Potret tanah di puncak gunung (pixabay.com/cernetice)
Di puncak gunung, tanah biasanya cuma lapisan tipis dari pelapukan batuan. Hampir tidak ada humus atau bahan organik. Tanah semacam ini miskin unsur hara esensial misalnya nitrogen, fosfor, dan kalium.
Air hujan yang turun di puncak cenderung mengikis dan membawa unsur hara ke bawah, bukannya menahannya. Alhasil, semakin ke atas, tanahnya semakin keras, kering, dan tandus. Tanah seperti ini cocoknya untuk lumut dan tumbuhan keras, bukan pohon besar.
Kalau dipikir-pikir, puncak gunung memang bukan tempat yang ramah bagi kehidupan, terutama untuk pohon-pohon tinggi yang biasanya mendominasi hutan. Dari suhu yang membeku hingga tanah yang gersang, semua jadi alasan kuat kenapa kita jarang dan nyaris tak pernah melihat pohon menjulang di titik tertinggi gunung.
Jadi, lain kali saat kamu mendaki dan melihat hamparan tanah tanpa pohon di puncak, kamu pasti sudah tahu bahwa alam sedang berbicara lewat sainsnya yang keren.
Sumber Referensi :
Kozlowski, T. T. (1985). Tree growth in response to environmental stresses. Arboriculture & Urban Forestry (AUF), 11(4), 97-111.
Stevens, G. C., & Fox, J. F. (1991). The causes of treeline. Annual review of ecology and systematics, 177-191.