Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Celepuk, Burung Hantu Kecil yang Beragam di Indonesia

Mengenal Celepuk, Burung Hantu Kecil yang Beragam di Indonesia
Celepuk jawa memperlihatkan mata lebar berwarna jingga. (commons.wikimedia.org/Katekuchan)
  • Celepuk adalah burung hantu kecil genus Otus dengan sekitar 60 spesies global; belasan hidup di Indonesia, didukung isolasi antarpulau yang mendorong pembentukan spesies.
  • Warna cokelat atau abu-abu berpola lurik membantu kamuflase, sementara suara panggilan khas tiap spesies memudahkan identifikasi; penglihatan dan pendengaran tajam mendukung perburuan malam.
  • Celepuk memangsa hewan kecil sehingga membantu mengontrol populasinya, tetapi banyak spesies terancam kerusakan habitat, perburuan, penangkapan, dan persekusi; 12 spesies asli Indonesia dilindungi hukum.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Burung hantu ini ukurannya kecil. Matanya lebar mencolok. Bulunya mirip kulit kayu. Tiap spesies punya suara panggilan yang unik sehingga bisa dikenali dari suaranya saja. Nama burung hantu ini adalah celepuk.

Celepuk atau scops owl merupakan jenis burung hantu berukuran kecil yang banyak dijumpai di Indonesia. Negara kita yang berbentuk kepulauan mendukung keberagaman spesies celepuk. Kurang lebih ada belasan spesies celepuk di Indonesia. Yuk, kenalan dengan burung hantu ini lewat 7 fakta menarik celepuk atau scops owl berikut ini!

  1. 1. Celepuk sangat banyak spesiesnya

    Celepuk rajah bertengger di Gunung Kerinci, Sumatra.
    Celepuk rajah bertengger di Gunung Kerinci, Sumatra. (commons.wikimedia.org/Seshadri.K.S)

    Celepuk atau scops owl merupakan jenis burung hantu berukuran kecil yang tersebar di Dunia Lama (Asia, Afrika, Eropa). Warnanya cokelat atau keabu-abuan dengan pola lurik yang samar. Jumbai telinganya pendek dan gak begitu mencolok.

    Celepuk dikelompokkan dalam genus Otus yang jadi genus burung hantu terbesar. Spesiesnya sangat bervariasi. Sejauh ini, Persatuan Ornitolog Internasional mengakui 60 spesies celepuk. Namun, spesies-spesies baru masih diakui dan ditemukan tiap tahun, terutama di Indonesia.

  2. 2. Celepuk berwarna samar untuk berkamuflase

    Celepuk sulawesi terlihat di Gunung Masarang, Sulawesi Utara.
    Celepuk sulawesi terlihat di Gunung Masarang, Sulawesi Utara. (commons.wikimedia.org/Reydi manahampi)

    Celepuk biasanya berwarna cokelat atau abu-abu di bagian atas, dan lebih terang di bagian bawah. Warna dan pola lurik samar bantu celepuk berkamuflase dengan kulit kayu, sehingga burung ini sulit terdeteksi. Celepuk biasanya juga punya mata berwarna kuning atau oranye cerah yang mencolok.

    Satu hal yang unik dari celepuk adalah tiap spesies punya satu jenis suara panggilan yang unik. Seringkali, cara paling ampuh mengenali spesies celepuk di lapangan adalah dengan mendengar suaranya. Celepuk juga lebih sering terdengar daripada terlihat.

  3. 3. Celepuk penting untuk mengontrol populasi hewan kecil

    Celepuk simalur atau celepuk simeulue bertengger di pohon di pulau Simeulue.
    Celepuk simalur atau celepuk simeulue bertengger di pohon di pulau Simeulue. (commons.wikimedia.org/Dismon Nadiansyah)

    Di habitatnya, celepuk suka memangsa hewan-hewan kecil. Mangsanya berupa serangga, kadal, tikus, cacing, dan lain-lain. Oleh karena itu, keberadaan celepuk sangat penting untuk mengontrol populasi hewan-hewan kecil.

    Layaknya burung hantu pada umumnya, celepuk dilengkapi penglihatan dan pendengaran yang sangat tajam. Telinganya bisa mendeteksi keberadaan mangsa secara akurat. Indra tajam jadi adaptasi yang penting untuk berburu di dalam gelap.

  4. 4. Celepuk sifatnya monogami

    Sepasang celepuk rinjani terlihat di Lombok.
    Sepasang celepuk rinjani terlihat di Lombok. (commons.wikimedia.org/Sangster G, King BF, Verbelen P, Trainor CR)

    Celepuk umumnya bersifat monogami. Sepasang celepuk biasanya punya ikatan yang sangat langgeng. Menurut laman Oiseaux Birds, jantan mulai bernyanyi sekitar 3—4 minggu sebelum masa bersarang dimulai untuk memperkuat atau memperbarui ikatan bersama pasangan. Jantan memberi makanan pada betina sebagai bagian dari proses pendekatan, sebuah perilaku yang umum dijumpai pada burung hantu.

  5. 5. Celepuk tergolong burung hantu sejati

    Celepuk maluku bertengger di pohon.
    Celepuk maluku bertengger di pohon. (commons.wikimedia.org/JJ Harrison)

    FYI, semua jenis burung hantu dikelompokkan dalam ordo Strigiformes. Ordo ini kemudian dibagi menjadi dua keluarga, yakni Strigidae dan Tytonidae. Tytonidae terdiri dari serak atau burung hantu lumbung yang punya wajah berbentuk hati. Sementara Strigidae mengelompokkan burung hantu sejati, seperti celepuk (Otus), beluk (Bubo), punggok (Ninox), sampai kukuk (Strix).

  6. 6. Ada berbagai jenis celepuk di Indonesia

    Celepuk mentawai bertengger di pohon.
    Celepuk mentawai bertengger di pohon. (commons.wikimedia.org/Paul Carter)

    Dari puluhan spesies celepuk yang ada, belasan di antaranya bisa dijumpai di Indonesia. Sebagian besar celepuk yang ada di Indonesia tergolong hewan yang dilindungi hukum. Menurut Permen LHK No. 106 Tahun 2018, ada 12 spesies celepuk asli Indonesia yang berstatus hewan dilindungi, di antaranya:

    • celepuk flores (Otus alfredi),
    • celepuk jawa (Otus angelinae),
    • celepuk biak (Otus beccarii),
    • celepuk raja (Otus brookii),
    • celepuk sangihe (Otus collari),
    • celepuk enggano (Otus enganensis),
    • celepuk rinjani (Otus jolandae),
    • celepuk sulawesi (Otus manadensis),
    • celepuk banggai (Otus mendeni),
    • celepuk mentawai (Otus mentawai),
    • celepuk simalur (Otus umbra), dan
    • celepuk siau (Otus siaoensis).

    Celepuk siau jadi salah satu jenis burung hantu terlangka di dunia. Menurut laman eBird, keberadaannya cuma diketahui berdasarkan spesimen dari abad ke 19 dan belum pernah terlihat di alam liar. IUCN Redlist memperkirakan populasi celepuk siau kurang dari 50 ekor.

    Selain spesies-spesies di atas, masih ada beberapa spesies celepuk yang hidup di Indonesia. Ada celepuk reban Otus lempiji, celepuk wallacea Otus silvicola, celepuk maluku Otus magicus, celepuk wetar Otus tempestatis, sampai celepuk merah Otus rufescens. Semuanya jadi bentuk keragaman spesies burung hantu di Indonesia.

  7. 7. Keberagaman celepuk didukung oleh bentuk kepulauan

    Celepuk reban bertengger di pohon di Taman Nasional Gunung Merapi.
    Celepuk reban bertengger di pohon di Taman Nasional Gunung Merapi. (commons.wikimedia.org/Raafi Nur Ali)

    Celepuk sering menunjukkan keberagaman cepat setelah mengalami isolasi di pulau-pulau. Menurut Smithsonian's National Zoo & Conservation Biology Institute, kepulauan Indonesia terdiri atas pulau-pulau yang memfasilitasi keberagaman spesies. Pulau-pulau seperti Kalimantan, dan Sumatra mudah mengalami peristiwa spesiasi, yakni proses pembentukan spesies baru yang berbeda. Banyak spesies celepuk yang awalnya merupakan subspesies atau anak jenis, kemudian digagaskan sebagai spesies tersendiri.

    Sayangnya, celepuk di Indonesia rentan mengalami kepunahan karena wilayah sebarannya yang sangat spesifik dan habitatnya terus alami kerusakan. Belum lagi, celepuk juga diburu dan ditangkap untuk dijadikan burung sangkar. Padahal, gaya hidupnya gak memungkinkan celepuk untuk dijadikan piaraan.

    Celepuk juga kerap jadi korban persekusi manusia. Tampilannya yang gak biasa serta kebiasaannya yang aktif di malam hari membuat celepuk sering dikaitkan dengan hal-hal mistis. Belum lagi adanya kekeliruan kalau burung hantu seperti celepuk sering dikira memakan hewan ternak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More