Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Hewan Pemakan Semut, Andalkan Lidah Panjang dan Cakar Kuat

4 min read
5 Hewan Pemakan Semut, Andalkan Lidah Panjang dan Cakar Kuat
tamandua, salah satu hewan pemakan semut (commons.wikimedia.org/Yohanjon 23)
  • Lima pemakan semut yang dibahas ialah giant anteater, trenggiling, echidna, aardvark, dan tamandua; mereka mengandalkan cakar kuat serta lidah panjang lengket untuk membongkar sarang dan menangkap mangsa.

  • Giant anteater, trenggiling, dan echidna memakai penciuman tajam untuk menemukan semut atau rayap, sementara ketiadaan gigi membuat mereka mengandalkan lidah dan mulut atau lambung untuk mengolah makanan.

  • Setiap hewan punya adaptasi berbeda: sisik pelindung trenggiling, duri echidna, kulit tebal aardvark, serta ekor pencengkeram tamandua yang mendukung pencarian makan di pepohonan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semut dikenal sebagai serangga yang hidup berkoloni dan sering kali bersembunyi di tempat yang sulit dijangkau. Namun, hal tersebut bukan masalah bagi sejumlah hewan yang menjadikan semut sebagai sumber makanan. Mereka memiliki kemampuan khusus untuk menemukan sarang, membongkar tempat persembunyiannya, hingga mengambil semut di dalamnya.

Untuk mendapatkan mangsa, hewan-hewan ini mengandalkan lidah panjang dan lengket serta cakar kuat yang membantu mereka membuka sarang semut. Kemampuan tersebut menjadi salah satu keunikan yang membuat mereka mampu memperoleh makanan dari tempat yang sulit dijangkau. Penasaran hewan apa saja yang memiliki kemampuan tersebut? Yuk, kenali lima hewan pemakan semut berikut ini!

  1. 1. Giant anteater

    giant anteater
    giant anteater (inaturalist.org/David Martin)

    Giant anteater merupakan hewan pemakan semut terbesar di dunia. Hewan yang berasal dari Amerika Tengah dan Selatan ini bisa tumbuh hingga sekitar 2,4 meter dari kepala sampai ujung ekornya. Uniknya, giant anteater tidak memiliki gigi. Ia mengandalkan penciuman yang sangat tajam untuk menemukan sarang semut dan rayap. Kemampuan penciumannya bahkan disebut sekitar 40 kali lebih kuat daripada manusia.

    Setelah menemukan sarang, giant anteater menggunakan cakar depannya untuk membukanya. Ia lalu menjulurkan lidah panjang dan lengket untuk mengambil semut serta rayap. Lidahnya dapat bergerak hingga sekitar 150 kali dalam satu menit. Namun, ia tidak akan berlama-lama di satu sarang karena semut bisa menyerang balik. Selain itu, giant anteater hidup soliter dan menggunakan cakar tajamnya untuk melindungi diri saat merasa terancam.

  2. 2. Trenggiling

    trenggiling
    trenggiling (inaturalist.org/Michael 2020)

    Trenggiling merupakan mamalia yang hidup di hutan dan padang rumput di Asia serta Afrika Sub-Sahara. Hewan ini mudah dikenali dari sisik keras yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Sisik tersebut terbuat dari keratin, bahan yang juga terdapat pada kuku manusia. Trenggiling aktif mencari makan pada malam hari. Karena penglihatannya kurang baik, hewan ini lebih mengandalkan penciuman untuk menemukan semut dan rayap.

    Saat menemukan sarang, trenggiling menggunakan cakar depannya yang kuat untuk membukanya. Ia kemudian memakai lidah yang panjang dan lengket untuk mengambil semut serta rayap di dalam sarang. Hidung dan telinganya juga dapat menutup saat menggali sehingga tanah dan debu tidak mudah masuk. Uniknya, trenggiling dapat menggulung tubuhnya menjadi bola saat merasa terancam. Sisik kerasnya kemudian melindungi bagian tubuh yang lebih rentan dari serangan pemangsa.

  3. 3. Echidna

    echidna
    echidna (pexels.com/Mark Thomas)

    Echidna merupakan kelompok mamalia asli Australia dan Papua Nugini. Hewan ini termasuk mamalia yang bertelur, sama seperti platipus. Tubuhnya dipenuhi duri tajam yang berguna untuk melindungi diri dari bahaya. Echidna juga memiliki penciuman yang tajam untuk menemukan semut dan rayap yang menjadi makanan utamanya.

    Saat mencari makan, echidna menggunakan moncong dan cakarnya untuk membuka sarang semut dan rayap. Setelah itu, ia memakai lidah yang panjang dan lengket untuk mengambil mangsanya. Lidah tersebut dapat mencapai sekitar 17 sentimeter. Karena tidak memiliki gigi, echidna mengandalkan lidah dan bagian dalam mulutnya untuk mengolah makanan.

  4. 4. Aardvark

    aardvark
    aardvark (commons.wikimedia.org/Dave Brown)

    Aardvark merupakan mamalia asal Afrika yang aktif mencari makanan pada malam hari. Makanan utamanya adalah semut dan rayap. Untuk mendapatkan mangsanya, aardvark menggunakan cakar depannya yang kuat untuk membongkar sarang. Saat menggali, ia juga dapat menutup lubang hidungnya agar debu dan serangga tidak masuk.

    Setelah sarang terbuka, aardvark menggunakan moncong dan lidahnya yang panjang serta lengket untuk mengambil semut dan rayap. Lidahnya dapat mencapai sekitar 30 sentimeter dan dilapisi air liur yang membuat serangga mudah menempel. Kulitnya yang tebal membantu melindungi tubuh dari gigitan semut. Uniknya, aardvark memiliki lambung berotot yang membantu menghancurkan makanan sehingga tidak perlu banyak mengunyah.

  5. 5. Tamandua

    tamandua
    tamandua (inaturalist.org/Instituto Últimos Refúgios)

    Tamandua merupakan kerabat giant anteater yang berasal dari Amerika Selatan. Hewan ini lebih sering berada di atas pohon dan memiliki ekor yang dapat mencengkeram dahan. Bagian bawah ekornya tidak berbulu sehingga membantu tamandua menjaga keseimbangan saat berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya. Kemampuan tersebut membuatnya cukup lincah saat bergerak di pepohonan.

    Di atas pohon, tamandua mencari semut dan rayap yang berada di dalam sarang. Ia menggunakan cakar depannya untuk membuka sarang, lalu mengambil serangga dengan lidah panjang yang bisa mencapai sekitar 40 sentimeter. Uniknya, tamandua tidak memiliki gigi dan memiliki mulut yang sangat kecil. Makanan yang ditelan kemudian dihancurkan dengan bantuan lambung yang berotot sebelum dicerna.

    Meski sama-sama mengandalkan lidah panjang dan cakar kuat untuk mendapatkan semut, setiap hewan memiliki keunikan tersendiri. Ada yang menggunakan penciuman tajam untuk menemukan sarang, ada pula yang memiliki adaptasi khusus untuk mencari makan di pepohonan. Berbagai kemampuan tersebut menunjukkan bagaimana hewan menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kebutuhan hidupnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More