Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Kota Pompeii Bisa Terkubur Abu Vulkanik?
Potret kota Pompeii (unsplash.com/Andy Holmes)
  • Letusan Gunung Vesuvius tahun 79 M memuntahkan abu dan batu apung dalam jumlah besar, menutupi Pompeii yang berada tepat di jalur utama hujan material vulkanik.
  • Proses penguburan terjadi bertahap; abu dan batu apung menumpuk hingga bangunan runtuh, disusul awan panas yang menyapu kota dan menyebabkan banyak korban jiwa.
  • Lapisan abu vulkanik justru melindungi peninggalan Pompeii selama ribuan tahun, menjadikannya kapsul waktu berharga untuk memahami kehidupan masyarakat Romawi kuno.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pompeii dikenal sebagai salah satu kota kuno paling terkenal di dunia. Kota yang berada di dekat Naples, Italia, ini seakan tertinggal di masa lalu setelah letusan dahsyat Gunung Vesuvius pada tahun 79 M. Hingga kini, rumah-rumah, jalanan, lukisan dinding, bahkan benda-benda sehari-hari masih bisa ditemukan dalam kondisi yang sangat baik.

Lalu, kenapa Pompeii bisa terkubur begitu dalam oleh abu vulkanik? Jawabannya berkaitan dengan kekuatan letusan Gunung Vesuvius yang berlangsung dalam beberapa tahap, bukan hanya satu ledakan besar. Material vulkanik terus turun selama berjam-jam hingga akhirnya menelan seluruh kota.

1. Letusan Vesuvius menghasilkan awan abu yang sangat besar

Saat Gunung Vesuvius meletus, gunung tersebut memuntahkan kolom letusan raksasa yang menjulang tinggi ke atmosfer. Dari kolom ini, abu vulkanik, batu apung (pumice), serta berbagai material vulkanik lainnya tersebar ke wilayah sekitar.

Pompeii berada di sisi selatan Gunung Vesuvius, tepat di jalur utama hujan abu tersebut. Karena posisinya sangat dekat, kota itu menerima curahan material vulkanik dalam jumlah jauh lebih besar dibandingkan daerah yang lebih jauh.

Pada awal letusan, batu apung dan abu terus berjatuhan seperti hujan deras. Lama-kelamaan lapisannya semakin tebal hingga memenuhi jalanan dan halaman rumah.

2. Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa

Banyak orang membayangkan abu vulkanik seperti debu halus yang beterbangan. Padahal, abu vulkanik sebenarnya terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil.

Ketika keluar dalam jumlah besar, material ini mampu membentuk lapisan tebal hanya dalam waktu singkat. Bersama batu apung yang ukurannya lebih besar, timbunan tersebut membuat aktivitas warga menjadi semakin sulit.

Semakin lama, jalan-jalan tertutup, pintu rumah sulit dibuka, dan berat timbunan di atas atap mulai mengancam bangunan. Banyak atap akhirnya runtuh karena tidak mampu menahan beban abu dan batu apung yang terus bertambah.

3. Kota terkubur sedikit demi sedikit

Potret kota Pompeii (pexels.com/Alejandro Aznar)

Pompeii tidak langsung hilang dalam hitungan menit. Kota ini terkubur secara bertahap selama letusan berlangsung. Material vulkanik terus turun lebih cepat daripada kemampuan penduduk untuk menyelamatkan diri atau membersihkan lingkungan. Saat sebagian bangunan mulai roboh, puing-puing ikut menimbun bagian dalam rumah sehingga proses penguburan berlangsung semakin cepat.

Pada fase berikutnya, Gunung Vesuvius mengeluarkan awan panas atau pyroclastic surge. Fenomena ini berupa campuran gas bersuhu sangat tinggi, abu, dan material vulkanik yang meluncur dengan kecepatan luar biasa.

Awan panas tersebut menyapu Pompeii dan menjadi salah satu penyebab utama banyak korban jiwa. Setelah itu, lapisan abu dan material vulkanik terus menumpuk hingga menutupi jalan, kuil, rumah, pasar, serta berbagai bangunan penting lainnya.

4. Abu vulkanik membuat Pompeii tetap awet

Hal yang membuat Pompeii begitu istimewa adalah fakta bahwa material yang menghancurkannya juga menjadi penyebab kota tersebut tetap terjaga selama hampir dua ribu tahun. Lapisan abu vulkanik menutup kota dari udara, hujan, sinar matahari, serta aktivitas manusia. Kondisi ini memperlambat proses pembusukan dan kerusakan sehingga berbagai peninggalan Romawi tetap bertahan hingga sekarang.

Para arkeolog bahkan menemukan rongga-rongga di dalam lapisan abu yang merupakan bekas tubuh korban. Rongga tersebut kemudian diisi menggunakan plester sehingga menghasilkan cetakan tubuh manusia yang terkenal di seluruh dunia. Dari temuan inilah para peneliti dapat mempelajari bagaimana kehidupan dan detik-detik terakhir warga Pompeii saat bencana terjadi.

5. Pompeii menjadi kapsul waktu peradaban Romawi

Cara paling mudah membayangkan peristiwa ini adalah seperti sebuah kota yang tertutup selimut raksasa dari material vulkanik. Pada awalnya, "selimut" tersebut menghancurkan rumah-rumah, memutus jalur evakuasi, dan mengubur seluruh kota. Namun, setelah letusan berakhir, lapisan yang sama justru mengunci Pompeii dari pengaruh dunia luar sehingga bangunan, lukisan, peralatan rumah tangga, hingga tata kota Romawi tetap terpelihara selama berabad-abad.

Meski menjadi salah satu bencana paling dahsyat dalam sejarah Romawi, letusan Gunung Vesuvius justru meninggalkan warisan berharga bagi dunia. Berkat lapisan abu vulkanik yang mengubur Pompeii, para arkeolog kini bisa melihat gambaran kehidupan masyarakat Romawi kuno dengan detail yang luar biasa.

Referensi

My Modern Met. Diakses pada Juni 2026. How a Volcanic Eruption Preserved the Ancient Roman City of Pompeii
National Geographic. Diakses pada Juni 2026. Did Anyone Survive Pompeii?
The Mystery of History. Diakses pada Juni 2026. Pompeii—Buried by Ash!
Times of India. Diakses pada Juni 2026. The Story of Pompeii: A Roman Town That Got Buried Under Ash in a Single Day

Curated For You

Editorial Team

Related Article