Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Krisis Iklim Bisa Bikin Biaya Hidup Makin Mahal, Kok Bisa?

4 min read
Krisis Iklim Bisa Bikin Biaya Hidup Makin Mahal, Kok Bisa?
ilustrasi lahan kering karena El Nino. (pexels.com/masudar rahman)
  • Krisis iklim dapat menaikkan harga pangan ketika kekeringan dan perubahan pola hujan mengganggu panen serta pasokan; produksi beras Indonesia turun dari 31,10 juta ton pada 2023 menjadi 30,62 juta ton pada 2024.
  • Suhu yang makin panas mendorong penggunaan kipas dan AC, sehingga konsumsi listrik rumah tangga berpotensi meningkat. Besar tagihan tetap dipengaruhi efisiensi perangkat, kondisi rumah, tarif, dan kebiasaan pemakaian.
  • Panas ekstrem meningkatkan kebutuhan layanan kesehatan: suhu rata-rata di atas 30°C dikaitkan dengan kenaikan kunjungan fasilitas kesehatan primer di Indonesia, termasuk untuk diabetes serta penyakit kardiovaskular.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aksi aktivis Greenpeace yang membentangkan banner raksasa di Bundaran HI, Jakarta, dengan pesan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” menyoroti hubungan antara kerusakan lingkungan dan beban ekonomi masyarakat. Krisis iklim sering dianggap hanya berkaitan dengan kenaikan suhu bumi, cuaca ekstrem, atau mencairnya es di kutub. Padahal, dampaknya bisa merambat hingga ke kebutuhan sehari-hari, mulai dari harga pangan, tagihan listrik, hingga biaya kesehatan.

Perubahan pola hujan dan suhu ekstrem, misalnya, dapat mengganggu produksi pertanian dan memengaruhi pasokan bahan makanan. Sementara itu, cuaca yang semakin panas bisa meningkatkan kebutuhan listrik untuk pendinginan dan memperbesar risiko gangguan kesehatan. Lantas, bagaimana krisis iklim bisa membuat biaya hidup makin mahal? Berikut tiga alasan ilmiahnya.

  1. 1. Harga pangan bisa naik akibat gagal panen dan gangguan produksi

    ilustrasi menanam padi
    ilustrasi menanam padi (pexels.com/Safari Consoler)

    Produksi pangan sangat bergantung pada kondisi cuaca, sehingga kekeringan dan perubahan pola hujan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman hingga menunda masa panen. Ketika tanaman kekurangan air, hasil panen berisiko menurun dan pasokan pangan bisa terganggu. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia turun dari 31,10 juta ton pada 2023 menjadi 30,62 juta ton pada 2024, atau berkurang sekitar 1,54 persen.

    Penurunan produksi ini menunjukkan adanya tekanan pada pasokan beras, meskipun tidak bisa seluruhnya dikaitkan dengan perubahan iklim. Salah satu fenomena iklim yang memengaruhi pertanian Indonesia adalah El Niño, yang mana dapat memicu kondisi lebih kering dan meningkatkan risiko kekeringan. Dilansir dari laporan Bank Dunia Indonesia Economic Prospects pada Juni 2024, kondisi kering akibat El Niño pada 2023 mengurangi dan menunda panen padi di Indonesia pada awal 2024.

    Gangguan panen tersebut turut menekan pasokan beras dan berkontribusi terhadap kenaikan harga pangan. Ketika pasokan berkurang sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, harga pangan berpotensi meningkat. Meski begitu, perubahan harga juga dipengaruhi faktor lain, seperti permintaan, biaya distribusi, dan kebijakan impor.

  2. 2. Tagihan listrik meningkat akibat kebutuhan pendinginan saat cuaca panas

    ilustrasi AC
    ilustrasi AC (pexels.com/NEOSiAM 18+)

    Saat suhu udara meningkat akibat perubahan iklim, masyarakat cenderung lebih sering menggunakan kipas angin atau AC untuk menjaga ruangan tetap nyaman. Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Scientific Reports pada 2023, peningkatan suhu akibat pemanasan global diperkirakan dapat mendorong penggunaan AC dan meningkatkan kebutuhan listrik di berbagai wilayah. Dalam skenario pemanasan tinggi hingga 2050, pertumbuhan penggunaan AC diproyeksikan menambah permintaan listrik tahunan sebesar 168 terawatt-jam di India dan 34 terawatt-jam di Eropa.

    Dilansir Badan Energi Internasional (IEA), suhu yang semakin panas mendorong peningkatan penggunaan AC, sementara perangkat yang tidak efisien membutuhkan lebih banyak listrik untuk menghasilkan pendinginan yang sama. Bagi rumah tangga, penggunaan AC lebih lama dapat meningkatkan konsumsi listrik dan berpotensi membuat tagihan membengkak jika tarif serta pola penggunaan lainnya tetap sama. Meski begitu, besarnya tagihan listrik juga dipengaruhi oleh efisiensi perangkat, kondisi rumah, tarif listrik, dan kebiasaan pemakaian, sehingga dampaknya tidak bisa disamaratakan untuk semua rumah tangga.

  3. 3. Biaya kesehatan bertambah akibat risiko penyakit yang dipicu panas ekstrem

    ilustrasi sakit
    ilustrasi sakit (pexels.com/cottonbro studio)

    Panas ekstrem tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya pelayanan kesehatan. Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Health Economics pada 2022, suhu rata-rata di atas 30 derajat Celsius berkaitan dengan peningkatan kunjungan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama di Indonesia. Penelitian tersebut menemukan bahwa kunjungan untuk semua penyebab meningkat 8 persen, sementara kunjungan terkait diabetes naik 25 persen dan penyakit kardiovaskular atau gangguan jantung dan pembuluh darah naik 14 persen.

    Kenaikan kunjungan ini menunjukkan bahwa cuaca panas dapat menambah kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan. Studi yang sama juga memproyeksikan bahwa perubahan suhu dapat menambah beban pembiayaan layanan kesehatan primer dalam program Jaminan Kesehatan Nasional hingga sekitar 25 juta dolar AS per tahun pada akhir abad ini dalam skenario emisi tinggi. Artinya, jika suhu terus meningkat, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan pengobatan, tetapi juga oleh sistem kesehatan yang harus menanggung kebutuhan layanan tambahan.

    Krisis iklim tidak hanya soal kerusakan lingkungan, tetapi juga peningkatan biaya hidup. Dampaknya mungkin terasa kecil dalam keseharian, tetapi sebenarnya dapat menumpuk dan membebani pengeluaran rumah tangga. Jadi, memahami dampak krisis iklim terhadap kehidupan sehari-hari menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong upaya adaptasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More