5 Fakta Lukisan Gua Leang Tedongnge Sulawesi Selatan, Tertua di Dunia!

- Lukisan figuratif tertua di dunia Leang Tedongnge, yang berusia 45.500 tahun, ditemukan di Gua Kerbau, Sulawesi Selatan.
- Objek lukisan adalah babi hutan Sulawesi dengan detail anatomi yang konsisten dan teknik penentuan usia menggunakan metode Uranium-series.
- Lukisan di Leang Tedongnge bukan sekadar gambar hewan tunggal, melainkan sebuah komposisi cerita atau narasi visual yang menggeser dominasi Eropa.
Seni lukis cadas bukan sekadar coretan purba, melainkan bentuk komunikasi visual pertama manusia yang menjadi jendela utama menuju cara berpikir nenek moyang kita puluhan ribu tahun silam. Sebagai bagian dari deretan situs arkeologi dunia yang paling berharga, lukisan-lukisan ini merekam jejak sejarah yang tak ternilai harganya bagi ilmu pengetahuan. Salah satu temuan paling fenomenal dalam satu dekade terakhir berada di kawasan Karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, tepatnya di Gua Leang Tedongnge, di mana sebuah lukisan figuratif babi hutan ditemukan dengan usia mencapai 45.500 tahun. Penemuan ini secara otomatis menggeser peta sejarah seni dunia dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat awal kreativitas manusia modern di muka bumi.
Namun, rahasia apa saja yang sebenarnya ingin disampaikan oleh para seniman purba ini melalui dinding-dinding gua yang terisolasi tersebut? Mari kita telusuri lebih dalam perjalanan waktu di Leang Tedongnge dan memahami mengapa situs ini menjadi kunci penting bagi identitas sejarah kita dalam artikel berikut ini!
1. Lukisan figuratif tertua di dunia

Leang Tedongnge, yang secara harfiah berarti "Gua Kerbau", adalah situs arkeologi yang terletak di kawasan Karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, Indonesia. Gua ini menjadi terkenal di dunia setelah tim peneliti dari Indonesia dan Australia mempublikasikan temuan lukisan figuratif babi hutan yang diperkirakan berusia 45.500 tahun. Penemuan oleh Basran Burhan—seorang arkeolog Indonesia dari Griffith University, Australia—dan timnya pada tahun 2017 ini resmi menggeser rekor sebelumnya, menjadikan karya seni buatan manusia modern (Homo sapiens) tersebut sebagai lukisan hewan tertua di dunia yang pernah ditemukan hingga saat ini.
Meskipun memiliki nilai sejarah yang luar biasa, akses menuju gua ini sangat sulit karena letaknya yang terpencil dan dikelilingi tebing kapur yang terjal. Selain tantangan lokasi, para peneliti seperti Dr. Adam Brumm—seorang profesor arkeologi dari Griffith University, Australia—mengkhawatirkan kondisi lukisan yang terancam rusak akibat pengelupasan dinding gua. Selain figur babi yang sangat tua, di dalam gua tersebut juga ditemukan cap tangan manusia yang berusia jauh lebih muda, sekitar 17.000 tahun, yang menunjukkan bahwa gua ini telah menjadi saksi bisu kreativitas manusia selama berpuluh-puluh milenium.
2. Objek lukisan diyakini adalah babi hutan Sulawesi

Dilansir Science Advances, para ahli menyimpulkan bahwa lukisan babi di Leang Tedongnge adalah spesies Babi Kutil Sulawesi (Sus celebensis), khususnya jantan dewasa. Meski detail seperti mata atau telinga tidak selalu digambarkan dengan jelas, tetapi terdapat dua ciri khas yang sangat akurat. Pertama, adanya jambul atau rambut berduri di sepanjang kepala hingga punggung. Kedua, adanya tonjolan di atas moncong yang diidentifikasi sebagai kutil wajah, bukan telinga atau taring. Penggambaran kutil ini menggunakan "perspektif terpelintir," sebuah teknik seni purba untuk memperlihatkan ciri khas hewan dari berbagai sudut pandang sekaligus agar mudah dikenali.
Ciri-ciri pada lukisan gua ini juga memastikan bahwa hewan yang digambarkan bukanlah Babirusa, karena tidak memiliki taring spiral yang menjadi ciri khas spesies tersebut. Menariknya, para seniman purba juga menambahkan detail unik berupa dua tonjolan menyerupai puting atau jumbai berbulu di bagian leher babi. Detail anatomi yang konsisten ditemukan di beberapa gua berbeda ini membuktikan bahwa manusia purba pada masa itu memiliki pengamatan yang sangat tajam terhadap hewan buruan mereka dan telah memiliki standar gaya lukisan tertentu yang tersebar di wilayah Sulawesi.
3. Bagian dari sebuah "adegan"

Para peneliti meyakini bahwa lukisan di Leang Tedongnge bukan sekadar gambar hewan tunggal, melainkan sebuah komposisi cerita atau narasi visual. Di dekat sosok babi utama yang masih utuh, terdapat dua hingga tiga figur babi lain yang tampak saling berhadapan. Posisi babi-babi ini memberikan kesan seolah-olah mereka sedang berinteraksi atau melakukan aktivitas sosial, seperti sedang mengamati perkelahian antar sesama babi. Hal ini menjadi bukti kuat bahwa manusia purba pada masa itu sudah memiliki kemampuan kognitif tingkat tinggi untuk menyampaikan sebuah cerita melalui karya seni.
Karya seni luar biasa ini juga dibuat menggunakan pewarna alami berupa oker merah atau hematit yang menghasilkan warna merah tua hingga ungu. Menurut peneliti, sang seniman purba melukis menggunakan jari tangan mereka serta alat bantu tambahan, seperti kayu yang ujungnya ditumbuk hingga menyerupai kuas. Teknik ini berhasil menampilkan detail fisik babi kutil Sulawesi jantan secara akurat, yang menunjukkan ketelitian luar biasa dari pelukis masa prasejarah tersebut.
4. Teknik penentuan usia menggunakan metode Uranium-series

Para peneliti menentukan usia lukisan di Leang Tedongnge menggunakan metode ilmiah yang disebut penanggalan Uranium-series. Teknik ini tidak meneliti zat warna lukisannya secara langsung, melainkan menganalisis lapisan kristal kalsium karbonat, atau yang sering disebut "popcorn gua", yang tumbuh secara alami di atas permukaan gambar. Karena lapisan batuan ini terbentuk setelah lukisan selesai dibuat, maka usia lukisan tersebut dipastikan jauh lebih tua daripada lapisan batuan yang menutupinya.
Proses analisis dilakukan dengan mengukur peluruhan radioaktif uranium pada sampel batuan di laboratorium khusus di Australia. Salah satu sampel diambil dari bagian kaki belakang gambar babi hutan tersebut untuk mendapatkan estimasi usia minimum. Hasil penelitian ini secara akurat menunjukkan bahwa lukisan tersebut telah ada setidaknya sejak 45.500 tahun yang lalu, sehingga menjadikannya bukti sejarah yang sangat kuat mengenai awal mula kreativitas manusia.
5. Sebuah penemuan yang menggeser dominasi Eropa

Penemuan lukisan di Leang Tedongnge telah mematahkan anggapan lama bahwa pusat kreativitas manusia purba hanya berasal dari Eropa, seperti di Prancis atau Spanyol. Sebelum ini, lukisan di Gua Chauvet, Prancis (36.000 tahun), dianggap sebagai yang tertua, tetapi temuan di Sulawesi ini membuktikan bahwa tradisi seni yang kompleks sudah berkembang di Indonesia jauh lebih awal. Hal ini memberikan perspektif baru bagi para ahli bahwa kemampuan seni manusia modern mungkin sudah ada sejak mereka meninggalkan Afrika atau berkembang secara mandiri di Asia dan Eropa pada waktu yang bersamaan.
Selain itu, temuan ini menjadi potongan penting dalam teka-teki migrasi manusia purba menuju Nusantara dan Australia. Sebaran lukisan purba lainnya, seperti di Leang Balangajia 1 yang berusia 32.000 tahun, menunjukkan adanya kesinambungan budaya di kawasan Wallacea. Para peneliti juga meyakini bahwa masih banyak bukti arkeologis lain yang belum ditemukan di wilayah Kalimantan dan Sulawesi yang mungkin berusia setua fosil manusia di Sumatra (70.000 tahun). Penemuan ini sekaligus menegaskan bahwa Indonesia merupakan wilayah kunci dalam memahami sejarah panjang perjalanan dan peradaban manusia di dunia.
Penemuan luar biasa di Leang Tedongnge ini bukan sekadar tentang rekor lukisan gua tertua, melainkan bukti nyata bahwa nenek moyang kita di Nusantara telah memiliki kecerdasan dan kreativitas yang luar biasa sejak puluhan ribu tahun silam. Situs ini menjadi pengingat berharga bahwa Indonesia memegang peran kunci dalam sejarah peradaban manusia, di mana seni dan narasi mulai lahir dari dinding-dinding gua yang sunyi. Namun, ancaman pelapukan alami yang terus menghantui menjadi tantangan besar bagi kita semua untuk menjaga warisan dunia ini agar tetap lestari.


















