Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Hewan dengan Sistem Pertahanan Berbasis Toksin, Bisa Mematikan!
ilustrasi ikan buntal (pexels.com/Jeffry S.S.)
  • Kobra memakai bisa dari kelenjar khusus melalui taring, sekaligus mengangkat tubuh dan melebarkan tudung sebagai peringatan sebelum kontak fisik.
  • Ikan buntal mengandalkan tetrodotoksin yang mengganggu sistem saraf serta mengembangkan tubuh dengan air agar lebih sulit ditelan predator.
  • Sigung menyemprot cairan bersulfur yang menyengat dan mengiritasi, sementara kaki seribu mengeluarkan senyawa kimia serta menggulung tubuh untuk melindungi bagian lunak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di alam liar, hewan memiliki berbagai cara untuk memproteksi diri dari ancaman predator, mulai dari menyamarkan tubuh hingga menggunakan zat kimia sebagai senjata pertahanan. Salah satu mekanisme yang menarik adalah penggunaan zat beracun yang bisa mengganggu tubuh hewan lain pada saat terjadi gigitan, kontak, atau konsumsi.

Mekanisme yang ada sebetulnya berkembang dalam berbagai bentuk dan tidak selalu digunakan untuk menyerang mangsa. Ada beberapa hewan yang kerap memanfaatkan senyawa beracun, terutama pada saat merasa terancam agar predator memilih untuk menjauh dan mencari sasaran lainnya.

1. Ular kobra

ilustrasi ular kobra (unsplash.com/anil sharma india)

Ular kobra memiliki bisa yang dihasilkan oleh kelenjar khusus dan disalurkan melalui taring pada saat menggigit mangsanya. Bisa tersebut mengandung berbagai senyawa yang bisa mempengaruhi sistem tubuh korbannya, sehingga gigitan menjadi salah satu bentuk pertahanan yang cukup efektif pada saat ular merasa terancam.

Ada beberapa spesies kobra yang memiliki perilaku pertahanan yang sangat khas sebelum melakukan gigitan, seperti dengan mengangkat bagian depan tubuh dan melebarkan tudung lehernya. Postur yang ada sebetulnya memiliki fungsi penting sebagai sinyal peringatan agar ancamannya dapat segera menjauh tanpa ular harus melakukan kontak fisik terlebih dahulu.

2. Ikan buntal

ilustrasi ikan buntal (unsplash.com/mavicprovzla)

Ikan buntal dikenal memiliki tetrodotoksin, yaitu senyawa beracun yang terdapat pada bagian tubuh tertentu dari beberapa jenis spesies hewan. Senyawa yang ada bisa mengganggu kerja sistem saraf, sehingga menjadi salah satu bentuk perlindungan ikan buntal dari predator.

Bukan hanya mengandalkan toksin, namun ikan buntal juga memiliki pertahanan fisik yang sangat khas pada saat merasa terancam. Ikan ini bisa memasukkan air dalam jumlah yang cukup besar ke tubuh, sehingga ukurannya membesar dan menjadi lebih sulit ditelan oleh predator.

3. Sigung

ilustrasi sigung (commons.wikimedia.org/American Lotus)

Sigung mempunyai kelenjar khusus yang menghasilkan cairan dengan aroma yang sangat menyengat untuk mengusir predator. Cairan tersebut ternyata mengandung senyawa sulfur yang bisa menimbulkan bau kuat dan menyebabkan iritasi pada mata hingga jaringan tertentu.

Sebelum menyemprotkan cairan pertahanan, sigung biasanya akan menunjukkan perilaku peringatan agar ancamannya dapat segera menjauh. Jika peringatan tersebut tidak kunjung berhasil, maka sigung akan mengarahkan semprotannya pada predator dari jarak tertentu.

4. Kaki seribu

ilustrasi kaki seribu (pexels.com/Rashid)

Kaki seribu memiliki kelenjar pertahanan yang bisa mengeluarkan berbagai senyawa kimia pada saat tubuhnya menghadapi ancaman. Pada beberapa jenis, senyawa tersebut ternyata bisa menimbulkan bau menyengat atau iritasi agar predator dapat segera menjauh setelah melakukan kontak.

Pertahanan kimia yang ada ternyata bekerja bersama dengan kemampuan kaki seribu untuk menggulung tubuhnya pada saat merasa terancam. Dengan posisi tubuh yang menggulung, maka bagian yang lunak bisa terproteksi, sementara predator harus berhadapan dengan sistem pertahanan kimianya.

Sistem pertahanan yang berbasis zat beracun seolah menunjukkan betapa beragamnya strategi yang dikembangkan dari hewan untuk bertahan hidup. Masing-masing hewan seolah memiliki caranya yang berbeda-beda dengan menggunakan toksin agar dapat mengusir predator atau melumpuhkan mangsanya. Perbedaan mekanisme yang ada memperlihatkan bahwa zat kimia ternyata bisa menjadi senjata alam yang sangat efektif untuk menghadapi berbagai ancaman di alam liar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article