Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Gurun di China Disulap jadi Penyerap Karbon

Gurun di China Disulap jadi Penyerap Karbon
Kotapraja Tazhong di Gurun Taklamakan (Xinhua photo/Hu Huhu)
Intinya Sih
  • Selama hampir lima dekade, China mengubah tepi Gurun Taklamakan menjadi kawasan hijau penyerap karbon melalui proyek reboisasi besar yang terbukti efektif menurunkan gas rumah kaca.
  • Peneliti dari AS dan China menggunakan data satelit untuk memantau peningkatan tutupan vegetasi serta penyerapan CO2, terutama saat musim hujan di area pohon tumbuh.
  • Selain menyerap karbon, program ini juga menekan erosi angin dan badai pasir, meski kontribusinya terhadap pengurangan emisi global masih relatif kecil namun tetap penting bagi keseimbangan iklim.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Salah satu wilayah terkering di dunia sedang bertransformasi menjadi penyerap karbon melalui program penanaman pohon berskala besar dan berjangka panjang, yang menyerap lebih banyak gas rumah kaca daripada yang dihasilkannya.

Dikutip dari situs Science Alert, aksi ini merupakan hasil dari upaya selama hampir lima dekade di sekitar tepi Gurun Taklamakan di barat laut China, serta bukti bahwa dengan tingkat pendanaan dan stabilitas yang memadai, proyek-proyek reboisasi ini dapat berhasil.

Temuan peneliti

Perubahan di tepi gurun tersebut dievaluasi oleh tim ilmuwan dari Amerika Serikat dan China, menggunakan pemodelan data sensor satelit selama beberapa tahun untuk menganalisis tingkat CO2, tutupan vegetasi, dan pola cuaca.

Meskipun hutan tropis luas seperti Amazon dengan mudah menarik perhatian sebagai penyerap karbon, temuan seperti ini menegaskan kontribusi yang dapat diberikan oleh hamparan pohon dan semak yang lebih kecil. Para peneliti menyarankan bahwa gurun-gurun lain dapat diubah dengan cara yang sama.

Para peneliti menggambarkan Gurun Taklamakan sebagai "ruang hampa biologis" dan "lingkungan yang sangat kering", sambil menekankan betapa kerasnya iklim di wilayah seluas sekitar 337.000 kilometer persegi (sekitar tiga perempat luas California).

Gurun jadi penyerap karbon

peta lokasi Gurun Taklamakan (commons.wikimedia.org/ Kmusser)
peta lokasi Gurun Taklamakan (commons.wikimedia.org/ Kmusser)

Ada bukti terbaru yang menunjukkan bahwa gurun dapat menjadi penyerap karbon, tetapi ada banyak variabel yang berperan, mulai dari pola cuaca hingga pergerakan pasir.

Meskipun penanaman pohon hanya dilakukan di sekitar tepi Gurun Taklamakan, tampaknya hal ini telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat karbon. Data yang dikumpulkan oleh para peneliti menunjukkan peningkatan penyerapan karbon dari wilayah gurun secara keseluruhan, terutama selama musim hujan (Juli hingga September), dan di area-area di mana pohon-pohon telah tumbuh.

Ada manfaat tambahan di mana program reboisasi telah menghambat erosi angin, mengurangi frekuensi dan intensitas badai pasir, serta melindungi lahan pertanian lokal.

Peran penting penyerap karbon

Penting untuk diingat bahwa batas-batas Gurun Taklamakan memang memiliki beberapa ciri khusus yang berarti pendekatan ini tidak akan selalu berhasil di mana-mana, khususnya pegunungan di sekitarnya yang menyediakan aliran air hujan bagi pohon-pohon.

Saat ini penyerapan karbonnya belum terlalu besar. Bahkan jika seluruh Gurun Taklamakan ditutupi hutan hijau, kita mungkin hanya akan melihat pengurangan sekitar 60 juta ton karbon dioksida, dibandingkan dengan emisi global sekitar 40 miliar ton per tahun.

Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa setiap penyerap karbon memiliki peran penting, dan seiring dengan semakin mengkhawatirkannya kelebihan karbon di atmosfer, penelitian ini memberikan secercah harapan akan langkah-langkah yang dapat diambil di masa depan.

Berbagai studi menemukan bahwa akibat perubahan iklim, banyak penyerap karbon berpotensi berhenti menyerap karbon dan justru memperparah masalah dalam beberapa dekade mendatang, sementara di beberapa wilayah keseimbangan tersebut telah terganggu. Artinya, langkah-langkah penanggulangan sangat mendesak.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Science

See More