Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

9 Fakta sebelum Dirilisnya Epstein Files, Sempat Ditunda?

protes warga AS yang meminta dirilisnya dokumen kasus Jeffrey Epstein
protes warga AS yang meminta dirilisnya dokumen kasus Jeffrey Epstein (commons.wikimedia.org/Geoff Livingston)
Intinya sih...
  • Jaksa Agung Pam Bondi menyakinkan bahwa Epstein Files akan dirilis
  • Belum adanya penjelasan konkret mengenai isi barang bukti yang dibilang Pam Bondi
  • Memo resmi terkait peninjauan kasus Jeffrey Epstein yang tidak bertanda tangan dan tidak bertanggal
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Beberapa berita muncul dan pergi begitu saja, tapi ada beberapa berita yang terus viral selama bertahun-tahun. Nah, begitulah kasus yang menimpa Jeffrey Epstein. Namanya masih dikenal luas hingga saat ini dan menjadi pusat perhatian sejak pertama kali mencuat pada tahun 2006. Jeffrey Epstein sendiri dilaporkan meninggal di penjara pada tahun 2019. Namun, hal itu justru menimbulkan spekulasi dan bahkan kemarahan.

Banyak sekali teori konspirasi seputar kasus Jeffrey Epstein. Pada 2026 ini, dunia kembali dikejutkan dengan rilisnya Epstein Files, yang sudah ditunggu-tunggu sejak 2025. Pada Februari 2025, Jaksa Agung Pam Bondi membagikan kumpulan pertama berkas yang telah dideklasifikasi dalam kasus tersebut. Janji tentang rilis dokumen tambahan terus berdatangan. Hingga tiba-tiba, berita muncul bahwa Epstein Files tidak akan dirilis.

Di samping itu, para pejabat menghadapi reaksi keras dari publik atas penanganan kasus tersebut. Pertanyaan muncul tentang hubungan Presiden AS Donald Trump dengan Jeffrey Epstein, dan seperti yang kita tahu, masalah ini benar-benar meletus dan diperbincangkan netizen saat Epstein Files dirilis. Nah, mengingat viralnya Epstein Files dan nama-nama besar yang terlibat, wajar saja jika dokumen ini sempat ditunda perilisannya. Lalu apa, ya, fakta-fakta sebelum perilisannya?

1. Jaksa Agung Pam Bondi menyakinkan bahwa Epstein Files akan dirilis

Pam Bondi dalam sebuah pidato
Pam Bondi dalam sebuah pidato (commons.wikimedia.org/United States Department of Justice)

Di tengah kontroversi ini, Jaksa Agung Pam Bondi sempat menjadi pusat perhatian. Pada Februari 2025, Bondi menjadi penggerak utama di balik rilis dokumen yang akhirnya menjadi sangat kontroversial karena beberapa alasan. Selain tidak ada hal baru yang terkandung dalam dokumen tersebut, gugus tugas Komite Pengawasan DPR tentang deklasifikasi rahasia federal menyatakan bahwa mereka mengaku belum meninjau dokumen tersebut.

Sedangkan untuk skala rilisnya, salinan tersebut terdapat dalam satu map. Pam Bondi menanggapi bahwa kasus Jeffrey Epstein ibarat puncak gunung es. Ia mengaku ada begitu banyak informasi yang sedang dipersiapkan untuk dirilis sehingga masih diteliti. Ketika ditanya secara khusus oleh Fox News apakah ada rencana untuk merilis daftar klien Jeffrey Epstein, Pam Bondi menjawab: "Daftar itu ada di meja saya sekarang untuk ditinjau. Itu adalah arahan dari Presiden Trump."

Pada Maret 2025, Pom Bondi kembali menegaskan pendiriannya. Dalam sebuah wawancara, seperti yang dikutip AP News, ia menjelaskan, "Pemerintahan Biden menyimpan dokumen-dokumen ini, tidak ada yang menyentuh dokumen tersebut. Sayangnya, mereka tidak percaya pada transparansi, dan banyak dari mereka tidak percaya pada kejujuran."

Kemudian, pada Juli 2025, sebuah memo dirilis oleh Departemen Kehakiman AS, yang menyatakan bahwa tidak ada daftar klien yang memberatkan. Bahkan, tidak ada lagi dokumen yang akan dirilis.

2. Belum adanya penjelasan konkret mengenai isi barang bukti yang dibilang Pam Bondi

ilustrasi dokumen
ilustrasi dokumen (pixabay.com/Jana Schneider)

Beberapa bulan sebelum pengungkapan dokumen yang tertunda, Jaksa Agung Pam Bondi mengungkapkan sejumlah besar berkas bukti yang perlu diperiksa sebelum dirilis. Mengenai rilis yang paling dinantikan—yang disebutnya sebagai daftar klien—Bondi menarik kembali pernyataannya dengan bilang kalau ia tidak bermaksud mengungkapkan daftar klien, dan yang ia maksud adalah berkas kasus umum. Sementara itu, dilaporkan bahwa bukti tersebut mencakup puluhan ribu berkas media ilegal, yang menurut memo Departemen Kehakiman AS tidak akan dirilis sebagai bentuk penghormatan kepada para korban. Meskipun melindungi identitas dan informasi pribadi para korban, banyak kritikus yang curiga tentang plin-plannya pemerintah untuk merilis dokumen tersebut.

Para penganut teori konspirasi dan pejabat pemerintah akhirnya sama-sama menuntut jawaban tentang rilisnya Epstein Files. Sebab, tidak ada penjelasan mengenai bukti yang dilaporkan tersebut, dari mana asalnya, dan apakah itu bukti yang sama yang digunakan dalam kasus Jeffrey Epstein dan Ghislaine Maxwell, atau apakah itu bukti yang baru ditemukan.

3. Memo resmi terkait peninjauan kasus Jeffrey Epstein yang tidak bertanda tangan dan tidak bertanggal

logo Departemen Kehakiman AS
logo Departemen Kehakiman AS (commons.wikimedia.org/Department of Justice)

Di tengah kecaman atas kegagalan pemerintah AS untuk menindaklanjuti janji-janji terkait perilisan dokumen, akuntabilitas, dan dedikasi untuk menegakkan keadilan, terdapat sebuah memo dua halaman. Meskipun memo tersebut bagian dari komitmen transparansi pemerintah, tapi ada beberapa informasi dasar yang hilang.

Memo tersebut memuat stempel dari dua lembaga yang tercantum di bagian atas dokumen, yaitu Departemen Kehakiman dan Biro Investigasi Federal. Namun, tidak ada nama atau tanda tangan yang bertanggung jawab atas memo dan isinya itu. Memo tersebut juga dikritik karena tidak bertanggal. Nah, kurangnya informasi tersebut membuat peran Jaksa Agung Pam Bondi dalam perilisan dokumen tersebut menjadi tidak jelas. Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas memo tersebut, dan siapa yang membantah klaim yang dibuat oleh Jaksa Agung?

4. Alan Dershowitz mengklaim kalau dia tahu tentang dokumen rahasia yang disembunyikan

Alan Dershowitz berargumentasi di hadapan Senat AS selama sidang pemakzulan Donald Trump.
Alan Dershowitz berargumentasi di hadapan Senat AS selama sidang pemakzulan Donald Trump. (commons.wikimedia.org/U.S. Senate)

Memo dari Departemen Kehakiman dan Biro Investigasi Federal dengan jelas menyatakan: "Tinjauan sistematis ini tidak mengungkapkan 'daftar klien' yang memberatkan. Tidak ditemukan pula bukti kredibel bahwa Jeffrey Epstein memeras individu-individu terkemuka sebagai bagian dari tindakannya."

Pada tahun 2008, Alan Dershowitz menjadi salah satu pengacara Jeffrey Epstein. Pada 19 Maret 2025, Dershowitz diwawancarai oleh Sean Spicer. Ia pun mengkonfirmasi bahwa ada daftar nama-nama besar yang terkait dengan kasus Jeffrey Epstein. Dalam klip video yang diunggah ulang di X, Dershowitz mengatakan, "Ini bukan opini, ini fakta. Saya telah melihat. Saya tahu kalau dokumen-dokumen itu sedang disembunyikan. Dan dokumen-dokumen itu disembunyikan untuk melindungi individu. Saya tahu nama-nama individu tersebut. Saya tahu mengapa mereka disembunyikan. Saya tahu siapa yang menyembunyikannya. Tetapi saya terikat oleh kerahasiaan."

Namun, pada Juli 2025, Alan Dershowitz mengatakan, "Tidak ada daftar klien dan tidak pernah ada daftar klien. Daftar klien menunjukkan bahwa Jeffrey Epstein membuat daftar orang-orang yang kepadanya ia memperdagangkan perempuan. Yang ada hanyalah pernyataan tertulis FBI yang telah disunting dari para penuduh." Ia melanjutkan bahwa nama-nama tersebut dirahasiakan bukan oleh pemerintahan Trump, tetapi oleh sistem pengadilan.

5. Alina Habba membuat pernyataan kontroversial tentang dokumen dan informasi tentang Jeffrey Epstein

Alina Habba berbicara di Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) 2025 di Gaylord National Resort & Convention Center di National Harbor, Maryland, pada 2025.
Alina Habba berbicara di Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) 2025 di Gaylord National Resort & Convention Center di National Harbor, Maryland, pada 2025. (commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Sebenarnya daftar klien Jeffrey Epstein dilaporkan tidak ada sejak lama. Bahkan dilaporkan sejak awal kasus ini oleh mereka yang terlibat langsung dalam penyelidikan. Namun, bukan rahasia lagi kalau teori konspirasi seputar kasus Jeffrey Epstein belum hilang.

Penasihat Presiden AS Alina Habba pernah berdiskusi dengan Piers Morgan pada Februari 2025. Menurutnya, masih banyak hal yang akan terungkap tentang kasus Jeffrey Epstein. Dalam akun X-nya, Habba menulis, "Kita memiliki catatan penerbangan, informasi, nama, yang akan terungkap. Saya tidak mengerti mengapa hal itu tidak mengejutkan, bahwa ada banyak individu yang disembunyikan dan dirahasiakan dan tidak dimintai pertanggungjawaban. Saya percaya pada pertanggungjawaban, jadi Anda sekarang harus melalui proses Anda. Sekarang saatnya untuk pertanggungjawaban."

Piers Morgan mengkritik pernyataan Alina Habba itu setelah memo Departemen Kehakiman AS bocor. Ia memperjelas bahwa tidak ada satu pun informasi yang akan diberikan. Ia pun memposting klip tersebut di X dengan keterangan, "hmm.. apa yang terjadi?" Pada saat di postingnya pernyataan ini, klip wawancara Alina Habba ini sudah ditonton lebih dari 4,6 juta kali, tanpa penjelasan resmi mengenai komentarnya.

6. Donald Trump menarik kembali pernyataannya tentang kasus Jeffrey Epstein

Presiden Donald Trump mengadakan konferensi pers bersama Jaksa Agung Pam Bondi dan Wakil Jaksa Agung Todd Blanche di Ruang Konferensi Pers James S. Brady pada hari Jumat, 27 Juni 2025.
Presiden Donald Trump mengadakan konferensi pers bersama Jaksa Agung Pam Bondi dan Wakil Jaksa Agung Todd Blanche di Ruang Konferensi Pers James S. Brady pada hari Jumat, 27 Juni 2025. (commons.wikimedia.org/Foto resmi Gedung Putih oleh Abe McNatt)

Salah satu perubahan yang paling tak terduga datang dari Presiden AS sendiri, Donald Trump. Saat berkampanye untuk kepresidenan keduanya, Trump sangat vokal tentang tokoh-tokoh elit yang berkuasa di balik layar untuk menutupi tindakan ilegal. Trump pun berjanji akan mengakhiri perdagangan mencurigakan. Nah, salah satunya pengungkapan dokumen rahasia tentang Jeffrey Epstein dan tokoh-tokoh yang terlibat.

Di sisi lain, buku hitam kecil milik Jeffrey Epstein sudah lama memicu spekulasi terkait seberapa besar kejahatannya. Namun, ada benang merah yang aneh di sini. Pertama, Trump berjanji akan membocorkan elit-elit rahasia, kemudian Jeffrey Epstein ditangkap sehubungan dengan jaringan perdagangan seks yang melibatkan banyak tokoh penting, tetapi nama itu termasuk Donald Trump sendiri.

Setelah nama Donald Trump keseret. Sikap Trump justru berubah drastis. Bahkan presiden AS ini sampai mengecam di Truth Social-nya karena kasus ini. Trump bahkan sering menegur jurnalis dan anggota partainya sendiri karena terus mengajukan pertanyaan tentang Jeffrey Epstein. Di sisi lain, mantan loyalis Trump pun menuntut jawaban mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik layar.

7. Ada bukti kalau rekaman CCTV di penjara Jeffrey Epstein telah diedit sebelum dirilis

Foto tahanan Jeffrey Epstein yang dirilis oleh Departemen Sheriff Palm Beach County, diambil setelah ia didakwa karena meminta jasa prostitusi pada tahun 2006.
Foto tahanan Jeffrey Epstein yang dirilis oleh Departemen Sheriff Palm Beach County, diambil setelah ia didakwa karena meminta jasa prostitusi pada tahun 2006. (commons.wikimedia.org/Palm Beach County Sheriff's Department)

Memo Departemen Kehakiman AS yang sudah kita bahas sebelumnya, memuat kesimpulan akhir tentang kematian Jeffrey Epstein, dan seperti yang telah dinyatakan sebelumnya, putusan resminya adalah Epstein meninggal karena bunuh diri. CCTV di sel Epstein menunjukkan tidak ada seorang pun yang masuk atau keluar selnya sekitar waktu kematiannya. Namun, banyak yang menyadari bahwa ada waktu yang terpotong atau hilang dalam rekaman CCTV tersebut.

Waktu tersebut terpotong dari pukul 23:58:58 ke pukul 00:00:00. Jaksa Agung Pam Bondi mengatakan bahwa hal itu sering terjadi, dan bukan kejanggalan. Ia kembali menegaskan kalau itu hanyalah masalah pengaturan ulang video. Jadi, semua video CCTV di jam tersebut menitnya hilang di waktu itu.

Namun, ketika Wired melihat metadata video tersebut, analis mereka menemukan bahwa klip rekaman CCTV itu sebenarnya telah diedit dan disimpan berulang kali. Selain itu, klip CCTV tersebut sebenarnya terdiri dari dua file terpisah yang telah digabungkan. Para ahli yang menganalisis mengatakan bahwa ada kemungkinan modifikasi pada rekaman CCTV, atau mungkin tindakan yang tidak disengaja—seperti perubahan format file—sehingga jika dijadikan bukti di pengadilan, maka tidak dapat diterima. Analisis lebih lanjut menemukan bahwa tidak ada satu menit pun yang hilang. Sementara itu, Departemen Kehakiman AS mengklaim banwa rekaman CCTV tersebut lengkap, asli, dan belum diedit.

8. Mengapa banyak pejabat jadi bungkam soal kasus Jeffrey Epstein?

JD Vance
JD Vance (commons.wikimedia.org/The White House)

Salah satu pertanyaan yang banyak diajukan adalah, kenapa banyak orang berpengaruh yang sebelumnya menuntut jawaban tentang siapa sebenarnya Jeffrey Epstein dan dengan siapa ia menjalin kerja sama terkait perdagangan seks di bawah umur? Namun, tiba-tiba banyak pihak yang tidak lagi mempermasalahkan hal tersebut, dan bahkan meminta netizen untuk berhenti membahas hal itu. Media arus utama seperti CNN menunjukkan bahwa perubahan haluan ini tentu saja membuat banyak orang berspekulasi tentang adanya hal mencurigakan.

Selain perubahan mendadak Donald Trump untuk tidak lagi membahas tentang kasus Jeffrey Epstein, tokoh-tokoh seperti JD Vance, Direktur FBI Kash Patel, dan Wakil Direktur FBI Dan Bongino, yang sebelumnya bersikeras bahwa ini adalah masalah besar yang harus segera diungkap secara transparansi, justru bungkam.

Penghentian investigasi secara tiba-tiba dan pernyataan yang sangat jelas bahwa setelah berbulan-bulan menjanjikan puluhan dokumen akan dirilis, nama-nama akan disebutkan, dan yang lainnya akan dituntut, justru diakhiri begitu saja. Nah, hal ini tentu saja membuat banyak orang tidak hanya marah, tetapi juga curiga. Tidak mengherankan jika memo yang jelas-jelas dirancang untuk mengakhiri pertanyaan justru menghasilkan banyak pertanyaan.

9. Bersamaan dengan kasus Jeffrey Epstein, terjadi pemecatan terhadap pengacara etika Departemen Kehakiman AS

Presiden Donald Trump mengadakan konferensi pers bersama Jaksa Agung Pam Bondi dan Wakil Jaksa Agung Todd Blanche di Ruang Konferensi Pers James S. Brady pada hari Jumat, 27 Juni 2025.
Presiden Donald Trump mengadakan konferensi pers bersama Jaksa Agung Pam Bondi dan Wakil Jaksa Agung Todd Blanche di Ruang Konferensi Pers James S. Brady pada hari Jumat, 27 Juni 2025. (commons.wikimedia.org/Foto resmi Gedung Putih oleh Abe McNatt)

Tidak ada satu pun kejadian di dunia politik yang tidak berdampak pada banyak hal. Jadi, dengan tidak dirilisnya dokumen-dokumen yang telah lama diperbincangkan terkait Jeffrey Epstein, Jaksa Agung Pam Bondi memecat pengacara senior bidang etika Departemen Kehakiman AS, Joseph Tirrell. Tirrell mengunggah surat pemecatan tersebut—yang ditandatangani oleh Pam Bondi—di LinkedIn. Ia mengucapkan terima kasih dan berjanji akan terus mengabdi di ranah publik.

Tidak ada alasan apa pun. Namun, surat pemecatan ini tidak luput dari perhatian publik mengingat pemerintahan sedang menangani kasus Jeffrey Epstein. Di samping itu, diketahui bahwa Joseph Tirrell juga berhubungan dengan Jack Smith, yang menuntut Donald Trump karena menyimpan dokumen rahasia di Mar-a-Lago. Tirrell sendiri menyetujui penerimaan biaya hukum pro bono oleh Smith. Hal tersebut—ditambah dengan terjadinya kekacauan tentang kasus Jeffrey Epstein—membuat netizen mempertanyakan motif pemecatannya.

Sejumlah alasan dan pengakuan dari pejabat yang terkait tentang batal rilisnya Epstein Files, membuktikan bahwa dokumen ini memang mengerikan. Terbukti dari beredarnya Epstein Files di ranah publik dan akhirnya menjadi perbincangan netizen di jagat maya. Bukan karena masalah perdagangan seks di bawah umurnya saja, melainkan nama-nama tokoh penting dan ritual-ritual satanik yang dilakukan, memang sungguh di luar dugaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Science

See More

Sejarah Pemberian Angpau Saat Tahun Baru Imlek, Penuh Makna

10 Feb 2026, 10:29 WIBScience