Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gunung Berapi Tidur, Ancaman Diam yang Bisa Bangkit Kapan Saja
ilustrasi gunung berapi (pexels.com/roberto Zuniga)
  • Gunung berapi tidur adalah gunung yang lama tidak meletus, namun masih menyimpan aktivitas geologi di bawah permukaan dan bisa kembali aktif kapan saja.
  • Kondisi tidur terjadi karena pasokan magma menurun, jalur magma tersumbat, pendinginan dapur magma, atau perubahan pergerakan lempeng tektonik.
  • Para ahli terus memantau tanda-tanda aktivitas seperti gempa kecil dan emisi gas untuk mendeteksi kemungkinan gunung berapi tidur akan bangun kembali.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kalau mendengar istilah "gunung berapi tidur", jangan  membayangkan gunung tersebut benar-benar tertidur seperti manusia. Istilah ini hanyalah cara sederhana untuk menggambarkan gunung berapi yang sudah sangat lama tidak meletus atau menunjukkan aktivitas vulkanik yang berarti.

Menariknya, kondisi "tidur" ini bukan berarti gunung tersebut sudah mati. Di bawah permukaannya, berbagai proses geologi masih bisa terus berlangsung selama puluhan, ratusan, bahkan jutaan tahun. Jadi, apa sebenarnya yang membuat sebuah gunung berapi bisa tertidur?

1. Pasokan magma berkurang

Sumber utama aktivitas gunung berapi adalah magma, yaitu batuan cair panas yang berasal dari dalam Bumi. Ketika produksi magma di bawah permukaan menurun, kemungkinan terjadinya letusan juga ikut berkurang.

Penurunan pasokan magma ini bisa terjadi karena perubahan suhu di dalam mantel Bumi atau perubahan aktivitas lempeng tektonik yang menjadi mesin pembentuk gunung berapi. Tanpa suplai magma yang cukup, gunung berapi perlahan memasuki masa istirahat yang sangat panjang.

2. Jalur magma menuju permukaan tersumbat

Magma tidak bisa begitu saja menembus permukaan Bumi. Ia membutuhkan saluran atau jalur khusus di dalam kerak Bumi untuk naik ke atas. Seiring waktu, jalur tersebut dapat tertutup oleh batuan yang sudah membeku, endapan mineral, atau sisa magma dari letusan sebelumnya. Akibatnya, meskipun masih ada magma di bawah tanah, magma tersebut kesulitan mencapai permukaan. Ibarat pipa air yang tersumbat, tekanan mungkin masih ada, tetapi tidak cukup untuk menghasilkan letusan.

3. Perubahan pergerakan lempeng tektonik

ilustrasi gunung (unsplash.com/Tommy Silver)

Sebagian besar gunung berapi terbentuk di daerah pertemuan lempeng tektonik atau di atas titik panas di dalam mantel Bumi. Jika pergerakan lempeng berubah atau bergeser, proses pembentukan magma juga dapat melambat. Akibatnya, gunung berapi yang dulunya sangat aktif bisa kehilangan sumber energinya dan berubah menjadi gunung berapi tidur. Proses ini berlangsung sangat lambat sehingga hampir tidak terasa dalam skala kehidupan manusia.

4. Dapur magma mulai mendingin

Di bawah banyak gunung berapi terdapat kantong besar yang disebut dapur magma, tempat magma berkumpul sebelum naik ke permukaan. Namun, magma tidak selalu tetap panas dan cair selamanya. Seiring waktu, magma bisa mendingin, mengkristal, dan menjadi semakin kental. Ketika hal itu terjadi, magma menjadi lebih sulit bergerak ke atas.

Selain itu, gas-gas vulkanik yang biasanya membantu mendorong magma keluar juga bisa berkurang. Akibatnya, tekanan di dalam gunung berapi menurun dan aktivitas vulkanik mereda.

5. Kandungan gas di dalam magma menurun

Gas seperti uap air dan karbon dioksida memiliki peran penting dalam letusan gunung berapi. Gas-gas ini bertindak seperti gelembung di dalam minuman bersoda yang menciptakan tekanan dari dalam.

Jika magma kehilangan sebagian besar gasnya selama berada di bawah permukaan, tekanan yang diperlukan untuk memicu letusan juga ikut menurun. Karena itulah beberapa gunung berapi bisa tetap tenang selama ratusan hingga ribuan tahun.

6. Gunung berapi tidur belum tentu mati

ilustrasi gunung (Unsplash.com/Marco Bicca)

Banyak orang mengira gunung berapi tidur berarti gunung tersebut sudah tidak berbahaya lagi. Padahal, dalam dunia geologi ada perbedaan besar antara gunung berapi tidur dan gunung berapi mati.

Gunung berapi tidur masih memiliki kemungkinan untuk meletus kembali suatu hari nanti jika pasokan magma baru muncul atau jalur menuju permukaan terbuka kembali. Sebaliknya, gunung berapi mati dianggap sudah kehilangan sumber magmanya sehingga hampir tidak mungkin aktif lagi. Yang membuat para ilmuwan berhati-hati adalah fakta bahwa beberapa gunung berapi pernah kembali aktif setelah ribuan tahun tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

7. Gunung berapi terus dipantau

Meskipun terlihat tenang dari luar, para ahli vulkanologi terus memantau gunung berapi melalui gempa kecil, perubahan bentuk permukaan tanah, hingga emisi gas yang keluar dari kawah. Peningkatan aktivitas-aktivitas kecil tersebut sering kali menjadi pertanda bahwa sistem magma di bawah permukaan mulai bergerak kembali. Pemantauan inilah yang membantu memberikan peringatan dini jika sebuah gunung berapi yang selama ini "tertidur" mulai menunjukkan tanda-tanda akan bangun.

Pada akhirnya, gunung berapi tidur bukan berarti gunung tersebut benar-benar berhenti bekerja. Bumi adalah planet yang terus berubah, dan proses geologi di dalamnya berlangsung jauh lebih lama dibanding usia manusia. Karena itu, ketenangan sebuah gunung berapi terkadang hanyalah jeda panjang sebelum aktivitas berikutnya dimulai.

Referensi

ET Now. Diakses pada Juni 2026. Ethiopian Volcano Eruption: What Made It Active from Dormant After 10000 Years? Science behind The Process EXPLAINED
National Geographic. Diakses pada Juni 2026. "Sleeping" Volcanoes Can Wake Up Faster Than Thought
Oregon State University. Diakses pada Juni 2026. Why Do Volcanoes become Dormant?
Universe Today. Diakses pada Juni 2026. What are Dormant Volcanoes?

Editorial Team

Related Article