Burung pelatuk mematuk pohon (pexels.com/Ganaj)
Burung pelatuk mampu memukul hampir 17 hingga 20 ketukan per detik dan akan melakukan 10 hingga 30 ketukan sebelum beristirahat. Ketukan yang dilakukan hingga ribuan kali ini pelatuk pukulkan pada batang pohon yang sangat keras. Uniknya, burung pelatuk tidak cedera, gegar otak, atau mengalami masalah pada kepalanya sama sekali.
Setiap kali memukul, tengkoraknya yang kecil menyerap gaya maksimum 1.400 kali gaya gravitasi. Gaya benturan yang dihasilkan mirip dengan palu pneumatik mini, diketahui kepalanya bergerak dengan kecepatan 24 km/jam. Alasan mengapa pelatuk tidak mengalami gegar otak adalah karena tengkoraknya yang didesain seperti helm, di mana otak kecil burung pelatuk pas berada di dalam tengkorak dan tidak dapat bergeser di dalam lapisan cairan di sekitarnya.
Selain itu, tengkoraknya memiliki lapisan dalam yang berpori dan lapisan luar yang padat yang telah berevolusi untuk melindungi otak. Tengkorak ini lebih baik menyerap guncangan dan menyebarkan energi yang dihasilkan selama mematuk, mencegah transmisi langsung ke otak. Tengkorak burung pelatuk telah berevolusi menjadi helm yang pas dan permanen.
Tidak hanya desain tengkoraknya, lidah juga berperan penting mengapa burung pelatuk tidak gegar otak saat mematuk. Ibaratnya, lidah pelatuk berfungsi layaknya sabuk pengaman, di mana burung pelatuk mampu menarik lidah kecilnya ke dalam tengkorak, meskipun lidah mereka mungkin sepanjang sepertiga panjang tubuhnya. Lidah ini memiliki tujuan untuk melindungi otak dengan melilitnya hingga kembali ke antara kedua mata. Lidah mereka juga dapat mengencang, menciptakan semacam sabuk pengaman di sekitar jaringan saraf burung yang halus.
Lebih dari itu, bagian paruhnya juga berfungsi sebagai peredam kejutan. Burung pelatuk memiliki paruh yang tajam dan padat dengan sedikit tonjolan di bagian atas. Ini berfungsi sebagai pahat dan dapat menembus kayu keras. Paruh ini juga menyerap sebagian besar dampak dari pemukulan dengan mendistribusikan kembali kekuatannya ke seluruh tubuh burung, bukan ke kepalanya.
Sebagai penutup, burung pelatuk mematuk pohon ribuan kali demi mencari makanan berupa serangga atau larva yang tersimpan di balik permukaan kulit pohon. Diketahui, burung pelatuk tau mana pohon yang sekiranya menyimpan banyak serangga di dalamnya, seperti pohon buah-buahan, pohon pinus, dan cemara. Uniknya, burung ini tidak gegar otak berkat desain tengkorak, lidah, dan paruhnya yang berfungsi layaknya peredam kejutan.