Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
4 Hewan yang Berkomunikasi Menggunakan Sinyal Kimia Tidak Terlihat
ilustrasi lebah madu (pexels.com/Pixabay)
  • Komunikasi kimia di alam terjadi lewat feromon, zat tak terlihat yang membantu hewan mengirim pesan seperti peringatan bahaya atau penanda wilayah secara efisien dan sulit dideteksi predator.
  • Semut, lebah madu, rayap, dan kutu daun menggunakan sinyal kimia untuk mengatur aktivitas koloni, menandai jalur makanan, menjaga keharmonisan sarang, hingga memperingatkan ancaman sekitar.
  • Feromon memungkinkan keempat hewan tersebut berkoordinasi dalam mempertahankan koloni, melindungi diri dari predator, serta memastikan keberlangsungan hidup kelompoknya tanpa perlu suara atau gerakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di alam liar, komunikasi bukan hanya terjadi melalui suara gerakan atau warna tubuh, namun juga melalui sinyal kimia yang tidak terlihat secara langsung. Sinyal ini berupa feromon atau zat kimia tertentu yang dilepaskan oleh hewan untuk mengirim pesan kepada sesamanya, mulai dari peringatan bahaya atau bahkan penanda wilayah.

Cara ini dinilai lebih efisien karena bisa menjangkau jarak jauh, mampu bertahan lebih lama, dan sulit dideteksi oleh predator. Simaklah beberapa hewan berikut ini yang dikenal berkomunikasi melalui sinyal kimia tak terlihat, sehingga menunjukkan betapa cerdasnya adaptasi yang mereka lakukan.

1. Semut

ilustrasi semut (pexels.com/Poranimm Athithawatthee)

Semut menggunakan feromon untuk bisa mengatur hampir seluruh aktivitas yang terjadi di dalam koloninya, mulai dari mencari makan hingga menandai jalur perjalanan. Penemuan ini ternyata dilepaskan melalui tubuh mereka dan bisa berbentuk jalur kimia yang dapat memandu semut lain untuk menuju sumber makanan yang tersedia.

Semut kerap menggunakan sinyal kimia dalam memberikan tanda bahaya. Pada saat ada predator atau ancaman di sekitar sarangnya, hormon peringatan bisa menyebar dengan sangat cepat dan memicu reaksi defensif dari seluruh koloni, sehingga mereka pun bisa menghadapi potensi ancaman secara terkoordinasi dengan baik.

2. Lebah madu

ilustrasi lebah madu (pexels.com/FRANK MERIÑO)

Lebah madu kerap mengeluarkan berbagai feromon untuk berkomunikasi satu sama lain, termasuk feromon ratu yang kerap menjaga koloninya tetap stabil. Hormon tersebut mengatur perilaku lebah pekerja, memastikan bahwa mereka bekerja sesuai tugasnya, dan menjaga keharmonisan sarang.

Lebah kerap menggunakan sinyal kimia untuk menandai bahaya, terutama pada saat sarangnya terancam oleh predator. Hormon alarm yang dilepaskan lebah penjaga karena memicu rekan-rekannya untuk siap melawan dan memproteksi sarangnya dengan baik.

3. Rayap

ilustrasi rayap (pexels.com/Jimmy Chan)

Rayap kerap mengandalkan sinyal kimia untuk mengoordinasi pekerjaan besar, seperti membangun terowongan atau sarang bawah tanah. Mereka kerap menggunakan feromon jejak yang bisa membantu individu lain untuk mengetahui arah dengan benar dan lokasi kerja yang harus diselesaikan.

Rayap kerap menggunakan feromon sosial untuk menentukan pembagian peran antara para pekerja, prajurit, dan juga calon ratu. Feromon ini akan mengatur siapa saja yang harus bertugas untuk menjaga sarang dan siapa saja yang harus menjaga makanan, sehingga bisa bertahan dari berbagai ancaman alam atau predator.

4. Kutu daun

ilustrasi kutu daun (britannica.com)

Kutu daun memiliki cara komunikasi unik dengan mengeluarkan sinyal kimia ketika merasa terancam. Pada saat predator, seperti kepik mendekat, maka kutu daun pun akan melepaskan feromon alarm untuk memberitahu kelompoknya agar segera menjauh.

Respon cepat ini seolah meningkatkan peluang mereka untuk tetap bertahan hidup, meski tubuhnya kecil dan juga sangat rentan. Kutu daun kerap menggunakan zat kimia lain untuk menandai tanaman yang dirasa tidak layak konsumsi, sehingga kelompoknya tidak sampai membuang energi pada sumber makanan yang sama.

Komunikasi melalui sinyal kimia merupakan salah satu bentuk interaksi paling menarik yang dimiliki oleh hewan. Dengan menggunakan feromon, maka keempat hewan di atas mampu berkoordinasi dalam mempertahankan koloni, melindungi diri, dan memastikan keberlangsungan hidup dari kelompoknya. Hewan-hewan di atas menunjukkan bahwa proses komunikasi tidak harus melalui suara atau bahasa tubuh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article