Referensi
Biology Insights. Diakses pada Agustus 2026. Do All Mountains Have Snow? Why Some Do and Others Don’t
National Aeronautics and Space Administration. Diakses pada Agustus 2026. Mountaintop Glacier Ice Disappearing in Tropics Worldwide
StudyCountry. Diakses pada Agustus 2026. How Can There be Snow on the Top of a Mountain Near the Equator?
The Nature Network. Diakses pada Agustus 2026. Why Do Some Mountains Have Snow All Year While Others Don’t?
Times of India. Diakses pada Agustus 2026. Why do Himalayan Mountain Tops Stay Snowy Even Though They are Closer to the Sun?
Windy. Diakses pada Agustus 2026. Why is There Snow on the Top of the Mountains
Kenapa Puncak Gunung Memiliki Salju meski Berada di Negara Tropis?

- Puncak gunung tropis dapat bersalju karena suhu turun sekitar 6–7 derajat Celsius tiap kenaikan 1.000 meter akibat tekanan udara lebih rendah dan pendinginan adiabatik.
- Salju permanen di sekitar khatulistiwa umumnya hanya bertahan pada ketinggian sekitar 4.800–5.500 meter, dengan kelembapan cukup untuk membentuk kristal es dan akumulasi salju.
- Es gunung tropis rentan menyusut akibat perubahan iklim: gletser Kilimanjaro berkurang hampir 75 persen pada 1986–2019, sementara es Puncak Jaya menyusut dari 6,3 menjadi 0,3 kilometer persegi.
Mendengar kata negara tropis, yang terbayang biasanya adalah cuaca panas, sinar matahari yang terik, dan hutan hijau sepanjang tahun. Namun, ternyata ada sejumlah gunung di wilayah tropis yang puncaknya justru diselimuti salju atau lapisan es.
Contohnya adalah Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Pegunungan Andes di Amerika Selatan, hingga Puncak Jaya di Papua. Lantas, bagaimana salju bisa bertahan di wilayah yang berada dekat dengan garis khatulistiwa?
Jawabannya ada pada ketinggian gunung. Semakin tinggi suatu tempat dari permukaan laut, suhu udaranya cenderung semakin rendah. Karena itu, puncak gunung yang sangat tinggi dapat memiliki suhu di bawah titik beku meskipun berada di negara tropis. Mari, kita bahas lebih dalam seputar hal ini!
1. Suhu udara semakin dingin di ketinggian
Alasan utama puncak gunung bisa bersalju adalah suhu udara yang turun seiring bertambahnya ketinggian. Di dekat permukaan Bumi, tanah dan laut menyerap energi Matahari lalu memanaskan udara di sekitarnya. Sementara itu, tekanan udara semakin rendah di tempat yang lebih tinggi. Ketika udara naik ke wilayah bertekanan rendah, udara mengembang dan mengalami pendinginan. Proses ini disebut pendinginan adiabatik.
Secara umum, suhu udara dapat turun sekitar 6–7 derajat Celsius setiap kenaikan 1.000 meter. Namun, angkanya dapat berbeda tergantung kondisi udara dan kelembapan. Artinya, jika suhu di kaki gunung tropis sekitar 25 derajat Celsius, suhu di ketinggian 5.000 meter secara teoritis dapat berada beberapa derajat di atas atau bahkan di bawah titik beku. Inilah sebabnya pendaki bisa merasakan suhu yang sangat dingin ketika mencapai puncak gunung tinggi, meskipun gunung tersebut berada di wilayah tropis.
2. Garis salju di daerah tropis berada sangat tinggi
Tidak semua gunung tinggi otomatis memiliki salju permanen. Ada batas ketinggian tertentu yang memungkinkan salju dan es bertahan sepanjang tahun. Batas ini dikenal sebagai garis salju permanen. Ketinggian garis salju dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti suhu, curah hujan, kelembapan, tutupan awan, angin, hingga bentuk dan arah lereng gunung.
Di sekitar garis khatulistiwa, garis salju biasanya berada sangat tinggi, bahkan dapat mencapai sekitar 4.800–5.500 meter di atas permukaan laut. Karena itu, hanya gunung-gunung yang menjulang sangat tinggi yang mampu mempertahankan salju atau es dalam jangka panjang.
Jadi, jangan heran jika gunung setinggi 3.000 meter di wilayah tropis belum tentu memiliki salju. Ketinggian tersebut mungkin masih belum cukup untuk mempertahankan suhu di bawah titik beku sepanjang waktu.
3. Salju juga membutuhkan kelembapan

ilustrasi pegunungan Himalaya (unsplash.com/Simon Berger) Suhu dingin saja tidak cukup untuk menghasilkan salju. Atmosfer juga membutuhkan uap air yang cukup. Kabar baiknya, wilayah tropis justru memiliki kelembapan tinggi karena menerima banyak energi Matahari, mengalami penguapan yang intens, dan memiliki aktivitas pembentukan awan yang kuat.
Ketika udara lembap bergerak naik mengikuti lereng gunung, udara tersebut mengembang dan mendingin. Uap air kemudian mengalami kondensasi dan membentuk awan. Jika suhu di dalam awan dan sekitar puncak cukup rendah, air dapat membeku menjadi kristal es dan turun sebagai salju.
Namun, salju yang terbentuk di atmosfer belum tentu sampai ke permukaan dalam bentuk yang sama. Jika melewati lapisan udara yang lebih hangat, salju dapat mencair dan berubah menjadi hujan. Di puncak gunung yang suhunya tetap berada di bawah titik beku, salju lebih mudah menumpuk karena proses pencairannya jauh lebih lambat.
4. Mengapa salju bisa bertahan di bawah sinar matahari
Pertanyaan lain yang sering muncul adalah: kalau gunung tropis tetap mendapatkan sinar Matahari yang kuat, mengapa esnya tidak langsung mencair? Salah satu alasannya adalah albedo, yaitu kemampuan suatu permukaan untuk memantulkan kembali radiasi Matahari. Salju berwarna putih dan memiliki albedo tinggi sehingga sebagian besar energi Matahari dipantulkan kembali, bukan diserap sebagai panas.
Selain itu, udara di ketinggian sangat tipis dibandingkan udara di dekat permukaan laut. Kondisi atmosfer dan suhu yang rendah membuat lingkungan puncak gunung tetap memungkinkan es bertahan.
Meski begitu, keberadaan salju tidak selalu berarti sebuah gunung memiliki gletser yang stabil. Gletser terbentuk ketika salju menumpuk selama bertahun-tahun, kemudian tertekan dan berubah menjadi massa es. Jika pencairan dan sublimasi lebih cepat daripada penambahan salju, lapisan es akan terus menyusut.
5. Salju di gunung tropis makin terancam hilang
Keberadaan salju dan es di gunung tropis sebenarnya sangat rentan terhadap perubahan iklim. Pasalnya, es tersebut hanya bisa bertahan pada kondisi lingkungan tertentu dan umumnya berada di area yang sudah sangat tinggi.
NASA melaporkan bahwa luas gletser di Gunung Kilimanjaro mengalami penurunan drastis. Antara 1986 dan 2019, area yang tertutup gletser di gunung tersebut berkurang hampir 75 persen.
Hal serupa terjadi di Puncak Jaya, Papua. Berdasarkan pengamatan satelit NASA, luas es gletser di kawasan tersebut menyusut dari sekitar 6,3 kilometer persegi pada 1980 menjadi hanya sekitar 0,3 kilometer persegi pada 2020.
Dengan kata lain, pemandangan puncak gunung tropis yang diselimuti salju atau es bukan sesuatu yang bertentangan dengan iklim tropis. Suhu di kaki gunung boleh saja panas, tetapi kondisi di ribuan meter lebih tinggi bisa sangat berbeda.
Jadi, banyak puncak gunung di negara tropis ditutupi salju karena ketinggian gunung menciptakan lingkungan dengan suhu yang cukup rendah untuk memungkinkan salju dan es bertahan. Sayangnya, fenomena ini kini semakin terancam akibat meningkatnya suhu global.








![[QUIZ] Apakah Kucingmu Pintar? Cari Tahu Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20240912/apakah-kucing-pintar-800649d5b1db2e2d2e7ceeadc3a26252.jpg)

![[QUIZ] Dari Jenis Simetri Alam Ini, Ini Caramu Capai Keseimbangan Hidup](https://image.idntimes.com/post/20250601/queen-danaus-gilippus-spreadwing-ventral-df50788dcc3c7a7a2e797148af184b7b-f4f24b557f4a473d1c57b29b82d11b6e.jpg)
![[QUIZ] Uji Pengetahuan Tentang Sawit, Buktikan Kamu Si Paling Tahu!](https://image.idntimes.com/post/20250421/whatsapp-image-2025-04-21-at-131340-2-6ddeeaefb2f0215e4ceb976bad0d68b0.jpeg)



![[QUIZ] Dari Karakter Upin & Ipin, Kami Tebak Seberapa Langka Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20250526/img-20250524-171040-59d926335e45a3f62b89089b95e5200f.jpg)




