Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Fisika di Balik Kubah Melayang Hagia Sophia, Kokoh Ribuan Tahun!

Fisika di Balik Kubah Melayang Hagia Sophia, Kokoh Ribuan Tahun!
Hagia Sophia (Adli Wahid, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Hagia Sophia dibangun pada abad ke-6 oleh Kaisar Yustinianus I dengan kubah raksasa yang tampak melayang, hasil kolaborasi dua ilmuwan Bizantium: Anthemius dari Tralles dan Isidorus dari Miletus.
  • Inovasi utama struktur ini adalah penggunaan pendentive, segitiga melengkung yang menyalurkan beban kubah ke empat pilar besar sehingga dinding bisa lebih ringan dan penuh jendela.
  • Kubah dibuat dari batu bata tanah liat Rhodian yang ringan serta mortar elastis, menjadikannya tahan gempa dan mampu bertahan lebih dari 1.500 tahun di wilayah rawan seismik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Hagia Sophia di Istanbul, Turki, telah memukau dunia selama lebih dari 1.500 tahun dengan kemegahan arsitekturnya. Bangunan yang awalnya gereja, kemudian masjid, sempat menjadi museum, dan kini kembali berfungsi sebagai masjid ini menyimpan salah satu pencapaian rekayasa terbesar dalam sejarah, yaitu kubah raksasanya yang seolah melayang di udara. Pembangunannya pada abad ke-6 oleh Kaisar Bizantium Yustinianus I bukan hanya soal kemewahan, tetapi juga lompatan besar dalam ilmu pengetahuan dan arsitektur pada masanya.

Keajaiban ini terwujud di lokasi yang sangat rawan gempa, sebuah tantangan luar biasa yang berhasil dipecahkan oleh para perancangnya. Kubah megah ini menjadi bukti perpaduan brilian antara seni, fisika, dan geometri, yang membuatnya mampu bertahan dari guncangan dahsyat dan berdirinya waktu. Rahasia di baliknya bukanlah sihir, melainkan penerapan ilmu fisika yang jauh melampaui zamannya.

1. Kubah ini dirancang oleh seorang fisikawan dan matematikawan

Hagia Sophia
Hagia Sophia (Kecags, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Alih-alih menunjuk arsitek, Kaisar Yustinianus I justru memercayakan proyek ambisius ini kepada dua ilmuwan jenius dari dunia Romawi-Bizantium. Mereka adalah Anthemius dari Tralles, seorang ahli mekanika dan matematika, serta Isidorus dari Miletus, seorang fisikawan terkemuka. Keduanya bukanlah arsitek tradisional, melainkan para pemikir yang mendekati tantangan ini sebagai sebuah eksperimen ilmiah. Dilansir dari The Other Tour, kolaborasi keduanya menghasilkan inovasi arsitektur yang benar-benar baru.

Pendekatan mereka yang tidak biasa inilah yang melahirkan konsep revolusioner. Anthemius dikenal sebagai ahli dalam menangani cahaya dan geometri reflektor, sementara Isidorus memiliki pemahaman mendalam tentang fisika dan struktur. Mereka menggabungkan pengetahuan teoretis dengan praktik konstruksi untuk menciptakan kubah yang tidak hanya besar, tetapi juga tampak ringan secara visual. Kubah tersebut dirancang seolah-olah "tergantung dari surga dengan rantai emas," sebuah ilusi optik yang dicapai melalui 40 jendela di dasarnya yang membiarkan cahaya masuk dan menyamarkan penyangga utamanya.

2. Rahasia utamanya ada pada struktur pendentive

potret interior Hagia Sophia
potret interior Hagia Sophia (Chris06, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Tantangan terbesar dalam membangun kubah Hagia Sophia adalah bagaimana meletakkan dasar kubah yang bundar di atas ruang utama bangunan yang berbentuk persegi. Para pembangun Romawi sebelumnya biasanya meletakkan kubah di atas bangunan melingkar seperti Pantheon. Namun, Anthemius dan Isidorus memperkenalkan solusi jenius yang disebut pendentive. Pendentive adalah struktur segitiga melengkung yang menjadi transisi antara empat pilar raksasa di sudut ruangan dengan dasar kubah.

Secara sederhana, pendentive berfungsi mentransfer beban masif kubah secara merata ke pilar-pilar penyangga. Dilansir dari The Other Tour, inovasi ini memungkinkan beban vertikal seberat ribuan ton—menurut analisis dari MIT, gaya vertikalnya mencapai 1012 kN—disalurkan dengan mulus ke pondasi bangunan. Dengan begitu, dinding di bawah kubah tidak perlu menahan beban berat, sehingga bisa dibuat lebih tipis dan diberi banyak jendela untuk menciptakan interior yang terang dan lapang. Teknik inilah yang membuat kubah tampak "melayang" tanpa penyangga yang terlihat jelas.

3. Materialnya dipilih khusus untuk meringankan beban

Hagia Sophia
Hagia Sophia (Jorge Láscar, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Untuk membangun kubah berdiameter lebih dari 30 meter, para perancang tidak bisa menggunakan material berat seperti beton Romawi biasa. Mereka membutuhkan material yang ringan namun tetap kuat. Solusinya adalah penggunaan batu bata khusus yang terbuat dari tanah liat Rhodian yang sangat ringan dan berpori. Batu bata ini tidak hanya mengurangi bobot keseluruhan kubah, tetapi juga memiliki daya tahan yang baik. Bahan-bahan bangunan lainnya pun didatangkan dari seluruh kekaisaran untuk memastikan kualitas terbaik.

Selain batu bata ringan, mereka menggunakan mortar atau adukan yang juga bersifat fleksibel. Campuran mortar ini konon mengandung bahan-bahan yang membuatnya lebih elastis dibandingkan mortar biasa, sehingga mampu menyerap sebagian kecil guncangan. Kombinasi material ringan dan mortar fleksibel ini secara signifikan mengurangi tekanan horizontal (horizontal thrust) kubah, yang menurut riset dari MIT adalah sebesar 275 kN. Pengurangan beban inilah yang menjadi salah satu kunci mengapa struktur ini bisa bertahan begitu lama.

4. Kubah Hagia Sophia terbukti tangguh menghadapi gempa

potret kubah Hagia Sophia
potret kubah Hagia Sophia (Dosseman, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Istanbul terletak di dekat Patahan Anatolia Utara, salah satu zona gempa paling aktif di dunia. Sejarah mencatat kubah asli Hagia Sophia sempat runtuh pada tahun 558 M, hanya 21 tahun setelah selesai dibangun, akibat gempa bumi. Namun, keruntuhan itu memberikan pelajaran berharga. Proyek rekonstruksi dipimpin oleh Isidorus yang Muda, keponakan dari arsitek aslinya. Ia merancang ulang kubah dengan profil yang lebih tinggi dan curam, serta menambahkan iga-iga struktural untuk memperkuatnya.

Desain baru ini terbukti jauh lebih stabil dan mampu mendistribusikan gaya lateral akibat gempa dengan lebih efektif. Kubah kedua inilah yang sebagian besar kita lihat hari ini. Meski beberapa bagiannya sempat runtuh pada tahun 989 dan 1346 akibat gempa besar, struktur utamanya tetap bertahan. Bahkan arsitek legendaris Ottoman, Mimar Sinan, turut menambahkan penopang eksterior pada abad ke-16 untuk lebih memperkokoh bangunan ini. Sebuah studi dari MIT bahkan membuat model 3D dan menguji ketahanannya; hasilnya, dibutuhkan akselerasi tanah lateral minimum 0.725g untuk meruntuhkan kubah tersebut, membuktikan ketangguhannya yang luar biasa.

Keajaiban kubah Hagia Sophia adalah bukti nyata bahwa inovasi yang didasari ilmu pengetahuan mampu melahirkan karya yang melampaui batas zaman. Ia bukan sekadar bangunan, melainkan sebuah monumen abadi dari kehebatan intelektual manusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More