Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Tidak Ada Suara di Luar Angkasa?
ilustrasi ruang angkasa (unsplash.com/Javier Miranda)
  • Suara membutuhkan medium seperti udara atau air untuk merambat, sedangkan ruang angkasa hampir sepenuhnya hampa sehingga gelombang suara tidak bisa berpindah dari satu titik ke titik lain.
  • Ledakan di luar angkasa tetap menghasilkan cahaya dan panas, tetapi tanpa udara, tidak ada suara yang dapat terdengar meski peristiwa tersebut terlihat sangat dramatis.
  • Astronot dapat berbicara di dalam pesawat karena ada udara di kabin, sementara komunikasi di luar dilakukan lewat gelombang radio yang tidak memerlukan medium udara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kalau kamu pernah menonton film fiksi ilmiah, pasti sudah tidak asing dengan adegan ledakan besar di luar angkasa yang disertai suara menggelegar. Kapal luar angkasa saling menembakkan laser, mesin meraung-raung, lalu terdengar dentuman dahsyat ketika sebuah pesawat meledak. Sayangnya, kenyataan di luar sana jauh berbeda.

Jika seseorang benar-benar berada di luar pesawat luar angkasa tanpa perlindungan, ia tidak akan mendengar ledakan, suara mesin, atau bahkan teriakan seseorang yang berada tidak jauh darinya. Ruang angkasa pada dasarnya adalah tempat yang hampir sepenuhnya sunyi. Namun, kenapa bisa begitu? Ini dia penjelasannya!

1. Suara membutuhkan "jalan" untuk bergerak

Agar suara bisa terdengar, ia membutuhkan medium atau perantara untuk merambat. Medium ini bisa berupa udara, air, atau benda padat lainnya.

Ketika seseorang berbicara, pita suaranya bergetar dan mendorong molekul udara di sekitarnya. Molekul-molekul tersebut kemudian menabrak molekul lainnya sehingga energi getaran berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam bentuk gelombang suara.

Telinga manusia menangkap gelombang tekanan tersebut dan otak menerjemahkannya menjadi suara yang kita dengar setiap hari. Karena itulah kita bisa mendengar orang berbicara, suara musik, atau bunyi kendaraan di Bumi yang dipenuhi udara.

2. Masalahnya, ruang angkasa hampir tidak memiliki materi

Ruang angkasa sering disebut sebagai vakum, yaitu kondisi yang hampir tidak memiliki partikel atau materi di dalamnya. Memang masih ada beberapa atom dan partikel yang tersebar di sana, tetapi jumlahnya sangat sedikit, bahkan jutaan kali lebih renggang dibandingkan udara di Bumi. Akibatnya, getaran suara tidak memiliki cukup partikel untuk "dititipi" energi agar bisa bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

Ibaratnya seperti mencoba membuat ombak di kolam yang tidak memiliki air. Energinya ada, tetapi tidak ada media yang dapat membawanya pergi. Itulah sebabnya suara tidak bisa merambat di ruang angkasa.

3. Apakah ledakan di luar angkasa tidak menghasilkan suara

ilustrasi stasiun ruang angkasa (pexels.com/SpaceX)

Ledakan di luar angkasa sebenarnya tetap menghasilkan energi dalam bentuk cahaya, panas, dan radiasi. Namun, karena tidak ada udara di sekitarnya, gelombang suara dari ledakan tersebut tidak dapat menjalar menuju pendengar.

Jika ada astronot yang berada di luar pesawat beberapa ratus meter dari lokasi ledakan, ia mungkin bisa melihat kilatan cahaya yang sangat terang, tetapi tidak akan mendengar suara apa pun. Pemandangannya mungkin terlihat dramatis, tetapi suasananya benar-benar hening.

4. Apakah ruang angkasa benar-benar sepi

Walapun sering disebut sunyi total, ruang angkasa sebenarnya tidak sepenuhnya kosong. Beberapa wilayah di alam semesta mengandung gas tipis dan plasma yang sangat renggang. Di lingkungan seperti ini, para ilmuwan dapat mendeteksi berbagai gelombang dan getaran menggunakan instrumen khusus. Namun, getaran tersebut bukanlah suara dalam pengertian sehari-hari yang dapat didengar langsung oleh telinga manusia.

Para peneliti biasanya mengubah data gelombang tersebut menjadi file audio agar manusia bisa mendengarkan aktivitas yang terjadi di luar angkasa. Inilah alasan mengapa terkadang muncul rekaman suara planet atau lubang hitam di internet. Yang terdengar sebenarnya bukan suara asli yang didengar manusia di ruang angkasa, melainkan hasil konversi data ilmiah menjadi bentuk audio.

5. Lalu bagaimana astronot bisa berbicara

Menariknya, suara tetap bisa terdengar di dalam pesawat luar angkasa. Hal ini karena kabin pesawat berisi udara, sama seperti ruangan di Bumi. Udara tersebut memungkinkan gelombang suara bergerak sehingga para astronot dapat berbicara, mendengar alarm, atau berkomunikasi dengan rekan mereka.

Saat melakukan aktivitas di luar pesawat, para astronot menggunakan radio untuk berkomunikasi. Gelombang radio tidak membutuhkan udara untuk merambat sehingga dapat bergerak melewati ruang hampa.

6. Bayangkan sebuah bel di dalam stoples vakum

ilustrasi stasiun ruang angkasa (pexels.com/Pixabay)

Cara paling mudah untuk memahami fenomena ini adalah dengan membayangkan sebuah bel yang dibunyikan di dalam wadah tertutup. Selama masih ada udara di dalam wadah, suara bel akan terdengar jelas. Namun, jika seluruh udara dikeluarkan hingga tercipta vakum, bel tersebut masih akan bergetar tetapi suaranya perlahan menghilang.

Bukan karena bel berhenti bekerja, melainkan karena tidak ada lagi udara yang membawa getarannya menuju telinga kita. Ruang angkasa bekerja dengan prinsip yang sama, hanya saja skalanya jauh lebih besar.

Jadi, alasan utama kenapa tidak ada suara di ruang angkasa sebenarnya sangat sederhana: tanpa udara atau materi sebagai perantara, suara tidak memiliki sesuatu untuk ditumpangi saat melakukan perjalanan.

Referensi 

Astronomy. Diakses pada Juni 2026. Is There Any Sound in Space? An Astronomer Explains
BBC Sky At Night Magazine. Diakses pada Juni 2026. Is Space Really Silent? Turns Out The Answer's Not As Simple As You Think
Metode. Diakses pada Juni 2026. Why Is There No Sound In Space?
The Conversation. Diakses pada Juni 2026. What Does Empty Space Sound Like? We Need Your Help to Find Out
The Wonder of Science. Diakses pada Juni 2026. There Is No Sound In Space

Curated For You

Editorial Team

Related Article