"How Muslims Determine When Ramadan Begins Each Year" Religion Unplugged. Diakses pada Februari 2026.
"Why Does Ramadan’s Date Change Each Year?" Orphan is Need. Diakses pada Februari 2026.
"The reason why Ramadan begins on a different date every year" Time Out. Diakses pada Februari 2026.
"Scientific Arguments of the Unified Global Hijri Calendar" Muhammadiyah. Diakses pada Februari 2026.
Mengapa Kalender Ramadan Selalu Maju? Ini Sains di Balik Tahun Hijriah

- Kalender Hijriah didasarkan pada siklus Bulan sekitar 29,5 hari per bulan, menghasilkan total 354 hari per tahun, lebih pendek sekitar sebelas hari dibanding kalender Masehi.
- Perbedaan panjang tahun membuat Ramadan maju sekitar 10–12 hari setiap tahun dalam kalender Masehi, sehingga dalam beberapa dekade bisa berpindah antar musim.
- Siklus 33 tahun menyebabkan Ramadan berputar melewati semua musim di bumi, namun tetap konsisten dimulai pada tanggal yang sama dalam kalender Hijriah.
Ramadan sering terasa datang lebih cepat setiap tahun jika dilihat dari kalender Masehi, bahkan selisihnya bisa sekitar 10 hari. Itulah kenapa, dalam beberapa dekade bulan puasa dapat berpindah dari musim hujan ke kemarau, lalu kembali lagi ke titik awalnya. Fenomena ini bukan sekadar perbedaan penanggalan biasa, melainkan berkaitan langsung dengan cara manusia mengukur waktu melalui gerak benda langit.
Sistem kalender yang digunakan dalam penentuan Ramadan mengikuti siklus Bulan, sedangkan kalender yang dipakai sehari-hari mengikuti perjalanan Bumi mengitari Matahari. Perbedaan inilah yang membuat tanggal Ramadan selalu bergeser lebih maju dalam kalender Masehi meskipun tetap konsisten di kalender Hijriah. Berikut penjelasan lengkapnya.
1. Kalender Hijriah mengikuti peredaran Bulan mengelilingi Bumi

Kalender Hijriah dihitung berdasarkan waktu yang dibutuhkan Bulan untuk menyelesaikan satu siklus fase, mulai dari new moon hingga kembali ke fase yang sama. Satu siklus tersebut rata-rata berlangsung sekitar 29,5 hari sehingga satu bulan Hijriah memiliki 29 atau 30 hari secara bergantian. Jika dikumpulkan menjadi 12 bulan, totalnya hanya sekitar 354 hari dalam 1 tahun. Angka ini lebih pendek sekitar sebelas hari dibanding kalender Masehi.
Selisih itulah yang membuat tanggal Hijriah terlihat maju setiap tahun ketika disandingkan dengan kalender solar. Dalam praktiknya, awal bulan Hijriah tidak hanya dihitung secara matematis, tetapi juga dikaitkan dengan kemunculan hilal, yaitu sabit bulan muda setelah conjunction. Karena posisi bulan sangat dinamis terhadap bumi dan matahari, kemunculan hilal bisa berbeda sedikit antarwilayah. Hal ini menjelaskan mengapa awal Ramadan terkadang tidak serempak di seluruh dunia meskipun sistem dasarnya sama.
2. Kalender Masehi bertumpu pada revolusi Bumi mengitari Matahari

Kalender Masehi menggunakan acuan waktu yang sama sekali berbeda karena didasarkan pada lamanya Bumi menyelesaikan satu putaran mengelilingi Matahari. Satu siklus revolusi bumi membutuhkan sekitar 365,24 hari sehingga kalender ini memiliki 365 hari dengan tambahan 1 hari setiap 4 tahun. Penambahan ini dikenal sebagai leap year, bertujuan menjaga keselarasan kalender dengan posisi bumi di orbitnya. Sistem tersebut membuat tanggal dalam kalender Masehi relatif tetap terhadap musim.
Perbedaan acuan inilah yang menjadi akar utama pergeseran Ramadan. Karena kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari, maka setiap tahun Ramadan meloncat lebih awal dalam kalender solar. Dalam jangka panjang, pergeseran ini terus terakumulasi hingga mencapai 1 bulan penuh. Akibatnya, Ramadan bisa berpindah dari pertengahan tahun Masehi ke awal tahun, lalu kembali lagi dalam siklus tertentu.
3. Selisih panjang tahun menyebabkan pergeseran sekitar 11 hari

Jika selisih panjang tahun Hijriah dan Masehi dihitung secara sederhana, hasilnya sekitar 10–12 hari per tahun. Selisih ini tidak terasa besar dalam 1 tahun, tetapi menjadi sangat jelas ketika diamati dalam rentang 5 hingga 10 tahun. Dalam 1 dekade, Ramadan bisa berpindah hampir 4 bulan lebih awal dalam kalender Masehi. Itulah sebabnya generasi berbeda bisa merasakan puasa pada musim yang sangat berbeda.
Secara matematis, pergeseran ini dapat dijelaskan melalui akumulasi selisih hari setiap tahun. Setelah sekitar 33 tahun Masehi, jumlah selisih tersebut setara dengan 1 tahun penuh. Pada titik itu, Ramadan kembali mendekati waktu yang sama seperti tiga dekade sebelumnya dalam kalender solar. Siklus panjang ini dikenal sebagai siklus perputaran kalender lunar terhadap kalender solar.
4. Siklus 33 tahun membuat Ramadan berputar melewati semua musim

Karena pergeseran berlangsung terus-menerus, Ramadan tidak terikat pada musim tertentu dalam kalender Masehi. Dalam siklus sekitar 33 tahun, bulan puasa akan melewati seluruh variasi musim di bumi. Di wilayah subtropis, hal ini sangat terasa karena panjang siang dapat berubah drastis antara musim panas dan musim dingin. Fenomena ini menunjukkan bahwa kalender lunar sepenuhnya independen dari perubahan musim.
Perputaran musim ini menjadi bukti bahwa sistem Hijriah murni mengikuti dinamika Bulan tanpa penyesuaian terhadap Matahari. Berbeda dengan beberapa kalender lain yang menambahkan bulan kabisat untuk menjaga keselarasan dengan musim, kalender Hijriah tidak melakukan koreksi semacam itu. Akibatnya, tanggal Ramadan benar-benar bergerak bebas terhadap kalender solar. Inilah ciri khas utama kalender berbasis lunar.
5. Tanggal Ramadan tetap konsisten di kalender Hijriah

Meskipun terlihat terus bergeser dalam kalender Masehi, Ramadan sebenarnya selalu dimulai pada tanggal yang sama dalam kalender Hijriah. Setiap tahun, bulan puasa selalu dimulai pada 1 Ramadan dan berlangsung hingga akhir bulan tersebut. Konsistensi ini terjadi karena seluruh sistem penanggalannya mengikuti siklus Bulan yang sama setiap tahun. Jadi, perubahan hanya terlihat ketika dibandingkan dengan kalender solar.
Hal ini menegaskan bahwa jatuhnya Ramadan terlihat maju sebenarnya hanyalah efek perbandingan dua sistem waktu berbeda. Jika seseorang hanya menggunakan kalender Hijriah, tidak akan ada kesan bahwa Ramadan berpindah-pindah. Fenomena tersebut baru terlihat ketika dua sistem kalender disandingkan. Dengan kata lain, pergeseran Ramadan adalah konsekuensi alami dari perbedaan cara manusia mengukur waktu di langit.
Ramadan selalu maju dalam kalender Masehi karena kalender Hijriah mengikuti siklus bulan yang lebih pendek daripada siklus revolusi bumi terhadap matahari. Selisih sekitar sebelas hari tiap tahun membuat bulan puasa terus bergerak hingga akhirnya kembali ke titik awal setelah puluhan tahun. Jika waktu saja bisa berbeda hanya karena cara menghitungnya, pernah terpikir bagaimana manusia sejak dulu menentukan sistem penanggalan yang digunakan hingga sekarang?
Referensi


















