Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

6 Fakta Kawah Batagaika, "Gerbang Neraka" Yakutia yang Terus Meleleh

Kawah Batagaika
ilustrasi Kawah Batagaika (Lomonosov Moscow State University/Alexander Kizyakov)
Intinya sih...
  • Kawah Batagaika berada di wilayah terpencil Republik Sakha, Rusia, dan termasuk dalam kategori megaslump.
  • Ukuran kawah yang terus tumbuh dan membesar, serta menyimpan informasi kondisi lingkungan dari 650 ribu tahun yang lalu.
  • Penemuan jasad hewan purba yang terawetkan dengan sempurna, serta menyimpan gas karbon dan metana yang besar.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di kedalaman hutan taiga Siberia yang beku, terdapat sebuah fenomena geologi menakjubkan sekaligus mengerikan yang dikenal sebagai Kawah Batagaika. Lubang raksasa ini bukanlah kawah vulkanik ataupun bekas hantaman meteorit, melainkan sebuah retakan tanah masif yang terus melebar akibat perubahan iklim global. Fenomena ini pertama kali muncul pada tahun 1960-an setelah penebangan hutan besar-besaran yang memicu pencairan lapisan tanah beku abadi di bawahnya.

Hingga detik ini, Kawah Batagaika tetap aktif dan terus menunjukkan pertumbuhan yang sangat agresif seiring dengan meningkatnya suhu rata-rata permukaan Bumi. Banyak ilmuwan dunia menaruh perhatian besar pada tempat ini karena ia dianggap sebagai indikator paling nyata dari kerusakan ekosistem permafrost di Kutub Utara. Mari kita telusuri fakta-fakta unik di balik kawah yang dijuluki sebagai “gerbang dunia bawah” ini!

1. Berada di wilayah terpencil Republik Sakha

Kawah Batagaika
ilustrasi Kawah Batagaika (wikimedia.org/NASA)

Dilansir laman Springer Nature Link, kawah Batagaika berada di wilayah terpencil Republik Sakha (Yakutia), Rusia, yang dikenal sebagai salah satu daerah terdingin di Bumi. Wilayah ini memiliki kondisi iklim ekstrem, dengan suhu musim dingin yang bisa mencapai puluhan derajat di bawah nol. Secara geologis, Batagaika bukanlah kawah biasa, melainkan termasuk dalam kategori megaslump, yaitu keruntuhan tanah berskala sangat besar. Fenomena ini terjadi ketika struktur tanah beku kehilangan kekuatannya akibat pencairan.

Berbeda dengan kawah yang terbentuk karena letusan atau benturan, Batagaika muncul karena permafrost yang selama ini menjadi fondasi tanah mulai mencair. Ketika es di dalam tanah berubah menjadi air, lapisan tanah di atasnya tidak lagi memiliki penyangga yang kuat. Akibatnya, tanah perlahan runtuh dan membentuk lubang raksasa yang terus melebar. Hilangnya vegetasi akibat penebangan hutan memperparah kondisi ini karena tanah tidak lagi terlindungi dari paparan sinar matahari langsung. Proses ini membuat es yang terperangkap selama ribuan tahun mencair jauh lebih cepat dari seharusnya.

2. Ukuran kawah yang terus tumbuh dan membesar

Kawah Batagaika
ilustrasi Kawah Batagaika (russiatrek.org/Slava Stepanov)

Sejak pertama kali diamati, Kawah Batagaika telah tumbuh menjadi salah satu retakan tanah terbesar di dunia. Dilansir laman U.S. Geological Survey, panjang kawah ini kini mencapai sekitar satu kilometer, dengan lebar yang terus bertambah setiap tahunnya. Kedalamannya pun sangat mencengangkan, di mana beberapa bagian mencapai hingga 50 meter dari permukaan tanah semula. Kondisi ini membuat area sekitar kawah menjadi sangat tidak stabil dan berbahaya.

Dinding-dinding kawah sering mengalami longsoran kecil, terutama saat musim panas ketika suhu meningkat drastis. Data dari pemantauan satelit menunjukkan bahwa Batagaika dapat melebar sekitar 10–30 meter setiap tahun. Jika dilihat dari udara, bentuknya menyerupai kecebong raksasa yang membelah hamparan hutan Siberia. Bagian dasar kawah dipenuhi lumpur, air lelehan es, serta batang-batang pohon yang ikut terseret ke bawah. Semua ini menunjukkan bahwa kawah tersebut masih sangat aktif dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti tumbuh.

3. Menyimpan informasi kondisi lingkungan dari 650 ribu tahun yang lalu

Kawah Batagaika
ilustrasi Kawah Batagaika (russiatrek.org/Slava Stepanov)

Bagi para ilmuwan, Kawah Batagaika ibarat sebuah mesin waktu alami yang sangat berharga. Kedalamannya membuka lapisan-lapisan tanah kuno yang sebelumnya tersembunyi selama ratusan ribu tahun. Dilansir laman U.S. Geological Survey, Setiap lapisan tanah menyimpan informasi tentang kondisi lingkungan dan iklim Bumi pada masa lalu, bahkan hingga 650.000 tahun yang lalu. Dengan meneliti sedimen di dinding kawah, para peneliti dapat mengetahui jenis tumbuhan, suhu udara, dan pola iklim di masa prasejarah.

Catatan ini menjadi salah satu arsip sejarah iklim tertua yang pernah ditemukan di wilayah Siberia. Lapisan tanah tersebut bekerja layaknya halaman-halaman buku sejarah alam yang terbuka satu per satu. Dari sana, ilmuwan bisa melihat bagaimana Bumi pernah menghadapi periode pemanasan dan pendinginan di masa lampau. Informasi ini sangat penting untuk memahami bagaimana planet kita bereaksi terhadap perubahan iklim. Dengan mempelajari masa lalu, manusia dapat membuat prediksi yang lebih akurat tentang dampak perubahan iklim di masa depan, khususnya di wilayah kutub.

4. Penemuan jasad hewan purba yang terawetkan dengan sempurna

Kawah Batagaika
ilustrasi Kawah Batagaika (russiatrek.org/Slava Stepanov)

Mencairnya permafrost di Kawah Batagaika juga membuka kejutan luar biasa dalam dunia biologi dan paleontologi. Suhu ekstrem yang sangat dingin selama ribuan tahun membuat tanah di kawasan ini berfungsi seperti lemari pendingin alami. Akibatnya, jasad hewan purba dapat terawetkan dengan kondisi yang hampir sempurna. Banyak hewan dari zaman Pleistosen yang ditemukan seolah baru saja mati.

Dilansir laman Smithsonian Magazine, salah satu penemuan paling terkenal adalah jasad anak kuda purba berusia sekitar 40.000 tahun yang masih memiliki kulit, bulu, dan organ dalam yang utuh. Selain itu, fosil mammoth, singa gua, dan bison purba juga sering muncul ketika dinding kawah runtuh. Penemuan ini memberikan peluang langka bagi para ilmuwan untuk mempelajari DNA hewan yang telah lama punah. Dari sini, para peneliti bisa memahami pola makan, lingkungan hidup, hingga evolusi spesies purba tersebut.

5. Menyimpan gas karbon dan metana yang besar

Kawah Batagaika
ilustrasi Kawah Batagaika (russiatrek.org/Slava Stepanov)

Masalah Kawah Batagaika tidak hanya berhenti pada keruntuhan tanah semata. Dilansir laman BBC, di dalam permafrost tersimpan cadangan karbon dan metana dalam jumlah yang sangat besar. Gas-gas ini berasal dari sisa-sisa makhluk hidup purba yang membusuk, tapi prosesnya terhenti karena suhu yang sangat dingin. Selama ribuan tahun, gas tersebut terkunci aman di dalam es.

Ketika permafrost mencair, mikroba kembali aktif dan mulai menguraikan materi organik tersebut. Proses ini menghasilkan pelepasan gas karbon dioksida dan metana ke atmosfer. Metana sendiri memiliki efek pemanasan yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida. Akibatnya, pelepasan gas ini mempercepat pemanasan global secara signifikan. Kondisi ini menciptakan lingkaran setan, di mana pemanasan menyebabkan pencairan es, lalu pencairan es kembali memperparah pemanasan.

6. Mitos suara bawah tanah dari Kawah Batagaika

Kawah Batagaika
ilustrasi Kawah Batagaika (russiatrek.org/Slava Stepanov)

Dilansir laman ScienceAlert, bagi masyarakat lokal Yakutia, Kawah Batagaika bukan sekadar fenomena alam biasa. Sejak lama, kawah ini dipercaya sebagai gerbang menuju dunia bawah yang gelap dan misterius. Penduduk setempat sering mengaku mendengar suara aneh seperti dentuman, gemuruh, atau geraman dari dalam kawah. Cerita-cerita ini diwariskan turun-temurun dan membuat banyak orang enggan mendekati area tersebut.

Namun, dari sudut pandang ilmiah, suara-suara tersebut memiliki penjelasan yang masuk akal. Dentuman keras muncul akibat retakan lapisan es yang pecah secara tiba-tiba karena tekanan suhu. Longsoran tanah dalam jumlah besar yang jatuh ke dasar kawah juga menghasilkan suara gema yang menggelegar. Gesekan antara tanah, batu, dan batang pohon menciptakan bunyi yang terdengar menyeramkan dari kejauhan. Meski terdengar mistis, semua suara itu merupakan hasil dari proses geologis yang sangat aktif.

Fenomena alam ini bukan hanya tentang tanah yang runtuh atau lanskap yang berubah, tetapi juga tentang ancaman tersembunyi yang ikut terlepas bersama mencairnya permafrost. Salah satu kekhawatiran terbesar para ilmuwan saat ini adalah kemungkinan bangkitnya patogen kuno, berupa bakteri atau virus, yang telah membeku selama ribuan tahun. Penelitian bahkan membuktikan bahwa beberapa virus purba masih mampu aktif kembali setelah “tertidur” dalam es selama puluhan ribu tahun. Menjaga stabilitas iklim berarti menjaga keselamatan manusia dari risiko yang belum sepenuhnya kita pahami. Kawah Batagaika pun berdiri sebagai pengingat bahwa alam selalu menyimpan konsekuensi atas setiap tindakan manusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Science

See More

Kenapa Reptil Jarang Bersuara? Ini Penjelasannya

03 Feb 2026, 18:15 WIBScience