Dictamnus albus (commons.wikimedia.org/Philipola)
Dictamnus albus termasuk tanaman yang cukup sulit dibudidayakan. Ia tidak suka dipindahkan setelah tumbuh karena akarnya sensitif. Akar ini menancap dalam ke tanah, membuat tanaman dewasa enggan diganggu. Jika dipaksa dipindah, peluangnya untuk bertahan hidup sangat kecil. Proses pertumbuhannya pun terbilang lambat, dan bisa memakan waktu 5-7 tahun sebelum berbunga.
Meski demikian, hasilnya sepadan dengan usaha yang diberikan. Bunganya muncul dengan warna lembut, ada putih, ungu, atau merah muda dengan garis halus yang cantik. Sekali tumbuh dengan baik, tanaman ini mampu bertahan hingga lebih dari 30 tahun. Sifat “keras kepala” ini menjadikannya koleksi eksklusif di kebun raya, sebab tak semua tukang kebun punya kesabaran menunggunya mekar .
Dictamnus albus mengajarkan kita bahwa di balik keindahan dan keunikan, selalu ada sisi lain yang mesti diwaspadai. Jadi, jika suatu hari nanti kamu menemukan tanaman wangi jeruk ini, kagumi dari kejauhan, dan jangan coba-coba menyalakan korek di dekatnya, ya!
Referensi :
Henderson, J. A., & DesGroseilliers, J. P. (1984). Gas plant (Dictamnus albus) phytophotodermatitis simulating poison ivy. Canadian Medical Association Journal, 130(7), 889.
Grosu, C., Jîjie, A. R., Manea, H. C., Moacă, E. A., Iftode, A., Minda, D., ... & Vlad, C. S. (2024). New insights concerning phytophotodermatitis induced by phototoxic plants. Life, 14(8), 1019.
Tirillini, B., Pellegrino, R., Menghini, L., Pagiotti, R., & Menghini, A. (2002). Composition of the essential oil of Dictamnus albus L. from Italy. Journal of Essential Oil Research, 14(3), 203-205.
Martinez-Frances, V., Rivera, D., Heinrich, M., Obón, C., & Ríos, S. (2015). An ethnopharmacological and historical analysis of “Dictamnus”, a European traditional herbal medicine. Journal of ethnopharmacology, 175, 390-406.