suci. Walau belum ada bukti pasti kalau Dictamnus albus adalah tanaman yang dimaksud, kesamaan fenomenanya sering jadi bahan diskusi.

Selain itu, keberadaan tanaman ini juga tercatat dalam literatur klasik Eropa. Dalam beberapa catatan, Dictamnus albus telah dibudidayakan sejak abad pertengahan. Pedanius Dioscorides menuliskannya dalam buku De Materia Medica, lengkap dengan catatan efeknya. Ia menggambarkan tanaman ini sebagai obat sakit kepala, radang mata dan organ lainnya.

5. Sulit untuk dibudidayakan

Dictamnus albus (commons.wikimedia.org/Philipola)

Dictamnus albus termasuk tanaman yang cukup sulit dibudidayakan. Ia tidak suka dipindahkan setelah tumbuh karena akarnya sensitif. Akar ini menancap dalam ke tanah, membuat tanaman dewasa enggan diganggu. Jika dipaksa dipindah, peluangnya untuk bertahan hidup sangat kecil. Proses pertumbuhannya pun terbilang lambat, dan bisa memakan waktu 5-7 tahun sebelum berbunga.

Meski demikian, hasilnya sepadan dengan usaha yang diberikan. Bunganya muncul dengan warna lembut, ada putih, ungu, atau merah muda dengan garis halus yang cantik. Sekali tumbuh dengan baik, tanaman ini mampu bertahan hingga lebih dari 30 tahun. Sifat “keras kepala” ini menjadikannya koleksi eksklusif di kebun raya, sebab tak semua tukang kebun punya kesabaran menunggunya mekar .

Dictamnus albus mengajarkan kita bahwa di balik keindahan dan keunikan, selalu ada sisi lain yang mesti diwaspadai. Jadi, jika suatu hari nanti kamu menemukan tanaman wangi jeruk ini, kagumi dari kejauhan, dan jangan coba-coba menyalakan korek di dekatnya, ya!

Referensi :

Henderson, J. A., & DesGroseilliers, J. P. (1984). Gas plant (Dictamnus albus) phytophotodermatitis simulating poison ivy. Canadian Medical Association Journal, 130(7), 889.

Grosu, C., Jîjie, A. R., Manea, H. C., Moacă, E. A., Iftode, A., Minda, D., ... & Vlad, C. S. (2024). New insights concerning phytophotodermatitis induced by phototoxic plants. Life, 14(8), 1019.

Tirillini, B., Pellegrino, R., Menghini, L., Pagiotti, R., & Menghini, A. (2002). Composition of the essential oil of Dictamnus albus L. from Italy. Journal of Essential Oil Research, 14(3), 203-205.

Martinez-Frances, V., Rivera, D., Heinrich, M., Obón, C., & Ríos, S. (2015). An ethnopharmacological and historical analysis of “Dictamnus”, a European traditional herbal medicine. Journal of ethnopharmacology, 175, 390-406.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article